Ati Harmoni

Sentimental Journey…

Archive for May, 2008


Published May 29th, 2008

Papua

Cerianya anak-anak Cerianya anak-anak di tanah Papua yang indah…

Published May 29th, 2008

Katak Hendak Jadi Lembu

 

Suatu pagi, dalam kuliah IAD (Ilmu Alamiah Dasar), saya bertanya pada para mahasiswa yang masih segar, ceria, tetapi agak belum on untuk mengikuti kuliah. Sebagian masih sibuk senyum kanan kiri, cekikikan sambil membaca sms dari layar HP paling canggih sebesar guling bayi. Sebagian masih belum merasa perlu menyibukkan diri dengan pulpen dan buku tulis. “Kehidupan seperti apa yang anda inginkan kelak?” Saya sedang berusaha memulai kuliah dengan pertanyaan yang mungkin agak nyambung dengan topik yang akan dibahas pagi itu: Peran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Kehidupan Sosial Manusia. Walaupun jawabannya agak riuh rendah, saya dapat menyimpulkan seluruh jawaban mereka dengan satu kalimat: Hidup layak. Karena itu saya melanjutkan dengan pertanyaan kedua, kali ini saya meminta mereka menuliskan jawabannya. “Seperti apakah hidup layak yang anda bayangkan itu?” Saya amat yakin, setiap orang mestinya bisa dan boleh mendefinisikan sendiri kehidupan yang layak itu dengan bayangan, harapan dan cara pandang masing-masing. Dalam waktu sepuluh menit, dua-tiga orang mahasiswa sudah memenuhi kertasnya dengan berbagai impiannya akan masa depan yang serba mudah dan menyenangkan. Beberapa mahasiswa lagi hanya dapat menuliskan harapannya dalam dua-tiga baris kalimat. Tetapi sebagian besar hanya termangu-mangu saja, tidak (atau belum) menuliskan apa-apa.

Mereka yang tidak menulis apa-apa itu mungkin tahu apa yang dia mau tapi bingung bagaimana menuliskannya. Harus diakui, kita jarang sekali memberi kesempatan pada mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan menulis. Boleh jadi, para mahasiswa itu tidak sekedar tidak terbiasa diminta menulis, bahkan mungkin tidak terbiasa dimintai pendapat, sehingga terkejut bukan alang kepalang ketika diberi kesempatan untuk mengemukakan gagasannya sendiri. Tetapi kebanyakan, ternyata, memang tidak tahu ingin apa, menjadi apa, dan mau bagaimana. “Pokoknya yang enak-enak sajalah”. Meruka berguman tidak jelas. Kata ajaibnya adalah pokoknya… pokoknya… tanpa bisa mendefinisikan lebih jauh.

Saya jadi teringat suatu cerita tentang seorang murid sekolah, anak orang kaya, yang disuruh bercerita tentang kehidupan orang miskin. Dan dia bercerita dengan naifnya. Begitu miskinnya orang itu sehingga seluruh pembantunya pun miskin, sopirnya miskin, bahkan tukang kebunnya juga miskin… Kita tidak bisa menertawakan anak itu apalagi meyalahkannya karena ceritanya yang sungguh tidak masuk akal. Dia mungkin memang tidak pernah tahu, apalagi bersentuhan dengan dunia yang lain selain yang biasa dihadapinya. Mahluk apakah kemiskinan itu?

Lalu saya bertanya dalam hati, apakah mahasiswa yang tidak bisa menulis apa-apa tentang hidup yang layak itu, mungkinkah karena mereka memang tidak pernah tahu tentang hidup yang layak? Hidup yang berkecukupan? Hidup yang terpenuhi sandang, pangan dan papannya? Hidup yang begitu dimudahkan? Saya kok tidak yakin. Melihat tongkrongan mereka, saya tidak begitu yakin. Para mahasiswa itu celana jeansnya memang belel, bahkan sobek di beberapa tempat, tapi bukan karena setiap hari dipakai dan tidak punya ganti. Para mahasiswi itu bajunya memang minim, tapi bukan karena baju yang ukurannya beberapa nomor lebih kecil dari yang seharusnya itu berharga lebih murah. Belum lagi makannya, kendaraannya, handphone-nya. Saya betul-betul tidak yakin.

