Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for June, 2008


Published June 29th, 2008

Sunda Kelapa

Ke Kota kemudian naik ojek sepeda ke Sunda Kelapa? Di kampung sendiri, aku belum pernah naik ojek, apalagi naik ojek sepeda. Tapi Jakarta memang serba ada. Di Jakarta, semuanya bisa. Dari yang gemerlap sampai yang tinggal sisa-sisa…

Musium Fatahillah, Pelabuhan Sunda Kelapa lengkap dengan kapal layar motor yang bersandar dan sedang bongkar muat, Jembatan Kota Intan, dan Musium Bahari adalah sebagian yang bisa dikunjungi di daerah itu.

Published June 28th, 2008

Sembunyi

Dulu, Kos, si “Indo Belanda Tukang Becak”, sering teriak-teriak padaku, “Lihat! Lihat!” Aku tahu, kalau aku melihat maka nampaklah pula segala. Sebab memang tidak ada yang ingin menyembunyikan. Tidak ada yang berniat mengelabui (hm?).

Sekarang, kamu berkata tentang hal yang sama, walau dalam kondisi yang berbeda, “Apa kamu tidak melihat?”. Rupanya aku dianggap tidak pernah membuka mata, apalagi hati. Kenyataannya pun aku cuma mengintip saja dari balik pintu.

Mereka memainkan apa saja.

Justru itu yang aku tidak ingin tahu.

Persembunyian yang paling baik adalah tidak tahu.

Published June 25th, 2008

The House of the Spirits

the-house.jpg

So you can understand the relationship between events,” begitu Carla bilang, memberi alasan mengapa dia menulis catatan setiap waktu.

The House of the Spirits tidak hanya bercerita tentang keluarga Trueba, terutama sekali para perempuan dari tiga generasi Trueba: Clara, Blanca (anak perempuan satu-satunya Clara dengan Esteban), dan Alba (anak perempuan, juga satu-satunya, dari Blanca).

Bagaimana tiga perempuan ini, yang terlihat rapuh, tapi dengan caranya sendiri berhasil membebaskan diri dari dominasi Esteban.

Tapi ini juga tentang kemarahan dan kesetiaan, kekuatan cinta dan juga benci. Keterasingan.

Itulah Esteban. Sulit untuk menyukai Esteban. Kemarahannya menyebabkannya terasing dari orang-orang yang dia cintai. Jauh dari keluarga dan tanpa teman. Tak ada orang yang ingin terlalu dekat dengannya. Itulah  Esteban Trueba, sosok paling egois tapi justru paling menarik. Esteban yang menolak anak laki-laki di luar nikahnya dan mengabaikan anak dari pernikahannya yang sah karena perbuatan yang tidak menyenangkannya, bisa memperlihatkan cinta yang begitu besar pada Alba, cucunya. Pada akhir cerita, Esteban menjadi pribadi yang cukup simpatik.

Tak disebutkan dimana tepatnya cerita ini mengambil tempat dan kapan, tetapi sangat mungkin mengisahkan tentang Chile, negara dari mana Isabel Allende berasal. Kudeta militer adalah salah satu penanda yang dapat diasosiakan pada peristiwa yang terjadi pada masa Presiden Salvador Allende pada sekitar tahun 1973. Tapi rentang waktu cerita the House of the Spirits jauh sebelum dan sesudah itu. Sekitar 70 tahun.

Memang, kemudian, Alba dan anggota keluarga lainnya dapat memadukan potongan-potongan sejarah keluarga mereka yang sebenarnya berdasarkan catatan Clara.

 

Judul : The House of the Spirits

Penulis : Isabel Allende

Kategori : Fiksi

Penerbit : Bantam Books

Tahun : 1993

Published June 19th, 2008

Tokoh-Tokoh Munafik

Sebuah Pijakan.

Adakah orang yang berhasil menjangkau ranting tanpa berpijak pada bumi?

Segala sesuatu ada awalnya: Sebuah pijakan untuk melompat.

