Saling Berbuat Baik Pembeli dan Penjual

Tidak ada penjual (produsen) yang tidak membutuhkan konsumen, karena konsumenlah yang akan membuat usahnya berjalan, dan sebaliknya tidak ada konsumen yang tidak membutuhkan penjual, karena penjuallah yang menyediakan berbagai produk yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen. Dengan demikian sudah seharusnya kedua belah pihak saling berbuat baik dan tidak saling merugikan. Perbuatan baik penjual dapat dilakukan dalam tiga tahapan : Pada saat sebelum terjadinya transaksi, pada saat transaksi, dan setelah terjadinya transaksi.

Pertama, pada saat sebelum transaksi pada umumnya konsumen mencari informasi mengenai produk yang dibutuhkan atau diinginkan dan kemudian membanding-bandingkannya sebelum kemudian memutuhkan membelinya. Pada tahap ini, perbuatan baik penjual dapat dilakukan dengan memberikan informasi yang benar tentang produknya. Informasi yang disampaikan baik melalui, selebaran, spanduk, hingga iklan di radio maupun televisi seharusnya : Ditulis dengan huruf yang jelas, menggunakan bahasa yang dimengerti oleh calon pembeli, menyajikan informasi yang lengkap, tidak melebih-lebihkan, dan seterusnya. Dengan perbuatan baik penjual ini, konsumen akan mendapatkan informasi yang jelas dan akurat tentang produk yang akan dikonsumsinya.
Dalam kasus sehari-hari masih banyak dijumpai penjual yang tidak melakukan perbuatan baik ini dan cenderung sebaliknya. Masih banyak dijumpai kemasan yang tidak dilengkapi dengan penjelasan dengan bahasa setempat sehingga ada potensi konsumen tidak mengetahui perihal produk yang akan dikonsumsinya. Banyak kemasan juga ditulis dengan huruf yang sangat kecil sehingga tidak dapat dibaca oleh mata konsumen kebanyakan. Masih banyak juga dijumpai berbagai poster yang menampilkan gamba produk yang telah diedit sedemikian rupa sehingga tampak ‘sangat sempurna’ sehingga sanggat menggoda, namun tidak sesuai dengan kondisi produk yang sesungguhnya.

Kedua, di saat/selama transaksi terjadi, banyak perbuatan baik penjual yang seharusnya dilakukan, diantaranya : menyediakan tempat ruang tunggu yang nyaman, menyediakan tempat parkir memadai, menata produk dengan baik sehingga memudahkan konsumen dalam mencari produk yang dibbutuhkannya, menyediakan kembalian berapapun nilai kembaliannya, memberikan tas yang layak untuk membawa produk yang telahh dibeli konsumen, memberikan pennerangan yang cukup di tempat transaksi, member pelayanan yang baik dan ‘tidak membeda-bedakan’, dan masih banyak perbuatan baik lainnya yang seharusnya dilakukan penjual. Pada kenyataannya masih banyak penjual yang tidak melakukan perbuatan baik dalam tahap ini dan malah sebaliknnya. Masih banyak dijumpai tepat usaha yang tidakmemiliki tempat parkir, ruang tunggu, penerangan yang buruk dan seterusnya, sehingga konsumen mengalami kesulitan selama melakukan transaksi. Masih banyak penjual yang tidak siap dengan uang kembalian dan membebani konsumen untuk membayarnya dengan uang pas. Masih banyak contoh-contoh lain dari kelalaian penjual untuk berbut baik kepada konsumen.

Ketiga, di saat setelah konsumen membel produk (bisa 1 hari, 2 minggu, atau 1 tahun kemudian). Banyak perbuatan baik yang juga seharusnya dilakukan oleh penjual, seperti membantu konsumen dalam memasang produk yang dibeli di rumah, mengantar produk bila ukurannya besar, menyediakan lokasi-lokassi servis dalam jumlah yang cukup dan memadai, melayani dengan baik bila ada keluhan, dan seterusnya. Dalam kenyataannya masih banyak ditemukan penjual yang pelayanan purna jualnya belum/tidak baik.

Di sisi lain, karena sudah menerima kebaikan dari penjual, konsumen juga harus berbuat baik kepada penjual. Perbuatan baik konsumen dapat berupa :
Pertama, mengembalikan uang kembalian yang ternyata berlebih, karena tidak jarang karena kesibukan atau ketidaktelitiannya ataunpenerangan yang tidak memadai, penjual sering memberikan kembalian yang lebih banyak dari seharusnya, dan dalam hal ini pembeli harus mengembalikan kelebihannya bila mengetahuinya. Kedua, tidak memanfaatkan kelemahan penjual, baik karena cacat fisiknya (buta atau cacat fisik lainnya) atau karena kebutuhan mendesak penjual lainnya untuk menawar dengan harga yang serendah-rendahnya, dengan kata lain pembeli harus tetap membayarnya dengan harga yang wajar. Ketiga, pembeli harus membayar sesuai dengan jumlah produk yang diambil atau dikonsumsinya, meskipun misalnya penjual tidak melihatnya.

Pada prinsipnya, masih banyak perbuatan-perbuatan baik yang dapat dilakukan baik oleh penjual maupun pembeli, dan bisa dibayangkan, bila ini dilakukan maka proses transaksi akan berlangsung lancar dan menguntungkan kedua belah pihak dan secara luas akan membentuk perekonomian yang luar biasa.

Etika dalam Usaha (Bagian 2)

Tulisan bagian kedua tentanng etika dalam usaha kali ini akan membahas dua hal, yakni budaya dalam usaha dan keadilan dalam usaha.
Pada artikel sebelumnya sudah dibahas mengenai pentingnya etika dalam menjalankan usaha. Sekedar mengingatkan, etika dalam usaha dapat dijelaskan sebagai kebiasaan-kebiasaan atau perilaku-perilaku yang baik dalam menjalankan usaha. Kebiasan dan perilaku ini jika konsisten dapat menjadi budaya dalam unit usaha tersebut, dan bila ini terjadi, maka maka budaya inilah yang akan membedakan usaha trsebut dibangkan usaha yang lainnya. Dengan budaya inilah masyarakat dan konsumen akan memiliki persepsi yang baik atau buruk terhadap usaha tersebut, tergantung budaya yang akhirnya terbentuk itu baik atau buruk.

