Etika dalam Usaha (Bagian 1)

Meskipun banyak definisi tentang etika, namun secara sederhana dan singkat dapat dikatakan bahwa etika adalah perilaku, kebiasaan, atau tindakan-tindakan yang baik, yang dilakukan oleh sesorang atau organisasi. Dengan demikian, bila dikaitkan dengan dunia usaha maka yang dimaksud dengan etika di sini adalah perilaku dan kegiatan-kegiatan yang baik, yang dilakukan oleh seorang pengusaha, baik terhadap para pelanggan, pemasok, maupun terhadap usahanya sendiri (termasuk kepada karyawannya).

Dengan kata lain, pemilik usaha yang selalu membuat susah dan sakit hati pelanggan (misalnya), berarti pemilik usaha tersebut dapat dikatakan tidak memiliki etika, dan tidak memiliki etika berarti telah berbuat salah, dan berbuat salah pasti ada akibatnya.

Memiliki dan menjalankan usaha memang tidak mudah. Masih banyak pelaku usaha memiliki anggapan, bahwa antara usaha dan etika tidak dapat disandingkan. Berusaha adalah mencari keuntungan, sementara etika bicara soal berbuat baik, sehingga ketika berusaha sambil berbuat baik maka sulit untuk mendapat keuntunga. Dengan anggapan ini, banyak pelaku usaha yang kemmudian mengesampingkan etika demi mendapatkan keuntungan. Apa contohnya ?

Pertama, banyak pemiliki usaha makanan/kuliner yang mendirikan tendanya di trotoar jalan, sehingga mengganggu pejalan kaki. Apakah sudah tidak ada lahan lagi yang lebih baik untuk berdagang tanpa merugikan orang lain ? Sepertinya masih banyak tempat yang lebih bisa digunakan untuk berdagang. Namun kenapa harus di trotoar ? Dengan di trotoar memang biasanya tempatnya lebih siap, biaya ‘sewa’ lebih murah, dan yang lebih penting, konsumen bisa langsung menjangkau. Dengan kumpulan alasan tersebut, keuntungan sepertinya memang akan lebih mudah didapat. Coba di deratan pemilik usaha yang melakukan usaha tersebut ada satu saja yang ‘beretika’ dengan memilih usaha di tempat yang tidak mengganggu orang lain, tentu berpotensi akan lebih sulit mendapat keuntungan.
Kedua, masih banyak pelaku usaha yang membuang sampah atau limbah usahanya tidak pada tempatnya, dan masih banyak contoh perilaku atau tindakan-tindakan pemiliki usaha yang tidak baik.

Seharusnya, setiap pemilik usaha, tidak terkecuali usaha dengan skala kecil dan menengah, mulai memahami dan mempraktekkan etika dalam menjalankan usahanya. Harus mulai diyakini bahwa untuk kepentingan jangka panjang, bisnis dan etika tidak bisa dipisahkan. Harus mulai dipraktekkan perilaku-perilaku yang baik dalam usahanya, dimulai dari hal-hal yang sepele dan sederhana, seperti :
• selalu berbicara dengan nada yang menyenangkan,
• menjaga emosi kepada karyawan saat ada maupun tidak ada pelanggan,
• bebenah diri (mandi, beerias) sebelum memulai usaha,
• selalu menyiapkan uang kembalian,
• mendirikan usaha di lokasi yang semestinya
• Tidak mempekerjakan pegawai di bawah umur
• Membayar kewajiban kepada pemasoksesuai janji
• Mengunakan bahan-bahan yang aman bagi konsumen
• Dan masih banyak contoh perilaku-perilaku baik lainnya

Pertanyaan berikutnya adalah, dalam sebuah unit usaha, kapan pemilik usaha harus berperilaku baik (beretika) ?
Jawabnya adalah ‘Setiap saat’, selama usahanya masih berjalan. Menjalankan usaha dengan etika tidak bisa memilih-milih waktu, tidak bisa memilih-milih pelanggan, tidak bisa memilih-milih lokasi, karena usaha dan etika adalah melekat. Bisa jadi, meskipun hanya sekali tidak beretika, pelanggan akan kecewa, masyarakat akan marah, karwawan akan sakit hati, pemasok akan ‘kapok’ dan pada gilirannya kepercayaan dan nama baik usaha akan rusak. Bila ini terjadi tidak mudah untuk memperbaikinya.

“Akan butuh banyak perilaku baik (etika) yang harus dilakukan untuk membuat konsumen, masyarakat, karyawan dan yang lainnya puas dan suka….tapi, cukup dibutuhkan satu tindakan tak beretika untuk membuat mereka kecewa dan marah kemudia melupakan rasa puas dan suka mereka…”

Etika dalam menjalankan usaha memang harus dibiasakan dan seringkali harus dipaksakan…dan dalam jangka pendek sepertinya memang akan menambah beban (biaya, usaha, waktu, dll)
Perilaku baik yang dilakukan terus-menerus dan konsisten, serta diturunkan dari generasi-ke generasi akan membentuk perilaku yang mencerminkan seperti apa unit usaha yang sedang dilakukan dan siapa pemiliknya, yang pada akhirnya akan membentuk budaya organisasi. Apakah budaya organisasi itu ? kita diskusikan pada tulisan berikutnya….

Leave a Reply

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.