Sebuah sejarah untuk bergerak ke masa depan.

Ketika Antonio Samson “memutuskan” untuk mati, dia berpikir tentang tindakan penuh keberanian, kepahlawanan. Semacam pemberitahuan bahwa sesungguhnya dia masih bisa melawan.

Tak ada keputusasaan atas kegagalannya, jika dia pernah berpikir tentang kegagalan memperjuangkan jati dirinya. Dia punya acuan untuk itu.

Carmen Villa, istrinya, “memilih” menjadi tuli karena dia menolak apa saja pembicaraan tentang dia dan terutama Toni, dia tidak mau mendengar apa yang menjadi sebab dari peristiwa itu.

Barangkali sebagai tindakan penyucian dosa atau pertanggungjawaban.

Dia menghukum dirinya sendiri.

Jadi dia punya peristiwa sebagai referensi yang mendasari keputusannya.

Tapi semua tokoh dalam buku ini memang seperti judulnya.

Judul : Tokoh-Tokoh Munafik

Terjemahan: Hartojo Andangdjaya

Judul asli: The Pretenders

Penulis : F. Sionel Jose.

Kategori: Fiksi

Penerbit: Pustaka Jaya

Tahun: 1981

Published June 17th, 2008

Ironi

Ternyata, ada orang yang tidak maklum dengan hatinya sendiri

Tapi merasa tahu semua tentang orang lain.

Published June 16th, 2008

Malu Bertanya Sesat di Jalan

Malu bertanya sesat di jalan. Pepatah yang sederhana bunyinya tersebut tentu tidak hanya dimaksudkan untuk mereka yang sedang di jalan dan kebingungan mencari tempat tetapi tidak ingin tersesat. Pepatah tersebut berlaku juga di segala tempat dan pada berbagai kesempatan kalau kita tidak ingin tersesat (dalam hidup).  

Menurut pengalaman saya pribadi, beberapa hal yang sering menjadi alasan mengapa orang malu bertanya adalah: 

1. Takut merepotkan

Kadang-kadang pertanyaannya tidak terlalu sulit untuk dijawab tetapi memang merepotkan, apalagi jika yang ditanya sedang sibuk memasak, mencuci atau sedang menulis paper yang tenggatnya tinggal beberapa hari atau beberapa jam lagi. 

2. Takut dianggap bodoh

Banyak bertanya juga menimbulkan potensi untuk dipermalukan. “Kok masih tanya, belum mengerti juga?” Kalau kita menggeleng-geleng dengan sepenuh hati, tanggapan berikutnya bisa berbunyi: “Ya ampun… Bego amat sih!” Nah, daripada dibego-begoin lebih baik diam. 

 3. Takut tambah bingung

Pernah kan kita bertanya dan dijawab tetapi malah tambah tidak paham? ”Kantor A dimana ya?” Jawabannya bisa jadi “Oh… jalan terus ke arah Timur nanti ada perempatan ambil yang ke Selatan, nah kira-kira dua ratus meter ada pertigaan, belok kiri, jangan ambil yang lurus. Kantor A kurang lebih 500 meter dari situ, dekat Apotik B.” Walau petunjuknya lengkap, orang bisa tetap kebingungan. Setelah tersesat, berputar-putar hampir separuh kota, orang dengan mudah kehilangan orientasi timur, barat, utara dan selatan. Begitu juga saat di kelas. Setelah kuliah tentang forex pada matakuliah manajemen keuangan internasional, saya bertanya bagaimana cara yang paling aman bermain di bursa falas. Dosen yang cerdik cendekia, gagah berwibawa menjawab mantap dengan teori canggih A sampai Z. Bukannya paham, saya malah tambah pusing…(walaupun pusingnya saya ini harus saya akui bukan kesalahan dosennya). 