Secara sederhana, untuk mendapatkan gambaran tentang budaya dari sebuah usaha dapat dilihat dari beberapa hal berikut ini, antara lain :
• Bagaimana perilaku perusahaan dan karyawan terhadap masa depan perusahaan
• Bagaiaman sikap perusahaan terhadap sesama karyawan, atasan-bawahan
• Bagaimana sikap/perilaku perusahaan terhadap pihak luar (konsumen, suplier, dll)
• Bagaiman perilaku karyawan selama di lingkungan perusahaan
• Bagiamana perilaku karyawan dalam menyelesaikan tugasnya (waktu, proses, hasil, evaluasi, dll)
• Bagaimana perilaku karyawan terhadap kesalahan yang terjadi/dilakukan, dll

Oleh karena itu, silahkan dipilih, apakah sebuah usaha akan dikenal oleh masyarakat atau konsumenn sebagai usaha dengan budaya yang baik atau buruk, semua tergantung bagaiman pemilik dan seluuruh karyawan bersikap dan berperilaku.

Di sisi lain, berbicara etika dalam usaha tidak dapat terlepas dari aspek keadilan dalam berusaha, karena keadilan merupakan salah satu prinsip penting dalam etika bisnis. Di dalam dunia usaha prinsip keadilan tidak hanya dating dari pelaku usaha dan masyarakat, namun juga dari pemerintah terhadap pelaku usaha.

Keadilan yang pertama adalah keadilan antar pelaku usaha dengan pelaku usaha lainnnya dan juga dengan masyarakat. Dalam menjalankan usahanya dan mendapatkan keuntungan, setiap pelaku usaha seharusnya bersikan setara, dengan berfikir misalnya, “apakah saya juga terganggu bila usaha lain erbbuat demikian”…bila jawabannnya “YA” seharusnya juga tidak melakukan tindakan itu. Beberapa perilaku usaha yang merugikan pelaku usaha lainnnya misalnya :
a. Menimbulkan suara yang terlalu keras (memutar lagu, menjalankan mesin, dll)
b. Menghasilkan polusi (asap bakaran sate yang berlebihan, sampah yang berterbangan, dll)
c. Menyebar isu negatif tentang usaha lainnya
d. Membuat iklan yang menyinndir produk lain, dll

Beberapa contoh di atas, bila dilakukan, tentu akan membuat pelaku usaha yang berada di sekitarnya terganggu. Seharusnya sebuah usaha yang melakukan hal ttersebut bersikapp adil dengan menghentikan untuuk tidak melakukan hal tersebut lagi, karena bila pihak lain berbuat yang sama, maka iapun juga akan terganggu.

Kepada konsumen juga harus terjadi transaksi yang adil, dimana kesepakatan yang terjadi haruslah diidasarkan pada kesepakatan yang saling menguntungkan dan sewajarnya, dalam arti tidak ada piihak yang diirugikan. Penjual berhak mendapatkan keuntungan, namun pembeli juga berhak mendapatkan barang yang baik dengan harga yang wajar, ini baru adil. Penjual yang berusaha mengambil untuk setinggi-tingginya dengan memanfaatkan ketidakpahaman atau keterpaksaan pembeli, bukanlah penjual yang adil dan beretika. Seballiknya pembeli yang memanfaatkan ketidaktelitian penjual dalam menghitung harga atau meghitung jumlah barang yang dimasukkan k etas misalnya, juga pembeli yang tidak adil dan tiidak beretika.

Terakhir, keadilan yang semestinya diberikan oleh pemerintah kepada para pelaku usaha. Sudah seharusnya pemerintah berlaku adil kepada ssetiap warga negaranya yang menjalankan usaha. Tidak boleh ada peraturan khusus yang hanya berlaku untuk sekelompok pelaku usaha, sementara kondisi pelaku usaha tersebut sama dengan yang lainnya.Setiap pelaku usaha memiliki hak menjalankan usahanya, namun setiap pelaku usaha juga wajib mentaati setiap peraturan yang ada, ini juga barru adil.

Demikian diskusi kita kali ini, kita lanjutnya diskusi dengan topik lainnya pada artikel berikutnya. Teriima kasih

Etika dalam Usaha (Bagian 1)

Meskipun banyak definisi tentang etika, namun secara sederhana dan singkat dapat dikatakan bahwa etika adalah perilaku, kebiasaan, atau tindakan-tindakan yang baik, yang dilakukan oleh sesorang atau organisasi. Dengan demikian, bila dikaitkan dengan dunia usaha maka yang dimaksud dengan etika di sini adalah perilaku dan kegiatan-kegiatan yang baik, yang dilakukan oleh seorang pengusaha, baik terhadap para pelanggan, pemasok, maupun terhadap usahanya sendiri (termasuk kepada karyawannya).

Dengan kata lain, pemilik usaha yang selalu membuat susah dan sakit hati pelanggan (misalnya), berarti pemilik usaha tersebut dapat dikatakan tidak memiliki etika, dan tidak memiliki etika berarti telah berbuat salah, dan berbuat salah pasti ada akibatnya.

Memiliki dan menjalankan usaha memang tidak mudah. Masih banyak pelaku usaha memiliki anggapan, bahwa antara usaha dan etika tidak dapat disandingkan. Berusaha adalah mencari keuntungan, sementara etika bicara soal berbuat baik, sehingga ketika berusaha sambil berbuat baik maka sulit untuk mendapat keuntunga. Dengan anggapan ini, banyak pelaku usaha yang kemmudian mengesampingkan etika demi mendapatkan keuntungan. Apa contohnya ?

