Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for August, 2008


Published August 30th, 2008

Soft Skills, Kegiatan Ekstrakurikuler, dan Karir di Masa Datang

Kemarin, tepatnya, Kamis, 28 Agustus 2008, UG mengadakan seminar sekaligus sosialisasi Program Pengembangan Kemampuan Soft skills Bagi Mahasiswa Universitas Gunadarma. Program Pengembangan Softskills Bagi Mahasiswa adalah Program yang mendapat hibah dana dari Direktorat Kelembagaan Dirjen Dikti Depdiknas tahun 2008. Alhamdulillah, UG termasuk yang memperoleh hibah tersebut. Soalnya, saya mendengar proposal yang masuk ke Dikti dari perguruan tinggi seluruh Indonesia lumayan banyak. Saya juga mendengar dari seorang reviewer bahwa yang layak mendapat hibah untuk tahun 2008 sebenarnya ada sekitar 50 proposal. Ternyata yang disetujui dan mendapat hibah hanya 32. 

UG, tanpa atau dengan hibah, sebenarnya tetap berupaya mengembangkan soft skills mahasiswa melalui berbagai cara dan kegiatan. Diantaranya, melalui kegiatan ko- dan ekstra- kurikuler. Bisa melalui organisasi mahasiswa (ORMAWA) maupun yang tidak melalui ORMAWA. UG mendukung adanya lembaga kemahasiswaan, organisasi atau unit kegiatan yang cocok untuk setiap minat, bakat, kesenangan dan tujuan karir yang mungkin bagi setiap mahasiswa.Walaupun demikian, banyak mahasiswa yang masih menganggap bahwa kegiatan ekstrakurikuler atau terlibat dalam ORMAWA hanya akan mengganggu konsentrasi belajar, membuang waktu, dan tidak ada gunanya. Padahal organisasi dan atau unit kegiatan yang ada dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sarana untuk mengembangkan atribut soft skills yang dimiliki menjadi soft skills yang baik dan bisa mendukung langkah menuju cita-cita karir kelak. Dengan adanya hibah, tentu program pengembangan soft skills di UG bisa lebih banyak, lebih beragam dan lebih cepat dilaksanakan. Semoga kesempatan ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh seluruh sivitas akademik di UG.

 Saya jadi teringat masa-masa ketika mahasiswa di Jogja dulu. Jadwal kuliah dan praktikum yang padat tidak pernah menyurutkan teman-teman saya untuk tetap aktif mengadakan kegiatan. Karena teman-teman yang bersemangat seperti mereka itulah saya jadi ikut-ikutan terlibat. Kadang-kadang jadi panitia, tidak jarang jadi peserta saja, dan suatu kali pernah juga menjadi pengurus ORMAWA (Hm… jadi ”semangat” itu bisa menular lho). Seingat saya, teman-teman yang aktivis itu tetap mempunyai prestasi akademik yang baik. Sekarang, saya menyadari bahwa jadwal kuliah yang padat, praktikum yang ketat (tidak boleh praktikum kalau tidak lulus tes pendahuluan), tugas membuat makalah dan mempresentasikannya, quiz dadakan, ditambah kegiatan ekstrakurikuler yang beragam justru membuat kita selalu awas dan siaga. Saya tidak mau IPK terlalu jelek (bisa-bisa disuruh pulang kampung) tapi tidak ingin melewatkan kesenangan berkumpul bersama teman-teman, diskusi ini itu, rapat, merencanakan sesuatu, atau jadi suporter (karena tidak pernah terpilih jadi pemain) sepak bola, basket, voli, marching band, nonton pertunjukan musik gratis di kampus, nonton film (yang agak kadaluarsa di bioskop pinggirian supaya murah), baca novel (kadang numpang di toko buku karena tidak bisa beli), dan sebagainya. Sibuk amat? Percayalah. Saya bukan orang paling sibuk di angkatan saya. Banyak yang jauh lebih aktif dari saya dan toh prestasinya jauh lebih baik dari saya (Hai Ario, Tari, Arief, Rini, Eko… apa kabar kalian semua?). Jadi bagaimana? Menurut pengamatan saya, ini menyangkut intrapersonal dan interpersonal skills. Menyangkut ketrampilan manajemen, visi, misi, komitmen, dan disiplin pribadi di satu sisi dan ketrampilan kerjasama dan komunikasi dengan orang lain di sisi lain.