4. Takut dikira tidak sopan

Pada suatu waktu saya pernah ditegur. “Kok tanya? Nggak sopan, tau!” Ada hal-hal sensitif yang memang sebaiknya tidak ditanyakan (secara langsung), misalnya, ”Ibu umurnya berapa?” atau, ”Cincin yang anda pakai itu imitasi ya?”. Walau begitu sering kali ada alasan yang tidak terlalu jelas mengapa kita dibilang tidak sopan hanya karena bertanya.

5. Gengsi

Malu bertanya bisa jadi menyangkut gengsi. Daripada dikira udik, kampungan dan sejenisnya (padahal memang dari udik atau kampung), lebih baik diam (tepatnya: bingungnya diam-diam). Saya pernah bolak-balik naik turun lift di salah satu gedung megah di bilangan Sudirman sebelum akhirnya saya tahu bagaimana caranya menggunakan lift tersebut. Gengsi dong nanya  

6. Tidak tahu bagaimana bertanya

Nah, yang ini pengalaman setelah saya jadi pengajar. Setiap kali selesai satu topik saya akan bertanya, “Ada pertanyaan?” Biasanya begitu pertanyaan itu saya ajukan serempak para mahasiswa itu menunduk membolak-balik catatan (entah pura-pura entah serius, wong kadang-kadang mereka tidak mencatat) atau menoleh ke kanan ke kiri lalu menggeleng-geleng kepala. Anehnya begitu kelas dinyatakan selesai, beberapa mahasiswa menghampiri meja dan bertanya. “Kok tadi diam saja?” Tanya saya. Mereka pun tersenyum malu-malu, “Bingung nanyanya…” 

Cerdas Bertanya

Jadi urusan bertanya memang ada aturan, cara, dan etikanya sendiri supaya tidak sampai dibilang bodoh, tidak sopan, walau barangkali tetap agak merepotkan bagi yang ditanya. Jangan juga karena gengsi dan malu kita jadi bodoh dan tidak sopan beneran dan kesasar kemana-mana.

Sekarang kalau mau bertanya:

1.  Pahami situasi, lalu pilih orang yang tepat untuk ditanya. Sebingung-bingungnya kita, jangan sampai kita bertanya pada orang yang sedang terburu-buru mengejar bus atau kereta atau yang kelihatannya sama bingungnya dengan kita

2. Pakai bahasa yang tepat. Ini bukan semata-mata masalah tata bahasa, tapi juga kosa kata yang (kira-kira) dipahami oleh orang yang kita tanya. Kalau tersesatnya di Pasar Baru, misalnya, jangan bertanya pakai Bahasa Jawa. Jangan sampai ber-elu gue saat bertanya pada dosen di kelas, meskipun tanyanya pada dosen yang kelihatannya paham bahasa gaul.

3. Tetap santun. Bertanyalah dengan sopan, siapa pun yang kita tanya. Jangan sampai orang yang kita tanya berkomentar, “Kamu itu tanya, ceramah apa marah sih?”

 

Published June 13th, 2008

Antara Cirebon - Jogja

 

Di Atas Fajar (I)

Sambil mengusap peluh dan menahan lapar

Aku mengangguk malas

Mendengar kamu bicara tentang cinta dan setia

Debu menyeruak dari kaca jendela

Menerobos setiap celah paru-paru

Pepat, menyesakkan

Pada siang yang terik

Apa cinta itu sobat?

Diakah itu yang membuat manusia

Rela menderita

Menunda mati?

Kamu masih bicara tentang kekasih

Bermata sendu

Berwajah murung

Sementara kangenku pun pada sebentuk wajah

yang lain

 

Di Atas Fajar (II)