Pertama, banyak pemiliki usaha makanan/kuliner yang mendirikan tendanya di trotoar jalan, sehingga mengganggu pejalan kaki. Apakah sudah tidak ada lahan lagi yang lebih baik untuk berdagang tanpa merugikan orang lain ? Sepertinya masih banyak tempat yang lebih bisa digunakan untuk berdagang. Namun kenapa harus di trotoar ? Dengan di trotoar memang biasanya tempatnya lebih siap, biaya ‘sewa’ lebih murah, dan yang lebih penting, konsumen bisa langsung menjangkau. Dengan kumpulan alasan tersebut, keuntungan sepertinya memang akan lebih mudah didapat. Coba di deratan pemilik usaha yang melakukan usaha tersebut ada satu saja yang ‘beretika’ dengan memilih usaha di tempat yang tidak mengganggu orang lain, tentu berpotensi akan lebih sulit mendapat keuntungan.
Kedua, masih banyak pelaku usaha yang membuang sampah atau limbah usahanya tidak pada tempatnya, dan masih banyak contoh perilaku atau tindakan-tindakan pemiliki usaha yang tidak baik.

Seharusnya, setiap pemilik usaha, tidak terkecuali usaha dengan skala kecil dan menengah, mulai memahami dan mempraktekkan etika dalam menjalankan usahanya. Harus mulai diyakini bahwa untuk kepentingan jangka panjang, bisnis dan etika tidak bisa dipisahkan. Harus mulai dipraktekkan perilaku-perilaku yang baik dalam usahanya, dimulai dari hal-hal yang sepele dan sederhana, seperti :
• selalu berbicara dengan nada yang menyenangkan,
• menjaga emosi kepada karyawan saat ada maupun tidak ada pelanggan,
• bebenah diri (mandi, beerias) sebelum memulai usaha,
• selalu menyiapkan uang kembalian,
• mendirikan usaha di lokasi yang semestinya
• Tidak mempekerjakan pegawai di bawah umur
• Membayar kewajiban kepada pemasoksesuai janji
• Mengunakan bahan-bahan yang aman bagi konsumen
• Dan masih banyak contoh perilaku-perilaku baik lainnya

Pertanyaan berikutnya adalah, dalam sebuah unit usaha, kapan pemilik usaha harus berperilaku baik (beretika) ?
Jawabnya adalah ‘Setiap saat’, selama usahanya masih berjalan. Menjalankan usaha dengan etika tidak bisa memilih-milih waktu, tidak bisa memilih-milih pelanggan, tidak bisa memilih-milih lokasi, karena usaha dan etika adalah melekat. Bisa jadi, meskipun hanya sekali tidak beretika, pelanggan akan kecewa, masyarakat akan marah, karwawan akan sakit hati, pemasok akan ‘kapok’ dan pada gilirannya kepercayaan dan nama baik usaha akan rusak. Bila ini terjadi tidak mudah untuk memperbaikinya.

“Akan butuh banyak perilaku baik (etika) yang harus dilakukan untuk membuat konsumen, masyarakat, karyawan dan yang lainnya puas dan suka….tapi, cukup dibutuhkan satu tindakan tak beretika untuk membuat mereka kecewa dan marah kemudia melupakan rasa puas dan suka mereka…”

Etika dalam menjalankan usaha memang harus dibiasakan dan seringkali harus dipaksakan…dan dalam jangka pendek sepertinya memang akan menambah beban (biaya, usaha, waktu, dll)
Perilaku baik yang dilakukan terus-menerus dan konsisten, serta diturunkan dari generasi-ke generasi akan membentuk perilaku yang mencerminkan seperti apa unit usaha yang sedang dilakukan dan siapa pemiliknya, yang pada akhirnya akan membentuk budaya organisasi. Apakah budaya organisasi itu ? kita diskusikan pada tulisan berikutnya….

Aplikasi Bisnis Sederhana Untuk Mengelola Usaha

Yang dimaksud dengan aplikasi bisnis dalam tulisan ini adaalah aplikasi (sofware) komputer yang bisa dipakai untuk membantu dalam menjalankan usaha. Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa pertanyaan di bawah ini mungkin pernah terdengar atau terlintas di benak para pelaku usaha :

• Siapa bilang penggunaan aplikasi di komputer hanya untuk usaha besar ?
• Siapa bilang setiap usaha harus menggunakan aplikasi komputer ?
• Apa ada aplikasi komputer selain membantu bikin surat (MS Word), bikin faktur, bikin anggaran (MS Excel), bikin presentasi penawaran (MS Power point) yang bisa digunakan untuk membantu mengelola usaha ?
• Dll

Pada dasarnya teknologi informasi (aplikasi bisnis salah satunya) dapat dan memang sebaiknya dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk membuat usahanya semakin efisien, dan mendorong usaha tersebut memiliki daya saing yang lebik dibanding usaha lainnya. Beberapa manfaat yang bisa dirasakan pelaku usaha diantaranya adalah :
• Pemasaran bisa lebih luas dan murah (internet marketing)
• Perubahan desain bisa disimulasikan/dicoba coba dulu tanpa takut rusak, kehabisan bahan, dll (Fotoshop, paint, dll)
• Prmosi bisa lebih menarik
• Pengelolaan keuangan lebih cepat dan mengurangi risiko penyelewengan (aplikasi akuntansi)
• Berbagai Informasi pelanggan bisa disimpan
• Pelayanan bisa lebih cepat, contoh dengan barcode, kasir tidak perlu lagi mengetik kode barang
• Prediksi penjualan bisa dilakukan
• Dan masih banyak lagi

Namun demikian, memang tidak semua usaha harus menggunakan bantuan teknologi informasi tersebut, paling tidak jika :
• Skala usaha masih terlalu kecil (meskipun banyak juga usaha kecil menjadi cepat besar karena memanfaatkan teknologi ini)
• Biaya yang diperlukan lebih besar dari keutungan yang bisa diperoleh
• Tidak ada SDM/karyawan yang bisa mengurus atau menanganinya
• Karakteristik produk yang tidak mungkin dipasarkan secara umum

Lepas dari hal tersebut di atas, ada beberapa aplikasi yang bisa digunakan oleh pelaku usaha untuk mempermudah megelola usahanya. Disamping tidak perlu membeli (karena ada versi yang gratis), aplikasi tersebut juga relatif mudah digunakan. Beberapa aplikasi tersebut diantaranya adalah :

1. QSB
Aplikasi ini bermanfaat untuk membantu pelaku usaha dalam hal :
• Meramalkan nilai penjualan di masa yang akan datang dengan berbagai metode dan pendekatan
• Menentukan jumlah produksi yang paling ‘pas’ dan perubahan yang diijinkan
• Pembagian tugas karyawan yang paling efisien
• Menentukan lokasi usaha yang paling optimal
• Menentukan alokasi pengiriman barang
• Menyelesaiakan masalah antrian yang terjadi
• Dan masih banyak lagi

2. QM for Windows
Aplikasi ini manfaatnya sama dengan aplikasi QSB di atas, namun versi gratisnyasudah tersedia di internet, hanya saja tidak semua fasilitas bisa digunakan.

