Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for July, 2008


Published July 30th, 2008

Susahnya Jadi Konsumen

Pepatah boleh bilang: Pembeli adalah Raja. Kenyataannya: Penjual lah yang berkuasa.

Menjadi konsumen itu tidak mudah. Di luar masalah susahnya cari uang untuk membeli. Menjadi konsumen tetaplah tidak mudah. Pertama, kita harus siap menghadapi harga barang yang tinggi tapi tidak sesuai dengan mutu yang diharapkan. Kedua, walau maksudnya membeli barang asli, masih ada kemungkinan kita mendapatkan produk palsu atau setidaknya asli tapi palsu (aspal). Ketiga, sulit sekali meminta pertanggungjawaban penjual kalau barang yang kita beli ternyata rusak atau cacat.

Beberapa waktu yang lalu, aku membeli beberapa buku di Gramedia Depok. Salah satunya adalah Kisah Air Mata dari Catherine Lim terbitan Bentang.

Aku baru menyadari kalau buku yang kubeli adalah produk yang seharusnya tidak lolos Quality Control (QC) beberapa hari setelah membeli, pada saat aku baca buku tersebut. Ada sekitar 16 halaman yang hilang… Tentu saja acara membaca jadi tidak nyaman sama sekali. Aku menelpon ke Gramedia menanyakan apakah aku bisa minta tukar. Petugas Customer Service (CS) mengatakan, “Nanti akan dihubungi kalau persediaan bukunya sudah ada.” Rupanya stok di toko habis. Petugas CS yang menerima telpon juga mengingatkan tentang struk pembayaran dan barcode buku.

Seminggu lewat… Tidak ada berita. Jadi aku datangi toko dengan membawa buku yang sudah kubeli tapi tidak lengkap kubaca itu. Kembali petugas CS menjelaskan tentang prosedur penukaran: 1) ada struk atau barcode, 2) buku dalam kondisi baik. Aku tidak bisa memenuhi kriteria pertama. Tapi aku ceritakan bahwa aku pernah mengalami kejadian serupa dan langsung dipersilakan menukarnya dengan yang baru, tanpa bukti struk atau apa pun (Barangkali karena waktu itu petugas mengenaliku (wuah GR nih!) sebagai salah satu pelanggan). Petugas CS bersikeras mengatakan tidak bisa dan memanggil supervisor.

Pada saat itu ada pelanggan lain dengan kasus yang sama (bahkan buku yang sama dari penerbit yang sama!). Dia sudah mendatangi toko sebelumnya dan dijanjikan akan diberi tahu lewat telepon jika buku sudah ada, atau boleh menukarnya dengan buku lain yang harganya sama oleh supervisor yang bertugas saat itu. Karena sudah lewat sepuluh hari tidak ada yang menelepon, dia pun mendatangi toko. “Saya tidak diminta membawa struk!” katanya agak galak. Jadilah kami berdua berhadapan dengan CS dan Supervisor yang bertugas pada hari itu.

Kepada pelanggan yang satu lagi, supervisor berkata, “Kalau ibu memang dijanjikan boleh menukar dengan buku lain, silakan ibu mencari petugas yang menjanjikan…” Kami berdua tertawa. Sambil jengkel sebenarnya. Seuri koneng, ceuk urang Sunda mah. Aneh betul sarannya. Kepadaku supervisor berkata, “Harus ada struk atau barcode toko, Bu…”. Teteeep… Aku bilang, “Pak, kok kita ini seperti beli kucing dalam karung? Kita tidak boleh membuka plastik dan setelah beli kami tidak boleh menukar jika produknya cacat?”.

Diskusi alot. Supervisor bilang akan komplain ke penerbit yang sembrono. Lha, aku komplain sama siapa? Apakah toko tidak berkepentingan dengan kualitas barang yang dijualnya? Akhirnya, setelah adu argumen lagi, kami berdua, diperbolehkan menukar buku. Ahhh… Terima kasih ya, Pak Supervisor! Akhirnya…

Sudah selesai? Belum. Karena buku yang sama tidak ada, aku terpaksa menukarnya dengan judul lain yang harganya lebih mahal. Jadi aku harus membayar kelebihan harganya. Saat transaksi di kasir, petugas kasir bilang, “Periksa dulu bukunya ya, jadi kalau ada halaman yang tidak lengkap bisa diganti sekarang.” Aku nyengir. Walau pun baik dan ada benarnya, agak nggak umum aturan mainnya. “Harus begitu?”. Bisa dibayangkan jika kita membeli beberapa buku dengan 300-600 halaman… Bisa-bisa antrian memeriksa buku lebih panjang dari pada antrian membayar, kan?