Saya menunggu. Tepat pukul 9.00 saya mengumpulkan kertas dari seluruh mahasiswa. Saya membaca satu persatu apa yang telah dituliskan di atas sobekan kertas catatan itu. Mahasiswa saling mencemooh dan mencela temannya, lalu mentertawakan diri sendiri. “Gue bingung mau nulis apa…” Lalu kelas jadi penuh dengan hawa optimis yang tipis karena tak lama kemudian tawa mereka berubah menjadi senyum tersipu. Mereka tidak banyak menulis di kertas mereka. “Kenapa?” tanya saya. “Bingung Bu…”

Kemudian saya berpikir jangan-jangan saya sendiri tidak tahu apa-apa tentang hidup yang selayaknya. Lagi-lagi saya teringat tentang cerita yang lain lagi. Katak hendak jadi lembu. Kita sering mengejek sang katak sebagai mahluk bodoh, bahkan tidak tahu diri. Bagaimana mungkin sang katak bisa menjadi sebesar lembu? Mimpi! Tapi setidak-tidaknya, dia tahu apa yang diinginkan dan dicita-citakan bukan?

Published May 28th, 2008

Bahasa Menunjukkan Bangsa

Seorang rekan saya bercerita dengan gusar. Pada acara temu pengarang dalam suatu pameran buku di Jakarta, seorang pengarang muda yang baru saja menerbitkan novel bertema kehidupan remaja ditanya, ”Mengapa dalam novel anda banyak sekali kata dan kalimat bahasa Inggris?” Sang pengarang menjawab, ”Karena kalau saya menggunakan bahasa Indonesia baku akan banyak pembaca yang tidak paham.” Rekan saya karuan lantas meninggalkan tempat acara dengan marah. Saya agak terkejut juga mendengar ceritanya., tapi siapa tahu sang pengarang sedang berkelakar, menyindir para penutur bahasa Indonesia yang sekarang ini kenes sekali mengobral istilah Inggris dalam ujarannya atau mengungkapkan pengamatannya tentang bahasa Indonesia yang terkadang memang sulit untuk dimengerti…

Bahasa Negara, Bahasa Persatuan

Bahasa Indonesia adalah bahasa negara sebagaimana diatur dalam UUD 45 Bab XVI Pasal 36. Dalam hal ini bangsa Indonesia lebih maju dibandingkan bangsa Amerika. Bangsa yang sekarang dipimpin oleh Goerge W. Bush ini membutuhkan waktu 230 tahun setelah merdeka untuk sepakat memakai bahasa Inggris sebagai bahasa nasional, tepatnya sejak 18 Mei 2006. Pada hari itu, Senat menyetujui bahasa Inggris sebagai bahasa nasional Amerika dengan suara setuju 64 berbanding 34 suara yang menentang. Sebelumnya Amerika Serikat tidak mempunyai bahasa nasional. Masalahnya, walaupun sudah sepakat menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, bahasa Indonesia tidak serta merta digunakan dan dicintai dengan sepenuh hati. Bahasa Indonesia bahkan lebih sering dikeluhkan sebagai bahasa yang sulit, centang perenang, membingungkan, dan menjengkelkan. Akibatnya orang tidak bangga menggunakannya. Ajakan untuk berbahasa yang ”baik dan benar”, cenderung diabaikan. Tidak hanya karena bahasa yang ”baik dan benar” dianggap terlalu kaku sehingga tidak laku, tapi juga karena betul-betul sulit menentukan yang ”baik dan benar” itu yang mana?

Bagaimana pun, sebagai warga negara Indonesia saya merasa bersyukur karena bangsa Indonesia sejak sebelum merdeka sudah sepakat menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Berkat para pemuda yang bersumpah pada Kongres Pemuda II tahun 1928 untuk menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, saat ini kita punya satu bahasa nasional. Bayangkan betapa banyaknya perselisihan yang mungkin terjadi karena masalah bahasa di Nusantara yang beragam suku dengan beragam bahasa daerahnya ini. Jadi, betapapun saya sendiri kerap kebingungan (dan kadang frustasi) ketika mencoba berbahasa Indonesia yang ”baik dan benar” saya tetap merasa bangga dan bersyukur memiliki bahasa Indonesia.  