3. Invest
Aplikasi ini bermanfaat untuk pelaku usaha yang memiliki dana mengganggur dan ingin diinvestasikan ke surat berharga (Investasi ini tidak monopoli pengusaha dengan dana besar, UMKM pun bisa). Denga aplikasi ini, pelaku usaha akan dibantu menempatkan dana menganggurnya dengan pertimbangan-pertimbangan yang lebih bisa dipertanggung jawabkan.

4. CDP
Aplikasi ini sangat bermanfaat bagi pelaku usaha yang sering dihadapkan pada banyak pilihan, ketika akan memutuskan sesuatu, misalnya :
• Mesin dengan merk apa yang akan dipilih
• Jenis transportasi apa yang akan dipakai untuk mengirim barang
• Pemasok mana yang akan dipilih
• Bentuk dan bahan kemasan yang akan digunakan, dll

Dengan aplikasi ini, pelaku usaha akan dibantu menentukan pilihan yang paling memungkinkan (baik), diantara berbagai alternatif pilihan yang ada.

5. OpenOffice
Aplikasi ini menjadi pilihan apabila pelaku usaha ingin membuat dan mencetak berbagai dokumen usaha (surat penawaran, daftar barang, dll). Dengan aplikasi ini pula pelaku usaha bisa membuat anggaran, mengevaluasi kinerja/hasil usaha. Pelaku usaha juga bisa melakukan presentasi dengan lebih menarik dengan bantuan aplikasi ini, dan beberapa manfaat penting lainnya.
Aplikasi ini menjadi piliha, bila pelaku usaha tidak memiliki usaha untuk membeli Microsoft Office (Word, Excel, Power point, Access ), atau takun berdosa karena membeli bajakannya.

Aplikasi di atas hanya sebagian kecil dari banyak aplikasi gratis dan mudah, yang bisa dimanfaatkan untuk membantu mengelola usaha, termasuk aplikasi gratis yang bisa digunakan untuk membantu pelaku usaha dalam memasarkan produknya di internet. Jadi, terbukalah pada kemungkinan ini, usaha menjadi lebih berhasil dengan memanfaatkan berbagai aplikasi komputer yang ada. Bagi pelaku usaha yang mau sedikit lelah, bisa keliling ke universitas-universitas, di sana juga banyak aplikasi-aplikasi gratis yang dibuat oleh mahasiswa yang bisa digunakan untuk membantu mengelola usaha, seperti aplikasi keuangan sederhana untuk UMKM, apalikasi menghitung pajak usaha, dan masih banyak lagi. Selamat mencoba

Memiliki Produk Yang Handal

Setiap konsumen pasti menghendaki, bahwa dengan uang yang telah dibayarkan atau dikorbankan, konsumen akan mendapat produk sesuai dengan harapan, dan bila sebaliknya maka konsumen akan kecewa dan bila konsumen sampai kecewa, kegagalan usaha tinggal menunggu hari saja.

Banyak produk hanya menonjolkan harga yang murah, bentuk yang menarik, hingga kegunaan yang banyak, namun melupakan inti dari produk itu sendiri. Sebuah produk baru bisa dikatakan produk yang baik bila mampu menjalankan fungsi utamanya. Sebagai contoh, sebuah HP fungsi utamanya adalah untuk berkomunikasi (menelepon atau sms). Jadi akan menjadi tidak artinya meskipun harganya mahal, warnanya dan modelnya bagus, model terbaru, dst, , namun untuk menelepon sering putus baterainya cepat habis, atau tombolnya terlalu sensitif, dan seterusnya. Sebagai sebuah produk, fungsi utama ini harus dipastikan dulu, baru memperhatikan masalah lainnya, seperti kemasannya, warnanya, bentunya, harganya, dll.

Dengan demikian, bila ingin bertahan lama dan berkembang, setiap usaha wajib memiliki produk yang ‘baik’, tidak hanya harga yang terjangkau saja, namun juga harus handal.

Dalam bahasa sederhana, produk handal dapat diartikan sebagai produk yang berkualitas, produk yang sesuai harapan konsumen. Untuk lebih mudahnya, berikut ini beberapa ciri atau tanda-tanda bahwa sebuah produk tersebut handal atau tidak.