Ketika aku menceritakan pengalamanku ini pada teman-temanku, seorang temanku mengatakan bahwa dia punya pengalaman yang sama. Bedanya, dia tidak berhasil menukar bukunya yang tidak lengkap itu walau pun bisa menunjukkan struk pembayaran. Alasannya: sudah terlalu lama! Sayang sekali…

Jadi, buat teman-teman yang biasa membeli buku, untuk sekedar berjaga-jaga:

1. Simpan baik-baik struk/bukti pembelian, apalagi jika buku tidak segera dibaca setelah dibeli

2. Jangan buang barcode yang tertempel di plastik sampul buku. Ambil dan tempelkan pada bukunya, terutama jika struk terlanjur dibuang

3. Jaga kondisi buku tetap baik.

Published July 24th, 2008

Hari Anak Nasional

Tanggal 23 Juli Hari Anak Nasional? Jadi teringat ketika masih anak-anak dan ikut karnaval. Memperingati Hari Anak dengan berdandan ala orang dewasa lalu berpawai di jalan raya…

karnaval-hari-kanak-kanak.jpg

Saat itu kami berbaris di jalan raya antara Cirebon - Bandung yang ramai dan tambah ramai karena ada anak-anak berjalan lambat-lambat berpakaian daerah. Berdandan sejak pagi, dan mulai bosan ketika hari tambah panas dan pakaian yang dikenakan terasa berat dan menyesakkan. Semangat lagi ketika di barisan penonton, teman-teman, saudara, ayah-ibu, mengelu-elukan barisan pasukan cilik dari beberapa SD di Jatiwangi ini…

Nah, ternyata sejak sekian tahun yang lalu, laki-laki berdandan perempuan juga sudah ada lho. Bahkan sangat bombastis. Karena temanku itu didandani seperti sedang mengandung tujuh bulan sambil menggendong bayi (boneka tentu saja) yang belum setahun, he he…

Kemana ya teman-temanku dari SD Negeri Sutawangi I Jatiwangi Majalengka yang sama-sama ikut karnaval ini?


Published July 22nd, 2008

Cerita adalah Cermin

Cerita adalah cermin. Mungkin kamu benar, List.

Kita sedang bicarakan buku apa waktu itu, Kisah Lima Keluarga*?

Atau malah kisah kita sendiri?

Aku tidak heran melihatmu terheran-heran dengan tulisanku

”Ini kamu yang tulis?”, tanyamu dengan kening berlipat-lipat

Aku tertawa. Pasti kamu sedang menganalisa dengan teori-teori psikologimu

Manusia, menurut teoriku sendiri, terlalu banyak segi untuk dapat dipahami sepenuhnya

Mungkin kita bisa mengerti satu sisi, tapi kita masih saja tertegun ketika melihat sisi yang lain, bukan?

 

List, apakah kamu berpikir tentang ”aku yang lain” ketika membaca ”gerundelanku” (istilahmu untuk tulisanku kan?)

Atau kamu mau bilang bahwa mungkin justru inilah ”Aku yang sebenarnya”?

Berarti salah satu diantaranya adalah palsu? Kalau begitu aku ini apa, atau yang mana?

 

Cerita adalah cermin. Mungkin kamu benar, List

Tapi cermin bisa datar, cekung, atau cembung

Jadi, bisa saja cerita juga cuma cerita walau pun

Mungkin bisa juga lebih dari sekedar cerita

 

Inilah salah satu seginya manusia:

Membuat yang sulit menjadi mudah

dan sebaliknya membuat yang mudah menjadi sulit

 

*Kisah Lima Keluarga merupakan sebuah gambaran tentang kehidupan keluarga-keluarga miskin serta sebuah keluarga “Orang Kaya Baru” di Mexico City. Dalam bukunya, Oscar Lewis membahas kehidupan bangsa Amerika Latin pada umumnya, baik dari segi antropologis, psikologis maupun sosiologis. Kemiskinan pada bangsa modern sepertinya menciptakan subkultur tersendiri. Kemiskinan ini juga menunjukkan pertentangan kelas, masalah-masalah sosial, dan perlunya perubahan.  

 

Judul : Kisah Lima Keluarga (Judul asli: Five Families)

Penulis : Oscar Lewis

Kategori : Fiksi

Penerbit: Yayasan Obor

Tahun : 1988

Published July 22nd, 2008

Selintas Tuban

Tuban (84)

Helaan nafas menandai malam

telah sampai di ujungnya

Bulan perak di atas ombak

Aku terjaga dengan senyummu

berbingkai pekat

 

(Bus terguncang melindas batu dan lubang)

 

Perjalanan, selalu membawa cerita

Memang ada kubawa gelisah ke tepimu

dalam perjalanan menuju kota

Engkau ingin bersaksi tentang sejarah manusia?