Katamu

Kebahagiaan adalah kesedihan

Dan kekecewaan

Cuma tipu daya manusia

Untuk bertahan pada hidup

Setia pada harapan

Kataku

Aku tidak peduli

Sebab kesedihan adalah

Sebentuk kebahagiaan yang lain

Published June 9th, 2008

Little Red Riding Hood

Sahabatku,

Pada suatu masa, ada seorang gadis yang sangat tidak pedulian. Namanya Little Red Riding Hood. Pada suatu hari, ketika dia mengunjungi neneknya, dia disambut oleh seekor serigala yang memakai baju malam neneknya. “Besar sekali matamu, nek”, katanya, tak acuh seperti biasanya, padahal dia sudah amat sering melihat mata neneknya. “Telingamu besar juga”, katanya, padahal tidak mungkin telinga neneknya berubah sejak terakhir kalinya dia berkunjung. “Betapa dalamnya suaramu, nek”, katanya, tetap tidak peduli pada penipu berbulu yang memakai tutup kepala yang dikenalnya itu. Lalu… “Wah, gigimu besar juga.” Dia berkata. Terlalu terlambat untuk menyadari apa yang terjadi...

Sahabatku, kamu tahu cerita itu. Kamu paham cerita itu tentang apa.

Published June 8th, 2008

De, hidup kok untuk mati?

De, kamu pernah bertanya padaku, “Kamu pernah serius nggak sih?” Aku cengengesan, tidak bisa menjawab. Aku betul-betul kena skak mat kalau begini. Kapan sih aku tidak serius? Kurasa, aku memang punya sense of humor, tapi tidak terlalu tebal bahkan cenderung pas-pasan. Sekedar tidak terlalu sering menangis kalau dimarahi orang, atau sekedar tidak terlalu sering sakit hati kalau diledek, atau sekedar tidak terlalu ngenes kalau dikata-katai dengan sebutan yang aku tidak pernah membayangkan akan diberikan padaku… Aku yakin sense of humorku masih ada, tapi sekedar tidak nelangsa kalau keinginan gak kesampaian. Tapi masa sih tidak pernah serius?

Hidup itu memangnya lucu? Tentu aku tidak berani menjawab, “Memang!” Tapi kalau kamu tanya, apa hidup ini segitu seriusnya? Aku juga tidak akan gagah-gagahan bilang, “Memang!” Hidup itu nyatanya lumayan membingungkan. Ada temanku yang selalu saja menjawab semua masalah dengan berkata, “Ah… ngapain sih susah-susah toh akhirnya orang mati juga…!” Aku, diam-diam sering memikirkan pendapatnya, tapi sering bertanya-tanya juga, “Masa sih orang hidup hanya untuk mati?” Aku kok tetap bisa marah, sedih, gembira, dan hampa… dan bukannya tidak peduli dengan apa pun.

Aku tidak berani asal-asalan berpakaian. Mengapa? Aku berusaha untuk selalu sopan pada semua orang. Kenapa, coba? Oh ya, aku senang makan, mencoba masakan yang lezat-lezat. Untuk apa? Aku berupaya untuk tetap jaim. Mengapa? Aku paling ngeri dikatain norak, pembohong, bodoh, dan nggak tahu malu… So what? Aku belajar. Aku bekerja keras. Kenapa aku mesti peduli sama semua itu? Menurut temanku tadi: Kalau kita mati kan masalah selesai… Kalau orang lain membicarakan kita jelek, memangnya kita bisa apa, wong sudah dimakan cacing… mungkin sudah jadi debu…

Kelihatannya, sampai sekarang aku tidak berani se-tidakpeduli itu.

Jadi, apakah aku pernah serius? Apa aku perlu serius (terus), De? 

 

Published June 6th, 2008

Papua, a beautiful place to hide…

Siapa sangka kalau aku bakal sampai juga ke tanah Papua. Dulu sekali aku sering mengangankan pergi ke NTT. Jalan-jalan di antara bukit-bukit rumput dengan pandangan ke laut lepas… Teman kuliahku yang asli Timor atau yang dari Sumba terheran-heran. “You must be kidding! Ngapain?” Katanya. “Entah…” Kataku. Mungkin karena aku terinspirasi buku yang kubaca waktu kecil: Robinson Cruise yang terdampar di pulau sendirian… Tapi ke Papua benar-benar nggak pernah terbayangkan.