Dari kecil hingga dewasa saya sempat beberapa kali pindah kota. Hal itu merupakan salah satu sebab saya betul-betul merasakan betapa pentingnya bahasa nasional kita itu. Ketika saya pindah dari pelosok Magelang di Jawa Tengah ke pelosok Majalengka di Jawa Barat, saya tidak paham satu patah kata pun bahasa Sunda. Saat saya mendaftar sekolah, kelas satu SD, saya betul-betul seperti mahluk aneh di planet asing. Masalahnya teman-teman baru saya belum ada yang bisa berbahasa Indonesia, sementara saya pun lebih lancar berbahasa Jawa (ketika itu). Mengikuti mayoritas murid yang baru mengenal bahasa Sunda, maka ibu guru yang mengajar pun lebih sering menggunakan bahasa Sunda sebagai pengantar. Saya jadi seperti patung ukiran Bali di pojok kelas selama beberapa bulan. Diam membisu. Saat itu, di luar kelas, saya dan teman-teman berkomunikasi dengan bahasa masing-masing, ditambah dengan bahasa tarjan… Kadang-kadang ”nyambung”, seringkali tidak. Setelah satu semester, barulah kelas berjalan agak normal. Saya sudah banyak mengenal kosa kata Sunda dan teman-teman saya sudah mulai berani menggunakan bahasa Indonesia. Yah… anda sudah bisa menebak, angka rapot pertama saya jadi agak berwarna… Bagaimana bisa mendapat nilai baik, memahami perkataan guru saja tidak bisa.

Kelas lima SD, saya kembali harus memahami bahasa ”lain” yang tak kalah asingnya, bahasa Cirebon. Saat saya mulai menikmati keindahan bahasa Indonesia campur Sunda, saya harus pindah lagi, kali ini ke pinggiran kota Cirebon. Walaupun Cirebon dan Majalengka itu satu wilayah karasidenan, bahasa yang digunakan penduduk masing-masing daerah tersebut sama sekali berbeda. Orang Cirebon sendiri menganggap Bahasa Cirebon sebagai bahasa tersendiri, yang tidak Jawa dan tidak Sunda. Suatu sore, saya mendengar penjual bakso menjajakan dagangannya lewat di gang di depan rumah. ”Bakso! Bakso!” Saya berteriak dari dalam rumah, ”Beli, Pak!” Ketika saya sampai di pintu pagar, saya lihat penjual bakso sudah menjauh. Tentu saja saya heran. Saya yakin penjual bakso mendengar teriakan saya. Ternyata, dalam bahasa Cirebon, ”beli” itu berarti ”tidak”. Jadi, ketika saya menjawab seruan penjual bakso dengan, ”Beli, Pak!” Penjual bakso mengartikannya sebagai ”Tidak, Pak!”  Seharusnya saya teriak, ”Tuku, Pak!”  

Ketika saya kuliah di Jogjakarta dan tinggal di rumah kost dengan teman-teman dari berbagai kota di Indonesia, bahasa Indonesia jelas jadi penyelamat dari kesalahpahaman dan kerumitan berkomunikasi. Jangankan dibandingkan dengan bahasa Sunda atau bahasa Cirebon, bahasa Jawa satu dengan bahasa Jawa yang lain pun bisa sangat berbeda. Untuk menyebut serangga bernama nyamuk, saya yang sudah jadi orang Cirebon menyebutnya lamuk; teman Majalengka saya menyebut rengit; teman saya yang asli Solo bilang lemut; sahabat saya yang orang Kediri menyebutnya jingklong! Ah, betapa saya cinta pada bahasa Indonesia!   

Bahasa Campur Aduk

Pada bagian awal tulisan, saya bercerita tentang kegusaran rekan saya atas jawaban pengarang yang menganggap pembaca Indonesia lebih paham dengan bahasa campur aduk Inggris dan Indonesia daripada bahasa Indonesia saja. Anda semua pasti mahfum bahwa saat ini pemakaian kata Inggris memang sangat umum dilakukan. Maksudnya, banyak orang yang jor-joran bercakap lisan ataupun tulisan dengan melintaskan banyak kosa kata, istilah, dan kalimat bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Alif Danya Munsyi menyebut gejala tersebut sebagai ”nginggris” (Alif Danya Munsyi adalah salah satu pseudonim dari lelaki kelahiran Makassar bernama asli Yapi Tambayong. Pseudonim lainnya adalah Remy Sylado. Beliau menggunakan nama Alif Danya Munsyi ketika menulis bahasan tentang musik, teater, dan bahasa. Dengan nama Remy Sylado, ia menulis puisi, novel, melukis, bemain teater-film-sinetron, mencipta musik dan menyanyi, serta membuat ilustrasi musik film dan sinetron). 