Biar kuadukan kesetiaannya

dalam ketidakpastian

 

(Dia ada di sisiku membaca gelap pantai berbatu)

Published July 16th, 2008

Ketika Hati Harus Memilih

Ketika seseorang berdiri di persimpangan jalan, apa yang akan dilakukannya? Mundur tidak mungkin, sedang diam bukanlah tindakan bijaksana…?

ericov.jpg“Ketika kau sedang sendiri di rumah, Eugenio, dan kau mendengar suara di lantai bawah, kau segera mengira itu pencuri, dan kau ketakutan. Jika kau tidak pergi ke bawah dan memeriksa, kau akan ketakutan sepanjang malam. Kau tidak dapat tidur, atau kau tidur tetapi tak nyenyak dan bermimpi buruk. Yang paling baik, kau pergi ke bawah dan memeriksa sampai yakin, suara itu tadi suara kursi terbalik karena kucing. Kemudian kau dapat naik kembali ke tempat tidur dan tidur lelap.”

- Olivia Miranda pada Eugenio Fontes.

Eugenio Fontes, mestinya bisa berbahagia sekarang. Hidup bergelimang kemewahan bersama istrinya yang cantik, Eunice Cintra, anak konglomerat Vicente Cintra. Dari seorang anak penjahit miskin yang bersekolah dengan celana bolong dan pakaian compang-camping, dia telah menjelma menjadi seorang Dokter Eugenio Fontes. Mestinya memang tidak ada yang perlu dikeluhkan lagi.

Ketika Hati Harus Memilih adalah kisah tentang pergulatan seorang anak manusia menemukan makna kebahagiaan. Kisah tentang Eugenio Fontes yang mencoba terlepas dari jerat kemiskinan, rasa rendah diri, dan sikap sinis pada dunia.

Tapi, apakah mengabaikan ayahnya, Angelo Fontes, penjahit tua dan miskin, yang berdiri di seberang jalan melegakannya? Apakah mengusir Ernesto, adik satu-satunya, sang bajingan cilik, membebaskannya? Apakah menikahi Eunice Cintra menyelamatkannya dari hidup yang pahit? Apakah dia akan kembali pada cinta yang menyejukkannya, Olivia Miranda?

Sungguh, memilih bukan perkara yang sederhana…

Erico Verissimo, sastrawan Brazillia, menuliskan kisah ini dengan sangat memukau. Dialihbahasakan oleh Masri Maris.

 

Judul : Ketika Hati Harus Memilih (Judul Asli: Consider the Lilies of the Field)

Penulis : Erico Verissimo

Kategori : Fiksi

Penerbit : PT Gramedia

Tahun : 1990

Published July 12th, 2008

Lapar


Ada banyak orang yang sebenarnya sudah kenyang tapi masih saja menunjukkan sikap seperti orang kelaparan.

Orang yang secara obyektif tergolong cukup kaya tetapi tetap merasa miskin.

Ternyata, penyakit kelaparan dan penyakit kemiskinan bukan hanya milik orang miskin

Published July 9th, 2008

The Prince of Tides

“Pencurian bukanlah kejahatan yang sulit untuk dimaafkan, kecuali kalau pencurian itu adalah terhadap masa kecilmu…”

Apa yang kamu ingat dari masa kecilmu? Kamu bisa saja tutup mulut dan tidak mengatakan apa-apa. Tapi kamu tidak bisa berbohong. Sesuatu yang terjadi pada masa lalu tidak bisa dihapus hanya dengan menguburnya dalam rawa-rawa, atau membakar catatannya hingga menjadi abu. Sebab ia akan tetap melekat erat pada tubuh dan terutama jiwamu.

Sejarah, kalau masa lalu itu boleh dibilang sebagai sejarah, adalah kebenaran dan kenyataan. Bukan hanya karena kita mau mengakuinya, tetapi dari mula karena sejarah adalah kebenaran itu sendiri. Tidak peduli kamu mengakuinya atau tidak.

Lalu, bagaimana kamu bisa menjelaskan tahun-tahun yang hilang? Tahun yang tanpa jejak. Bukan karena tidak menyisakan tanda apa pun, tetapi karena tanda itu tidak pernah dilihat sebagai tanda. Tak ada catatan. Tak ada bukti. Hanya luka yang tidak tahu dimana tepatnya tapi pasti, di suatu tempat dalam jiwa. Membongkarnya memerlukan keberanian luar biasa. Satu-satunya cara adalah menghadapinya. Mungkin agak sedikit nyeri.