 Waktu itu, belum ada (atau belum populer ya?) istilah soft skills. Tapi dalam suatu kesempatan bertemu dengan PR III (yang sangat jarang terjadi), beliau pernah mengatakan, ”Coba kamu hitung waktu dan tenagamu!”. Terus terang, saya sering keteteran karena masih menganggap bahwa tidur 8 jam itu kewajiban. ”Seperti bayi saja”, lanjut beliau. Selama ini, saya selalu merasa bersalah kalau tidur saya kurang. Takut sakit. Maklum, jauh dari orang tua. Jadi prioritasnya adalah tidur 8 jam, sisanya untuk kegiatan lain. Wah, saya jadi tertantang. Apa betul saya butuh 8 jam tidur? Jika ya, kapan? Intinya adalah manajemen waktu dan pikiran. Begitu menurut beliau.

 He he… Mudah dikatakan, sulit dilaksanakan. Satu-satunya yang agak sukses saya kerjakan adalah tidak bolos kuliah dan tidak mengulang praktikum (jangan sampai deh ketinggalan acara yang satu ini. Bisa super ribet urusannya!). Di luar urusan kuliah dan praktikum, saya masih berantakan. Kadang lupa makan, kadang cuma bengong atau bersungut-sungut kalau menunggu rapat yang ngaret waktunya…  

 Suatu kali, saya pernah juga disemprot oleh seorang dosen gara-gara cara saya bicara yang kurang pas (Ini Jogja neng, berbahasa Indonesia yang baik kadang masih dianggap kurang sopan). Saat itu saya diminta oleh teman-teman untuk mencari pembicara untuk suatu seminar. Dosen ini menurut kami cukup kompeten untuk menjadi nara sumber di acara tersebut. Saya yang mahasiswa rada culun harus berhadapan dengan dosen yang namanya sering ditulis di koran-koran? Senewenlah pasti. Sudah berlatih berkali-kali sebelum ketemu beliau. Begitu berhadapan, mulut terkunci, pikiran buntu! Ha ha… Yang keluar dari mulut benar-benar kacau. Setelah diomelin panjang pendek, lumayan, seperempat jam saya dapat kuliah tambahan, bagaimana berkomunikasi dan bernegosiasi yang baik. Alhamdulillah… Beruntung saya dapat pelajaran berharga tersebut.

 Terus terang, saat itu, saya tidak selalu menyadari apa gunanya berbagai kegiatan yang saya ikuti, tetap nggrundel juga dengan kuliah dan praktikum plus laporannya itu, jengkel dengan tugas membuat makalah yang tidak pernah ada habisnya, stress dengan quiz yang tidak tahu kapan munculnya. Tapi sekarang, saya dapat mengatakan bahwa:

 Fokus

Kegiatan ekstrakuler dapat memberikan kontribusi yang sangat besar dalam resume kita. Apalagi jika kita sudah menentukan target karir yang mungkin akan ditekuni kelak. Kita bisa mengidentifikasi organisasi atau posisi dalam organisasi yang akan mengarahkan pada tujuan tersebut. Misalnya, jika kita berpikir tentang karir di bidang keuangan nantinya, maka jadilah bendahara suatu organisasi atau unit kegiatan, terserah organisasinya bergerak di bidang apa. Jika kita bertugas menjadi seksi publikasi dalam suatu kegiatan maka kita melangkah lebih dekat ke karir di bidang periklanan atau public relations (hubungan masyarakat). Menulis newsletter atau pers release untuk organisasi atau kegiatan yang diselenggarakan organisasi, tidak peduli apa pun subyeknya, mestinya akan membuat resume kita lebih mengesankan bila kelak ingin bekerja sebagai jurnalis.    

 Komitmen

Keterlibatan dalam organisasi kampus akan lebih menunjukkan komitmen kita pada bidang karir tertentu. Keikutsertaan dalam komunitas ekonomi syariah menunjukkan pada perusahaan bahwa kita mengerti tentang bisnis syariah. Aktif di komunitas pemrograman misalnya, menunjukkan bahwa kita senantiasa berupaya di atas standar dalam bidang itu. Keterlibatan dalam badan eksekutif mahasiswa menunjukkan ketertarikan kita pada politik atau layanan publik. Mengajar anak jalanan, misalnya, tidak hanya membuat kita tahu bagaimana cara mengajar yang baik tetapi juga menunjukkan hasrat kita untuk memberikan pendidikan pada orang lain.