Apakah penggunaan bahasa yang campur aduk itu berpotensi merusak bahasa persatuan, bahasa Indonesia yang kita junjung tinggi? Sebagai gambaran saya kutipkan satu paragraf dari novel yang pengarangnya membuat rekan saya begitu gusar.

”Most of the time, topik perdebatan gue sama Andra sih nggak penting! Kayak yang barusan… asal ngejeplak aja. Although sometimes I don’t really mean what I said, dan dia juga gitu. Karena untuk masalah yang satu itu kita berdua jelas tahu kalo cewek tuh masih butuh cowok and vice versa. No denying in that! Cuma ngga’ tau, deh, kalo sama dia… jujur aja, gue rada susah untuk ngalah. Told ya, I love to win so much!

Bayangkan, novel setebal 381 halaman tersebut di setiap paragrafnya berhamburan, melimpah ruah dengan kata, istilah, dan kalimat bahasa Inggris. Saya tidak tahu apa betul para pembaca lebih mudah memahami cerita karena itu.

Seorang rekan saya yang lain baru-baru ini bercerita tentang tulisannya yang dikritik oleh seorang profesor di fakultasnya. Menurut sang profesor, tulisannya terlalu Inggris. Beliau menyarankan untuk mengganti istilah ilmiah yang masih dalam bahasa Inggris dengan istilah bahasa Indonesia. ”Anda toh tidak menulis untuk orang Inggris atau Amerika?” Begitu sang profesor berkata kepada rekan saya itu. Rekan saya yang sedang studi di bidang sosial politik ini membela diri dengan mengatakan bahwa istilah ilmiah yang digunakannya, walaupun dalam bahasa Inggris, sudah umum bagi mereka yang sedang mempelajari bidang studi tesebut. Rekan saya bukannya tidak tahu bahwa istilah Inggris yang dia gunakan sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Hanya saja dia tidak yakin, jika dia menggunakan istilah dalam bahasa Indonesia, apakah pembacanya akan lebih mudah memahami. Jadi pengarang novel dan calon doktor sosial politik ini sama tidak yakinnya dengan bahasa Indonesia sebagai media komunikasi dan penyampai pesan yang andal. 

Saya sendiri masih seringkali menggunakan istilah asing dalam bahasa lisan dan tulisan saya. Pertama, karena saya tidak tahu padanan istilah asing yang saya pakai dalam bahasa Indonesia. Kedua, bukankah bahasa Indonesia sendiri sejatinya adalah bahasa yang dibangun dari banyak bahasa asing dan daerah? Alif Danya Munsyi dalam bukunya 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing, mengatakan bahwa bahasa Indonesia terdiri dari sekurangnya 35 bahasa asing dan daerah. Mengingat sejarah pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia adalah naif jika kita menganggap bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa asli bangsa Indonesia yang harus steril dari pengaruh bahasa asing. Sebagai contoh saja, kata-kata bahasa Indonesia, seperti sepatu dan kaus berasal dari kata-kata bahasa asing, Spanyol: zapato dan Belanda: kous. Kata-kata yang berasal dari bahasa Inggris pun tidak kalah banyak, misalnya peluit dan justru, yang berasal dari kata flute dan just true.

Sebenarnya sungguh membanggakan jika kita dapat bercakap lisan atau menulis dengan baik dalam bahasa asing (Inggris, misalnya). Masalahnya menjadi menjengkelkan dan kadang bahkan menggelikan adalah jika dalam bahasa Indonesia, tulisan maupun lisan, dipaksakan di situ disisipkan kata-kata atau istilah-istilah bahasa Inggris hanya agar tampak mewah dan terpelajar. Sebuah toko yang belum lama ini dibuka di Depok memasang spanduk yang berukuran cukup besar bertuliskan ”… Baby and Kid Store… Outlet bayi dan anak…” Keponakan saya yang masih kelas 5 SD berkomentar, “Wah, ada toko yang menjual bayi dan anak!”   


Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.