1. Produk tersebut memiliki umur ekonomis yang cukup lama. Semakin lama umur atau usia penggunaannya akan semakin baik bagi konsumen. Sebagai contoh, kalau konsumen membeli roti tawar, maka semakin lama (tanpa upaya negatif, tentunya) roti tersebut bisa bertahan dan dapat dimakan, semkin handal roti tersebut. Kalau konsumen membeli sepatu, maka dengan harga yang dibayarkan, semakin lama sepatu tersebut bisa bertahan dana dapat digunakan, semakin handal sepatu tersebut. Bahkan dibeberapa contoh, produk tersebut semakin handal, karena mampu bertahan lebih lama dari usia atau umur ekonomis wajarnya. Misalkan, dengan membeli sepatu dengan harga Rp 30.000,- seorang konsumen cukup tahu diri bahwa sepatu tersebut bisa bertahan 3 bulan saja sudah bersyukur, namun ternyata sudah 6 bulan lebih sepatu tersebut masih layak digunakan, maka produk tersebut sudah sangat memenuhi kriteria handal yang pertama.
2. Apabila terjadi kerusakan, mudah dan cepat perbaikannya, sehingga segera dapat digunakan kembali. Ciri yang kedua sebuah produk yang handal adalah, apabila produk tersebut mengalami kerusakan, mudah untuk diperbaiki. Mudah di sini, bisa berarti mudah dicari komponen yang rusaknya, karena banyak dijumpai di berbagai toko yang ada, maupun mudah dalam memperbaikinya, baik diperbaiki sendiri maupun banyak tempat yang bisa memperbaikinya. Sebagai contoh, sebuah produk kursi yang rusak karena bautnya patah, konsumen dengan mudah membeli baut pengganti di banyak toko serta dapat memperbaikinya sendiri, atau kalaupun minta tolong orang, dengan mudah menemukan orang atau bengkel yang bisa memperbaiki kursi tersebut. Sebalinya produk yang tidak handal adalah produk yang sparepartnya sulit dicari, kalu rusak sulit diperbaiki dan kadang-kadang harus menunggu waktu yang lama untuk memperbaikinya.
3. Kerusakan salah satu komponen tidak akan berpengaruh banyak pada fungsi utama produk tersebut. Seperti kita ketahui seringkalai sebuah produk terdiri dari berbagai komponen. Sebagai contoh produk inovatif ‘Sandal Boneka’. Produk tersebut dikatakan handal apabila misalnya karena suatu sebab hiasan bonekanya lepas atau rusak, sandal tersebut tetap bisa dan pantas digunakan. Jangan samapi hanya karena itu, sandal tersebut menjadi tidak bisa digunakan atau menjadi memalukan bila digunakan
4. Mudah digunakan dan mudah dirawat. Ciri selanjutnya adalah bahwa produk yang handal harus mudah digunakan, mulai dengan pemasangan yang mudah, maupun petujuk penggunaan yang mudah dipahami, sehingga konsumen tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menikmati manfaat produk tersebut. Disamping itu, produk tersebut harus memberi kemudahan bagi konsumen untuk merawatnya. Sebagai contoh produk ‘Baju’ baju yang baik adalah baju yang tidak hanya mudah dipakai namun juga harus mudah dirawat, dengan perawatan pada umumnya. Semakin sulit dipakai dan semakin sulit perawatannya (mencuci dan mennyimpannya, misalnya), semakin tidak handal produk tersebut, karena menimbulkan masalah tambahan bagi konsumen.
5. Ramah lingkunga, saat ini dengan terus menurunnya kualitas lingkungan di sekitar kita, semakin menuntuk produk yang ramah lingkungan, tidak hanya bahan baku yang digunakan saja yang harus ramah longkungan, namun masa penggunaaan dan sampah yang dihasilkannyapun harus ramah lingkungan, syukur-syukur tidak menghasilkan sampah, dengan kata lain semua komponen dapat dikonsumsi oleh konsumen.

Demikianlan beberapa hal berkaitan dengan ‘baik’ nya sebuah produk, produk yang handal memang tidak akan menjamin 100% produk akan laku atau berhasil di pasar, namun paling tidak dengan memiliki produk yang handal, sebuah unit usaha akan lebih mudah mendapat apresiasi dan pujian dari konsumen, karena konsumen mendapat produk yang sesuai atau bahkan melebihi harapannya. Semoha pelaku usaha mendapat manfaat dari tulisan singkat ini. Amin. Disarikan dari berbagai sumber

Pentingnya Merk (Bagian 2)

Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan bagiamana pentingnya ‘Merk’ untuk sebuah produk , tidak hanya memudahkan produk dikenal oleh konsumen namun juga dapat melindungi produk dari pemalsuan dari pihak lain, dan masih banyak manfaat lainnyan.

Pemilihan merk dan atau nama usaha membutuhkan prioritas dan perhatian yang serius, tidak kalah penting dengan aspek usaha lainnya. Beberapa tip dalam memilih merk dan nama usaha yang baik diataranta adalah (Antonius, 2006, dan sumber lainnya) :

· Pertama, Merk sebaiknya mudah diucapkan. Hal ini penting, terutama untuk produk yang tidak terbatas/tersegmen. Dengan konsumen yang beragam, harus disadari bahwa tidak semua konsumen memiliki tingkat pengetahuan atau pendidikan yang sama. Sehingga Merk yang dengan mudah dibaca oleh seorang konsumen belum tentu mudah pula dibaca oleh konsumen lain. Beberapa tip yang mendukung agar merk mudah dibaca antara lain: menggunakan kata atau istilah yang berasal dari bahasa sehari-hari konsumen, seperti ‘segar’, ‘maju’, ‘kelinci’, ‘mawar’, dan sejenisnya. Atau bias juga dengan menggunakan merk sesuai dengan bahasa daerah dimana produk tersebut dipasarkan.

· Kedua, Merk sebaiknya mudah diingat, selain agar mudah dibaca pemilihan merk seperti dijelaskan di poin pertama juga akan berdampak mudahnya konsumen untuk mengingat merk tersebut….jangan sampai terjadi, dibaca saja susah apalagi diingat ?

· Ketiga, Merk sebaiknya mudah dikenali dalam arti konsumen dengan mudah mengenali, menemukan, dan membedakannya dengan produk sejenis. Seiring dengan mudah dibaca, dan diingat, merk akan mudah dikenali dan tentunya juga mudah konsumen yang baru pertama kali ingin membeli produk tersebut. Untuk bias mudah dikenali, merk perlu dibuat dengan misalnya, penulisan huruf dan kata yang jelas, komposisi atau susunan yang jelas, kombinasi dengan gambar yang jelas dan sesuai, pemilihan warna yang tepat dan jelas. Dan sejenisnya.

· Keempat, Merk sebaiknya didesain dengan menarik. Desain yang menarik tidak hanya akan memudahkan produk mudah dikenali, namun juga dapat menciptakan citra yang baik untuk produk tersebut. Desain yang menarik juga akan membuat produk lebih menonjol dibandingkan dengan produk sejenis lainnya, sehingga potensi untuk dilihat dan dipilih oleh konsumen juga akan lebih besar peluangnya.

· Kelima, Merk sebaiknya menampilkan manfaat produk. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, merk yang dipilih sebaiknya tidak hanya menarik saja, namun ada baiknya disesuaikan dengan produk yang bersangkutan. Merk sebaiknya bias menggambarkan manfaat dari produknya. Sebagai contoh penggunaan kata ‘segar’, ‘hangat’, ‘pintar’, dapat menjadi piliha. Meskipun tidak ada salahnya merk atau nama produk, menggunakan merk atau nama dari binatang, anggota badan, nama keluarga, dan sebaginya.