Toh, akhirnya aku mendarat di Bandara Internasional Sentani Jayapura, Senin 31/1/05 jam 6 pagi waktu setempat. Jamku sih masih menunjukkan pukul 4 Waktu Indonesia Barat. Pengumuman yang dikumandangkan pramugari Merpati sebelum mendarat mengatakan bahwa perbedaan waktu dengan WIB adalah 2 jam. Aku sengaja tidak mengubah jamku.

Penerbangan dimulai dari Bandara Soekarno-Hatta, Minggu 30/1/05 malam, kira-kira jam 21.30. Pesawat Merpati Boeing 737-200 tujuan Jayapura yang transit di Makassar ini terisi penuh. Ada yang memang mau ke Jayapura tapi banyak juga yang hanya sampai Makassar atau mau ke Sorong. Mereka yang akan ke Sorong, ganti pesawat di Bandara Hasanudin Makassar.

Cuaca Jakarta agak mendung ketika pesawat lepas landas, tapi penerbangan dari Cengkareng ke Makassar rasanya sih ok-ok saja walau beberapa kali menembus hujan di tengah malam gelap. 30 menit menjelang mendarat, telinga berdenging. Mungkin karena perbedaan tekanan udara… Aku dengar kapten pilot mengumumkan sesuatu tapi aku sama sekali tidak mendengar apa yang dia bilang… Jam 12 tengah malam, pesawat mendarat dengan mulus di bandara Internasional Hasanudin Makassar.

Setelah 2 jam terbang lagi dari Makassar, hari mulai terang… Aku sudah bisa nengok ke luar jendela. Tanah Papua sudah mulai nampak… Hijaunya hutan, birunya laut, dan kelompok-kelompok kampung yang sangat kecil dan jarang sudah kelihatan… Hm… indah sekali… Hei… Danau Sentani juga nampak dari atas sini! Bukit-bukit di sekitar Sentani itu mirip betul sama rumahnya Teletubbies!

Di Bandara Sentani aku tengok kanan-kiri. Bandara internasional ini sederhana sekali. Di apron berjejer pesawat besar dan kecil yang sedang bongkar muat. Di terminal kedatangan, para kuli angkut berseragam biru-biru, yang sebagian besar asli Papua menawarkan jasa untuk membawakan koper dan mengurus bagasi. Dan lucunya, di mana-mana terpampang pengumuman “Dilarang Makan Pinang” ditempel di sebelah peringatan “No Smoking“. Tadinya aku cuma geli campur heran. Kenapa tidak boleh? Aku lihat bibir beberapa orang Papua yang lalu lalang di Bandara ini memang merah-merah seperti orang makan sirih… Lalu setelah aku perhatikan betul banyak juga yang tidak mengindahkan larangan mengunyah pinang itu. Beberapa dari mereka, laki-laki maupun perempuan, tua atau muda, tetap asyik mengunyah-ngunyah… bahkan petugas Dinas Perhubungan Bandara juga! Rasanya mengunyah pinang tidak membahayakan keselamatan dan keamanan bandara, pikirku. Tapi rupanya membahayakan keindahan dan kebersihan, he he… karena menyebabkan dinding dan lantai terminal jadi kotor oleh ludah yang merah-merah seperti darah itu… Serem juga, apalagi kalau cipratan ludah itu di dinding dan lantai toilet… Hiiii…!!! Aku nggak berani memakai peturasan setelah melihat bercak-bercak merah itu.

Sentani-Jayapura kira-kira 40 km, melalui kota-kota Waena, Abepura, dan Entrop. Jalannya berliku-liku dan naik turun… Dekat bandara terdapat makam dan tugu peringatan untuk Theis Eluay. Pemandangan di sepanjang jalan sungguh menyegarkan. Di sisi kiri bukit-bukit sedangkan di sisi kanannya danau Sentani yang sangat luas… Mungkin karena masih pagi atau memang sepi, jalanan agak lengang. Setelah Sentani, kami melewati Waena, nggak bisa disebut kota lah kalau bandingannya adalah kota di Jawa. Abepura rupanya kota yang cukup ramai… Bahkan supermarket dan dept store lebih dulu dibuka di Abepura daripada di Jayapura. Abepura juga lebih banyak datarannya. Aku melewati kampus Universitas Cendrawasih dan musium budaya di kota ini. Di sepanjang jalan raya Abepura ini berderet pertokoan, bank, dan rumah makan. Sudah ada KFC… juga toko buku Grahamedia… (bukan “Gramedia”). Entrop juga kota kecamatan kecil saja. Sudah lumayan rame. Jalan masih berkelok-kelok dan turun naik… bahkan sampai memasuki kota Jayapura…