 Asah Ketrampilan dan Dapatkan Pengalaman Memimpin

Buat mahasiswa yang sedang mempertimbangkan untuk bergabung dengan ORMAWA atau sedang memilih aktivitas ekstrakurikuler untuk menyalurkan minat, bakat, hobi, dan kegemaran sekaligus mengembangkan soft skills yang diperlukan dalam pengembangan karir anda kelak, mungkin beberapa hal ini berguna bagi anda:

-         Identifikasi ketrampilan yang anda butuhkan untuk karir anda kelak dan usahakan mencapai posisi dalam organisasi kampus yang dapat mengasah ketrampilan yang diperlukan tersebut

-         Jika anda belum yakin dengan karir anda nanti, pandang organisasi kampus sebagai jalan untuk mencoba berbagai macam tipe dan bidang pekerjaan sehingga bisa membantu anda memutuskan karir anda kelak

-         Cobalah untuk menjadi ketua dalam organisasi daripada hanya sebagai anggota. Pemberi kerja senang dengan orang mempunyai pengalaman leadership yang kuat

-         Jika anda tidak punya waktu untuk menjadi ketua organisasi (atau jika anda tidak terpilih), tetap cari kesempatan pengalaman memimpin, misalnya dengan menjadi ketua panitia dalam suatu kegiatan

-         Dapatkan beragam pengalaman ekstrakurikuler selama kuliah. Banyak pemberi kerja (perusahaan) yang senang dengan orang yang memperlihatkan bahwa dia bisa bekerja sama dengan berbagai macam orang dalam berbagai kegiatan. Hal ini juga memperlihatkan bahwa anda adalah orang yang mempunyai banyak minat

-         Keanggotan dalam organisasi kampus merupakan komponen penting dalam keseluruhan pengalaman anda (disamping pengalaman pernah bekerja paruh waktu dan magang). Pilih dengan bijaksana, dan kerjakan dengan antusias. Keterlibatan dalam berbagai kegiatan di kampus dapat memperkuat resume anda seperti halnya pengalaman di luar kampus, dan dapat mempertemukan anda dengan orang-orang  yang mungkin tidak dapat anda jumpai apabila anda tidak terlibat dalam organisasi.

Published August 25th, 2008

Massa

Benarkah cuma ada dua pilihan:

Apatis atau ikut arus?

Sebab menjadi manusia bebas

adalah pengorbanan dan kesendirian

Suatu keterasingan yang cuma kita

sendiri yang tahu maknanya

Di panggung kita terbiasa

menjadi massa yang bergerak

tanpa nama

dan berpupur tebal

Pengikut setia sang tokoh

memberi arti kehebatan sang tokoh

tapi, inilah Sang Peran!

Published August 19th, 2008

Program Kreativitas Mahasiswa 2009

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2009 sudah dibuka. Pengumuman sudah ditempel di papan pengumuman di semua kampus, disebarkan melalui studentsite, diberitahukan juga kepada para calon dosen pembimbing (semoga semakin banyak yang bersedia) melalui staffsite…

Tahun 2008,  11 tim mahasiswa UG berhasil mendapatkan dana dari DIKTI untuk PKM ini (4 PKMM, 1 PKMK, 6 PKMT). Meningkat lumayan banyak dibanding tahun 2007  yang meloloskan 2 kelompok PKM  (1 PKMM dan 1 PKMT)  yang didanai. Untuk diketahui, setiap proposal PKM bisa didanai hingga maksimum Rp 6 juta.

Untuk yang berminat mengikuti PKMI (PKM Penulisan Ilmiah)  sabar dulu. PKMI biasanya diumumkan di awal tahun nanti. Memang tidak ada salahnya untuk bersiap-siap lebih dulu. Jadi bagi yang sudah punya topik untuk ditulis sebagai PKMI, boleh juga segera memulai menulis… Nah, untuk PKMI, DIKTI memberikan hadiah Rp 3 juta bagi yang lolos (naik dari Rp 2 juta tahun 2007). Pada tahun 2008, ada 4 kelompok PKMI yang berhasil memperoleh dana tersebut (Untuk kelompok yang menang PKMI, sabar yaaa… dananya belum sampai ke UG).