· Keenam, Merek sebaiknya dapat menonjolkan citra perusahaan. Salah satu maksud digunakannya suatu nama usaha atau merk usaha adalah untuk menunjukkan bahwa produk tersebut baik, dalam arti layak untuk dipilih, layak untuk dibeli dan layak untuk dikonsumsi. Oleh karena itu merk atau nama usaha yang dipilih harus bias mencerminkan itu. Sebagai contoh, produk air mineral, merk yang digunakan harus dapat menunjukkan kepada konsumen bahwa perusahaan melalui produknya sangat mengutamakan kesehatan (higienitas).

· Ketujuh, Merk sebaiknya menonjolkan perbedaan dengan produk sejenis lainnya. Untuk membantu hal ini, biasanya dibantu dengan serangkaian kata atau satu kalimat yang menyertainya, seperti kata-kata ‘no. 1’, ‘tidak sekedar rasa’, ‘kami memang beda’, ‘tiada duanya’, ‘rasakan bedanya’, dll. Serangkaian kata tersebut sebagai penegasan bahwa produk dengan merk tersebut adalah berbeda dengan produk sejenis lainnya.

· Kedelapan, Merk sebaiknya tidak melanggar ‘aturan/adat. Tidak hanya di Indonesia, masih banyak masyarakat di berbagai Negara, salah satunya di Indonesia, yang masih sensitive terhadap symbol, warna, atau kata tertentu yang digunakan sebagai merk. Sebagai contoh, di Indonesia, symbol Negara seperti burung garuda,bendera merah putih, simbo-simbol agama sebaiknya tidak digunakan sebagai merk produk pada umumnya, kecuali untuk produk yang melekat pada symbol itu. Seperti contoh Mukena atau peci dengan merk masjid. Dengan kata lain, merk masjid menjadi berpotensi menimbulkan masalah bila dipakai untuk merk produk konsumtif misalnya, atau produk-produk yang kurang ‘pantas’ diberi merk ‘Masjid’, paling tidak dari pandangan kaum muslimin.

· Kesembilan. Membuat merk harus berfikir jangka panjang, merk bukan untuk keperluan usaha sehari dua hari…tapi selamanya. Oleh karena itu itu pemilihan merk dan nama usaha harus dilakukan dengan sungguh sungguh. Merk adalah identik dengan produk, meskipun dapat diganti namun kesalahan pemilihan merk atau nama usaha dapat menjadi salah satu sebab kegagalan produk, yang berarti kegagalan usaha juga.

· Merk terlindungi dengan baik (didaftarkan ke pemerintah). Merk atau nama usaha sebaiknya segera didaftarakan ke aparat pemerintan (seperti Dirjen HKI). Beberapa persyaratan dan prosedur untuk mendaftarkan merk ini dapat dilihat pada Undang-undang merk No. 15 Tahun 2001. Secara formalpendaftaran merk memang cukup mahan untuk kalangan usaha kecil (kurang lebih Rp 650.000,-), namun dengan bantuan dan koordinasi dengan DInas terkait, ada jalan keluar yang mungkin bias diberikan khususnya bagi kalangan usaha kecil.

Demikianlah penjelasan bagian kedua, mengenai berbagai hal tentang merk. Sekali lagi, bagi sebuah produk/usaha, merk atau nama usaha sangatlah penting. Kesalahan dalam memilih merk tidak hanya berpotensi menghambat pemasaran sebuah produk atau usaha, namun juga juga berpotensi kegagalan usaha dalam jangka panjang, dan bila tidak teliti juga dapat menimbulkan konflik dengan pelaku usaha yang lainnya.

Oleh karena itu, meskipun terlihat sepele, pelaku usaha perlu secara serius memperhatikan merk atau nama usaha yang digunakan. Merk harus mampu menjadi factor pendukung dengan memperhatikan cirri-ciri merk atau nama usaha yang baik di atas, dan bukan sebaliknya merk atau nama usaha yang digunakan justru menjadi penyebab mundur atau gagalnya sebuah usaha.

Pembahasan tentang merk sebenernya masih sangat banyak, seperti misalnya bagaimana memilih huruf, bagaimana memilihi warna karena setiap warna memiliki makna, dan seterusnya. Oleh karena itu, tulisan berikutnya akan dibahas mengenai pemilihan warna dalam atribut-atribut usaha. Sekian dan semoga bermanfaat

Pentingnya Merk dan Nama Usaha Bagi Sebuah Produk

Bagi sebagian pelaku usaha, merk atau nama usaha, bukan merupakan prioritas utama, mereka lebih fokus pada masalah-masalah seperti bahan baku, harga jual, lokasi usaha, persaingan, dan beberapa masalah usaha lainnya. Namun bila diperhatikan, masalah ‘merk’ bisa turut menentukan berhasil tidaknya sebuah usaha. Banyak contoh produk yang sukses karena pemilihan merk yang tepat.

Menurut UU no. 15 tahun 2001, merek adalah adalah tanda berupa gambar, nama, kata, huruf, angka-angka, susunan atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa

Jadi jelas, dari definisi tersebut ada dua hal penting yang perlu diperhatikan :
1. Merek adalah tanda dari sebuah produk, dimana tanda itu bisa berupa gambar, nama, huruf, angka, kata, atau kombinasi dari semuanya
2. Merek itu sebagai pembeda antara produk yang satu dengan yang lainnya. Jadi merek suatu produk tidak boleh sama dengan merk yang telah digunakan oleh produk lain.

Pada perkembangannya, merk atau nama usaha tidak hanya sekedar nama sebuah produk, namun sudah mewakili kesan, kualitas, manfaat, dan atribut lain dari sebuah produk, sehingga tidak heran apabila ada dua produk yang secara kualitas relatif sama baiknya, namun memiliki harga yang berbeda, karena merk kedua produk tersebut berbeda. Dengan kata lain, seringkali konsumen tidak hanya membeli produk karena manfaat atau kegunaannya saja, tapi juga secara sadar maupun tidak, membeli karena ‘merk’nya.