Hidup memang tidak mudah dan penuh kejutan. Masa datang begitu tak pasti. Misteri. Tapi barangkali, kita dapat lebih memahaminya kalau kita menggenggam masa lalu kita. Bulat. Utuh.

prince.jpgAdalah Tom Wingo, guru dan pelatih football yang tinggal bersama istrinya yang mencintai orang lain di Carolina Selatan. Tom pergi ke New York ketika kembarannya, Savannah Wingo, seorang penulis puisi terkenal, mencoba bunuh diri untuk kesekian kalinya. Dia diminta oleh psikiater yang menangani adiknya ini, Dr. Susan Lowenstein, untuk bertindak sebagai memori sang adik dan membongkar kembali kejadian di masa lalu yang mungkin menyebabkan Savannah beberapa kali mengalami gangguan emosional dan kehilangan identitas.

Tom dan Susan sendiri kemudian saling jatuh cinta. Mereka bekerja sama untuk menolong Savannah. Saat harus membantu Susan menolong Savannah, Tom harus berjuang untuk menyibakkan sejarah hidupnya sendiri yang pahit… Lalu, kita pun akan menemui banyak pribadi unik lainnya dalam keluarga Wingo, Luke, Henry, dan tentu saja Lila…

 

Judul : Pangeran Pasang Laut (judul asli: The Prince of Tides)

Penulis : Pat Conroy

Kategori : Fiksi

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 1996

Published July 4th, 2008

ORMAWA, Berani Berkarya?

Mengapa tidak banyak mahasiswa yang terjun dan aktif dalam organisasi mahasiswa (ORMAWA)? Atau setidak-tidaknya, mau mengikuti kegiatan ekstra kurikuler? Jawabnya tentu bervariasi. Salah satunya mungkin seperti yang disampaikan oleh seorang pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UG ini, ”Mahasiswa terlalu study oriented.” Atau seperti dikemukakan oleh pengurus UKM lainnya, ”Jadwal kuliah dan praktikum terlalu padat. Perlu dibuat hari khusus untuk berorganisasi.”

Benarkah? Jawaban yang tepat barangkali harus dicari melalui penelitian (Ayo, ada yang mau meneliti?). Tapi dari pengamatan sekilas, jawaban terlalu study oriented itu mungkin ada benarnya. Ketika aku dan teman-teman di Bidang Kemahasiswaan mengajak mahasiswa yang IPKnya 3 koma sekian untuk ikut membuat proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan DIKTI, beberapa di antaranya menjawab, ”Ah nanti kuliah saya terganggu!”

Diskusi ini mengemuka pada pertemuan antara Bidang Kemahasiswaan dengan para pemimpin ORMAWA di UG tanggal 18 Juni lalu.

Aktif di ekstra kurikuler memang membutuhkan pengorbanan. Waktu, tenaga, pikiran, dan sering kali juga uang, adalah pengorbanan yang mungkin harus kita berikan. Padahal hasilnya belum tentu tunai, terasa saat ini juga. Aku jadi ingat kekhawatiran seorang dosenku di Jogja dulu, ”Bagaimana kalau mahasiswa CUMA peduli pada kuliah, cepat lulus, kerja, kaya, kawin… terus hidup happily ever after?” Aku pikir, apa salahnya mahasiswa berpikir seperti itu? Buatku, setiap orang boleh dan bisa mengejar cita-cita dan kepuasannya sendiri. Tapi, kurasa aku nggak akan puas hanya dengan mengejar nilai bagus. Dan rasanya yang hadir dalam pertemuan dengan Bidang Kemahasiswaan saat itu pun punya gambaran lain tentang hidup mahasiswa. Itulah sebabnya mereka sekarang menjadi pengurus ORMAWA dan aktif di kegiatan ekstra kurikuler.

Lalu aku jadi teringat untuk mengutip Murray Butler. “I divide the world into three classes: the few who make things happen, the many who watch things happen, and the overwhelming majority who have no notion of what happen” (Murray Butler, pemenang hadiah nobel, pernah menjadi Presiden Columbia University). Pernyataannya agak aku belokkan sedikit: Ada tiga jenis mahasiswa: segelintir yang membuat peristiwa (berkarya), sekelompok yang melihat peristiwa terjadi, dan sebagian besar yang tidak peduli pada peristiwa apa pun yang terjadi.

Berharap para mahasiswa pemimpin ORMAWA UG ini mempunyai semangat untuk berkarya, tidak hanya sekedar menonton, apalagi tidak peduli pada dunia sekitarnya. Aku yakin mereka punya kemauan dan kemampuan untuk itu.



Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.