Berikut adalah pengumuman yang dikeluarkan oleh Bidang Kemahasiswaan UG tentang PKM 2009:

PENGUMUMAN

No: 009/PU/PR-III/UG/VIII/2008

Tentang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2009

Dimumkan kepada semua mahasiswa jenjang S1 dan D3 dari semua jurusan/program studi di Universitas Gunadarma, dibuka kesempatan untuk mengajukan usulan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang akan didanai tahun 2009 yang diselenggarakan oleh Direktorat  Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Dirjen DIKTI Depdiknas.

Proposal yang diajukan harus berorientasi pada PKM Penelitian (PKMP), PKM Pengabdian Masyarakat (PKMM), PKM Kewirausahaan (PKMK), dan PKM Penerapan Teknologi (PKMT).

Persyaratan:

1. Setiap proposal dibuat oleh kelompok mahasiswa,

2. Tiap kelompok terdiri dari 3-5 orang mahasiswa yang berasal dari paling sedikit dua angkatan berbeda,

3. Kelompok mahasiswa dapat berasal dari bidang studi yang berbeda atau dari program studi yang sama,

4. Mahasiswa anggota kelompok pengusul harus terdaftar aktif di semester 1-5 (mahasiswa D3) atau semester 1-7 (mahasiswa S1) pada PTA 2008/2009,

5. Penyusunan proposal dilakukan di bawah bimbingan 1 (satu) dosen pendamping,

6. Mengikuti sistematika dan format penulisan yang tercantum dalam Panduan PKM di alamat  http://dp2m-dikti.net.

Bagi mahasiswa/kelompok mahasiswa yang berminat dapat menyerahkan 1 (satu) eksemplar proposal, untuk diperiksa kelengkapannya sebelum diperbanyak sesuai ketentuan, ke:

Bidang Kemahasiswaan Universitas Gunadarma

Ruang D427 - Gedung 4 Lantai 2

Kampus D - Pondok Cina

Jl. Margonda Raya No 100 Depok

Telp. (021) 78881112 ext 454.

Paling lambat Hari Selasa, Tanggal 16 September 2008,

Pukul 14.00 WIB.

Untuk mendapat keterangan lebih lengkap, mahasiswa yang berminat dapat menghubungi Bidang Kemahasiswaan pada alamat di atas.

Depok, 12 Agustus 2008

Bidang Kemahasiswaan

Published August 15th, 2008

Waktu

Waktu, sobat

Mempertemukan dan memisahkan

Siapa yang peduli katamu waktu itu?

Ternyata kamu tidak salah

Dia juga membuat kangen.

Tapi siapa yang tidak rindu sama kamu?

Pada desahan sulingmu…

Jangan sesali hidup! Ejekmu

Tapi kamu hentakkan juga “Jeaulousy” pada piano butut itu

(Sebenarnya aku tidak pernah bisa menebak lagunya).

Lalu, apa yang kamu kerjakan sekarang?

Diskusi tentang gelandangan di pinggir kali

Sambil mencecap eskrim sapharila dua puluh ribu perak?

Boleh juga sesekali menikmati ironi!

Bah! Bah! Bah! Ngakak pula kamu

Sejutu kutu busuk boleh terlontar

Kita memang generasi iseng!

Seharusnya aku tersinggung

Tapi ini harimu

Maka dimana pun kamu berada

Cuma doa yang kukirim buatmu

Sambil berharap, waktu besok

Giliran memmpertemukan.

(dengan kenangan pada semua kejadian pahit-manis-sayang bersama yang pernah kita alami, pada semua topik diskusi yang kadang tidak penting yang kita perbincangkan dengan serius bahkan sengit, pada keheningan ketika kata-kata tidak lagi punya makna, pada sahabatku tercinta, Aty Savitri, yang menjadi korban tragedi bom Bali I… Ah, kamu masih sempat mengabarkan kepulanganmu malam itu…

Save, aku tidak yakin bisa menggambarkan kehilanganku, tapi rasanya aku bisa mengabarkan pada semua orang: Kamu adalah sahabatku. Kejujuranmu pada dunia sering mengejutkanku. Optimismemu pada hidup sering mengagetkanku. Tapi itulah kamu. Yang tak pernah ragu pada apa yang kautuju. Aku belajar tentang itu darimu.