Pertanyaan yang mucul adalah mengapa sebuah produk membutuhkan merk ?
Berikut ini adalah beberapa jawabannya (Berta, 2003) :

Pertama, Merek atau nama usaha akan memudahkan perusahaan memproses pesanan dan menelusuri masalah. Dengan adanya merk, baik konsumen maupun pemilik usaha akan dengan mudah memilih produk yang akan dibeli atau dijual, hanya dengan menyebut merk-nya sama, bahkan ketika transaksi tersebut dilakukan melalui telepon sekalipun. Hal ini akan makin terasa pentinynya merk, ketika pelaku usaha memiliki lebih dari satu jenis produk yang akan dijual. Dengan kata lain, pembeli akan mengalami kesulitas melakukan pembelian atau pemesanan bila berbagai produk yang dijual tidak memiliki merk, begitu pula bagi pelaku usahannya.

Kedua, Merek atau nama usaha memberi ciri unik dan perlindungan hukum
Dengan merk, pelaku usaha dapat membantu konsumen dengan mudah membedakan dengan produk sejenis lainnya, bahkan tanpa secara fisik (meraba, mencium, mencoba). Di sampin itu merk juga akan melindungi produk tersebut dari pemalsuan dan peniruan oleh pesaing. Dengan merk yang terdaftar, pelaku usaha dapat melaporkan pihak lain yang mencoba menggunakan merk yang sama. Oleh karena itu, tanpa merk, maka produk akan sulit dibedakan dengan produk sejenis lainnya (harus secara fisik dilakukan, dan risiko pengurusan pembajakan akan mengalami kendala.

Ketiga, Merek atau nama usaha dapat membangun dan menjaga kesetiaan konsumen
Merk yang baik (diikuti dengan kualitas yang baik, harga yang terjangkau, pelayanan yang baik, dll), secara bertahap tertanam di benak konsumen (Brand Awarness), sehingga sulit bagi konsumen yang bersangkutan untuk pindah ke produk dengan merk yang lain. Tanpa menyebut nama, berapa banyak keluarga yang dengan setia menggunakan pasta gigi dengan merk tertentu, secara turun temurun. Begitu juga contoh kesetiaan konsumen pada merk-merk tertentu untuk sabun mandi mereka, kecap mereka, dan masih banyak lagi.

Keempat, Merek atau nama usaha dapat membantu dalam segmentasi pasar
Seringkali pelaku usaha ingin membagi atau melayani beberapa kelompok konsumen, misalnya kelompok konsumen dengan penghasilan menengah ke bawah dan kelompok konsumen dengan pengahsilan atas. Dengan merk, keinginan tersebut menjadi lebih mudah, pelaku usaha akan menggunakan merk yang berbeda (tentu dengan kualitas, harga yang berbeda pula) untuk setiap kelompok tersebut.

Kelima, Merek dapat membangun citra perusahaan
Usaha keras pelaku usaha untuk membangun citra, kesan atau image yang baik di mata konsumen akan terbantu oleh keberadaan produk yang memiliki merk, sehingga secara bertahap merk tersebut akan mencerminkan atau identik dengan kesan konsumen terhadap produk tersebut. Banyak merk di pasaran yang ‘pasti’ akan memberi kesan yang baik di mata konsumen. Sebagai contoh (tanpa menyebut nama)…Untuk produk mie instan, merk apa yang dipersepsikan baik oleh konsumen ? Untuk tempat berbelanja, toko mana yang dipersepsikan mahal, tidak lengkap..dst.

Keenam, Merek atau nama usaha dapat membantu produk baru diterima lebih cepat dan mudah oleh pasar.
Karena sebelumnya sudah dikenal konsumen dengan merk atau nama usaha-nya, maka akan lebih mudah bagi pelaku usaha bila kemudian mengembangkan produk baru dan kemudian memasarkannya. Dengan merk yang telah dimiliki, konsumen dengan lebih mudah akan menerima produk itu, karena didasarkan pada pengalaman sebelumnya menggunakan produk dengan merk atau nama usaha yang sama. Begitu sebaliknya, merk nama usaha yang telah dipersepsikan tidak baik, akan kesulitas dalam mengeluarkan atau memasarkan produk barunya.

Oleh karena itu, pemilihan merk dan atau nama usaha membutuhkan prioritas dan perhatian yang serius, tidak kalah penting dengan aspek usaha lainnya. Beberapa tip dalam memilih merk dan nama usaha yang baik diataranta adalah (Antonius, 2006, dan sumber lainnya) :
• Merek sebaiknya mudah diucapkan
• Merek sebaiknya mudah diingat
• Merek sebaiknya mudah dikenali
• Merek sebaiknya didesain dengan menarik
• Merek sebaiknya menampilkan manfaat produk
• Merek sebaiknya dapat menonjolkan citra perusahaan
• Merek sebaiknya menonjolkan perbedaan dengan produk sejenis lainnya
• Merek sebaiknya tidak melanggar ‘aturan/adat,
• Membuat merk harus berfikir jangka panjang, merk bukan untuk keperluan usaha sehari dua hari…tapi selamanya
• Merk terlindungi dengan baik (didaftarkan ke pemerintah)

Bagaimana penjelasan dari masing-masing tip tersebut, tunggu tulisan saya pada tulisan berikutnya. Semoga bermanfaat.

Mengelola Risiko Usaha (Bagian 2)

Penjelasan mengenai risiko usaha terbagai dalam dua bagian, dan setelah bagian pertama dimuat dalam tulisan sebelumnya, bagian kedua akan dijelaskan dalam tulisan kali ini.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa :
Pertama, setiap pelaku usaha pasti akan menhadapi berbagai macam risiko yang apabila tidak dikelola dengan baik risiko tersebut, maka bisa mengakibatkan kerugian.
Kedua, secara umum, pelaku usaha seringkali tidak bisa menghilangkan risiko kerugian yang akan terjadi, yang dapat dilakukan hanya mengurangi risiko tersebut, dengan berbagai upaya atau peengelolaan risiko yang ada.