Jayapura adalah kota pelabuhan. Di mana-mana kelihatan laut karena sebagian terletak di teluk. Tapi ya itu… nggak ada tanah yang rata… Kantor gubernur menghadap ke pantai yang berjarak sekitar 100-200an meter. Jalan raya di depannya kecil saja. Aku benar-benar geleng-geleng kepala. Jalan-jalan di Cirebon jauh lebih lebar dan ramai daripada ibu kota propinsi terluas di Inonesia ini! Kalau malam hari, di pinggir pantai depan kantor gubernur itu banyak yang berjualan: ikan, udang, buah-buahan… yang konon harganya sangat mahal. Di sisi lain di teluk itu terdapat banyak perkampungan padat dan pelabuhan. Mulai dari Dok 1 sampai 9 atau berapa gitu… aku sih ngitung baru sampai 7… Kalau nggak salah kapal penumpang besar (mereka menyebutnya kapal putih) yang biasa melayani rute Surabaya, Makasar, Sorong, Jayapura merapat di Dok 2.

Eh, aku tadi bilang kalau sepanjang Sentani sampai Jayapura itu tanahnya jarang ada yang rata. Jalan lurus lebih dari 100 meter aja jarang sekali kalau tidak bisa disebut nggak ada. Kalau nggak belok ya turun naik… Nah kalau begitu bagaimana bikin lapangan bola? Di mana-mana yang kelihatan lapangan tenis. Di pesawat pun aku lihat orang Papua yang pulang dinas (katanya) dari Jawa membawa raket tenis baru… “Saya dari Jogja, di sana sedang diskon!” katanya. Ternyata memang lapangan tenis banyak dan aku sering melihat para pegawai maupun tentara yang berangkat dengan pakaian dinas tapi mencangklong atau menjinjing raket tenis. Hm… berarti hebat juga tuh kalau kita bisa menemukan pesepak bola berbakat seperti Elie Eboy dan Boas Salosa… Terus, 30 tahun yang lalu Johanes Auri latihannya dimana ya?

Selama perjalanan dari Sentani ke Waena atau dari Waena ke Abepura, aku sering melihat rombongan anak-anak yang mau berangkat sekolah. Mereka berjalan kaki, naik motor (ojek), angkot (disebut taksi), atau numpang siapa saja yang mau mengangkut mereka dengan kendaraannya. Seringkali aku tidak lihat dari mana munculnya anak-anak sekolah itu karena tidak kelihatan ada rumah-rumah… Mungkin dari balik bukit itu kali ya? Beberapa kali aku juga melihat sekelompok orang Papua sedang berbincang-bincang di tepi jalan sambil menggenggam semacam tombak. Buat apa ya tombaknya? Berburu celeng? Di pinggir jalan sih kulihat memang ada babi celeng yang berkeliaran…

Satu lagi kenang-kenanganku tentang Papua: nyamuk! Banyak dan gemuk-gemuk! Sebelum berangkat aku sudah diingatkan oleh saudara dan teman-teman, jangan lupa bawa obat nyamuk. Ternyata, peringatan itu berharga sekali. Aku terpaksa harus rajin oles-mengoles lotion anti nyamuk ke sekujur tubuh.

Tapi banyaknya nyamuk tidak menghalangiku untuk kembali lagi. Jika waktu, kesempatan, dan dana (tentu saja, he he) tersedia, aku masih ingin mengunjungi Papua.

It’s a beautiful place…


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.