Mestinya, tanggal 15 ini kamu berulang tahun. Semoga kamu berisitirahat dalam damai. Aku yakin kamu tidak pergi. Kamu sudah pulang…)

Published August 11th, 2008

City of Joy

Malu. Ya. Membaca buku ini, aku jadi amat malu.

Betapa aku masih sering mengeluh dengan apa yang aku punya atau aku peroleh.
Betapa aku masih sering gusar karena tidak bisa atau belum memiliki sesuatu.
Betapa marah, sedih, nelangsa, dan perasaan tidak puas lebih sering menguasai karena keinginan yang tidak tercapai. Hasrat yang tidak terpenuhi.

Buku ini mengingatkanku dengan telak.

Betapa sering aku lupa, bahwa apa yang kudapat dan kupunya saat ini adalah anugerah.

cityofjoy.jpgHasari Pal, salah satu tokoh protagonis dalam buku ini, dan keluarganya, menunjukkan bagaimana seharusnya kita lebih bersyukur atas apa yang kita dapat daripada menyesali apa yang tidak kita peroleh. Begitu juga dengan seluruh penghuni perkampungan kumuh di Calcutta, yang diberi nama Anand Nagar atau Negeri Bahagia, yang hidup dengan kondisi yang sangat terbatas, jika tidak bisa disebut serba kekuarangan, tetapi selalu bisa berbagi di antara mereka.

Kita sering membaca buku atau cerita tentang kemiskinan. Nah, buku ini tidak sekedar menggambarkan kemiskinan dan kaum yang terpinggirkan karena kepapaan atau penyakit yang ditakuti, lepra. Bukan kekurangan dan penderitaan itu yang lebih mengemuka melainkan sikap hidup. Dengan segala keterbatasan yang ada, mereka masih selalu bisa menemukan alasan untuk tersenyum bahkan merayakan kehidupan.

“Persetan dengan kesengsaraan asalkan kita bersama-sama menanggungnya.”

(Pepatah India)

 

Judul Buku: Negeri Bahagia (Judul Asli: City of Joy)

Penulis: Dominique Lapierre

Penerbit: Bentang

Tahun: 2008

Penerjemah: Wardah Hafidz

Published August 7th, 2008

Kereta Api Cepat Solo - Senen

Pria dan wanita. Tua dan muda. Semua berhimpitan dalam gerbong yang sesak dan pengap, dengan wajah-wajah yang letih karena beban dunia (ah, aku toh tidak berhak mengadili siapa pun).

Aku sendiri berjuang keras untuk mendapatkan sisa udara untuk memuaskan paru-paruku. Kuhirup pula hawa asin dan apak yang menguar dari tubuh yang terpanggang. Keringatpun luntur bersama peluh yang mengucur.

Inilah wajah-wajah negeri ini, kataku.

Yang tak pernah gusar dengan segala kesumpekan, yang rela dengan segala yang ada, yang tak pernah rewel dengan segala keterbatasan.

Yang setia menyimpan harapan pada kemerdekaan.

Kataku tak bersambut apa-apa.

Mereka memang tidak butuh pidato picisan.

Mereka lebih suka mencecap es teh lima ratus perak dari kantong plastik bening nan segar. Tanpa ekspresi.

Tapi sesungguhnya pun aku tidak sedang bicara pada mereka.

Aku bicara padamu!

Betapa tak sabar dan tersiksanya kamu selama perjalanan.

Bersentuhan dengan peluh dunia yang mengeras memang membuat hati giris.

Betapa berbedanya dengan dunia yang biasa melingkupimu.

Betapa keras usahamu menahankan semua ini.

Kereta ini merayap seperti ulat! Umpatmu.

Tidakkah kamu ingin merasakan juga bagaimana rasanya jadi ’orang kebanyakan’?

Tiap orang punya tempatnya sendiri! Katamu tandas.

Oh lagi-lagi kamu benar.

Tapi bagaimana aku bisa sembunyikan kekecewaanku?

Samar-samar ada Patrick Juvet dengan ”Another Lonely Man”

He is just another lonely man/though he has everything

But in spite of all his fame and wealth/he‘s very unhappy…

Kamu mengangguk-angguk sambil tersenyum…

Mmm… Ya, setidak-tidaknya kita sepakat: that’s a nice song

(Buat mbak Dinpu dan dik Simi, jadi sempat juga punya pengalaman mengesankan (atau mengesalkan) toh? He he…)


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.