Seperti telah disinggung sebelumnya, ecara ringkas, inilah lima langkah dasar untuk mengelola risko tersebut :

1. Identifikasi (buat daftar ) setiap risiko yang bisa terjadi
2. Lakukan analisis dan rangking atau urutkan sesuai dengan besarnya dampak kerugian yang akan ditimbulkannya
3. Tentukan upaya-upaya untuk mengatasinya, sesuai dengan urutan yang ada
4. Lakukan upaya tersebut, sesuai pilihan skenario yang telah dibuat
5. Lakukan evaluasi

Dengan penjelasan yang sederhana, kelima langha tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pertama, pelaku usaha perlu mengidentifikasi dan membuat daftar risiko apa saya yang akan dihadapi dan bisa merugikan usahanya. Sebagai contoh sebuah usaha SEPATU, dapat membuat daftar resiko usaha sebagai berikut :
a. Risiko bahan baku (kulit) yang tidak selalu tersedia
b. Risiko karena selera konsumen yang selalu berubah
c. Risiko kenaikan harga bahan baku lainnya, dan seterusnya

Yang perlu dipahami dalam tahap ini adalah, bahwa setiap pelaku usaha memiliki risiko yang bisa saja sama dengan usaha yang lain (risiko kenaikan harga misalnya), namun juga bisa berbeda antara satu jenis usaha dengan jenis usaha lainnya. Sebagai contoh jenis risko yang dihadapai usaha SEPATU akan berbeda dengan risiko usaha dari usaha BAKSO.

Kedua, Menganalisis dan mengurutkan risiko-risiko dalam dalam daftar yang sudah dibuat tersebut, mulai dari yang paling penting (karena paling berbahaya atau karena potensi ruginya paling besar) sampai jenis risiko yang tidak terlalu penting. Sebagai contoh, bagi pengusa sepatu di atas, perubahan selera konsumen adalah risiko yang paling harus diperhatikan, baru menysul risiko karena sulitnya bahan baku dan seterusnya.

Yang perlu diperhatikan dalam tahap ini adalah, bahwa risiko yang penting bagi seorang pengusaha belum tentu penting juga untuk pengusaha yang sama. Sebagai contoh di atas, bagi seorang pengusaha sepatu yang sangat kreatif, perubahan selera konsumen bukanlah masalah baginya, justru kelangkaan bahan baku yang perlu harus diwaspadai.

Ketiga, setelah tau mana risiko yang prioritas dan mana risiko yang kurang prioritas, maka langkah selanjutnya adalah memutuskan dan menyiapkan langkah-langkah untuk mengatasi risiko tersebut. Dalam contoh di atas, risiko karena adanya perubahan selera konsumen harus di atas dengan diversifikasi dan ide-ide kreatif untuk produk sepatu yang diproduksi, kesulitan bahan baku diatasi dengan memperbanyak jsumber pemasok, dan persediaan yang cukup dan setrusnya.

Beberapa tip yang dapat dilakukan adalah :
a. Kalau risiko tersebut sering terjadi dan bila terjadi dampaknya besar, lebih baik hindari saja melakukan usaha tersebut, karena potensi ruginya menjadi sangat besar. Misalnya bila suatu usaha terletak di daerah yang sering terjadi gempa bumi. Jangan berusaha di tempat tersebut.
b. Kalau risiko tersebut jarang terjadi namun sekali terjadi dampaknya besar, lebih baik diasuransikan. Misalnya adanya pencurian.
c. Kalau risiko tersebut sering terjadi namun dampaknya kecil, lakukan langkah pencegahan saja. Misalnya terjadinya hujan ditengah-tengan jam operasional usaha
d. Kalau risiko tersebut jarang terjadi dan dampaknya juga kecil, hadapi saja risiko tersebut. Kehabisan persediaan plastik pembungkus misalnya.

Keempat, lakukan apa yang sudah direncakan dan dipilih untuk mengatasi berbagai risiko yang ada tersebut. Percuma saja, ketiga langkah di atas sudah baik dan tepat namun tidak dilaksanakan. Bila ini terjadi maka potensi mengalami kerugian tetap akan terjadi.

Kelima, bila sudah dilaksanakan berbagai upaya untuk mengelola dan mengurangi risiko usaha, maka evaluasi harus selalu dilakukan untuk melihat dan mengetahui apakah pilihan upaya untuk mengatasi berbagai risiko yang ada sudah efektif belum. Benarkah potensi kerugian sudah bisa dikurangi, masih tetap saja, atau bahkan malah menjadi semakin besar ? Sebagai contoh, benarkah diversifikasi produk dan memunculkan ide-ide kreatif mampu menurunkan risiko karena perubahan selera konsumen ?

Bila risiko kerugian mulai berkurang berarti tindakan yang dipilih pada langklah ketiga tadi sudah tepat, perlu dipertahankan dan ditingkatkan.
Bila risiko kerugian masih sama saja, maka tindakan mungkin perlu dirubah dengan cara pengelolaan risko yang lain atau dikombinasikan dengan yang lain
Bila risiko kerugian malah menjadi semakin besar, maka pilihan tindakan yang diambil kurang tepat, atau muncul risko baru yang menyebabkan potensi kerugian justru semakin besar.

Langkah berikutnya adalah kembali lagi langkah pertama, membuat daftar baru risiko usaha. Mengapa harus membuat daftar baru rissiko secara rutin ?
Karena, bisa saja dengan pengelolaan risiko sebelumnya, jumlah risiko usaha menjadi berkurang, masih tetap sama, atau bahkan menjadi lebih banyak. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini bisa terjadi. Perubahan lingkungan usaha, baik dalam perusahaan sendidir, lingkungan sekitar dan lingkungan yang lebih luas sangat mempengaruhi banyak sedikitnya, besar kecilnya, berbahaya tidaknya risiko usaha yang akan dihadapi oleh setiap pelaku usaha.

Demikianlah, para pelaku usaha sekalian, sekilas mengenai risiko usaha dan cara mengelolanya. Sekali lagi risiko usaha tidak bisa dihilangka sama sekalai, yang bisa dilakukan hanyalah mengurangi dan memperkecil risiko usaha tersebut. Semoga berhasi. Disarikan dari berbagai sumber

Mengelola Risiko Usaha (Bagian 1)

Secara sederhana, risiko usaha dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya penyimpangan hasil usaha dari yang diharapkan, atau kemungkinan terjadinya kerugian usaha. Di dalam prakteknya risiko tersebut tidak dapat dihilangkan, pelaku usaha hanya bisa menghindari, menghadapi, memindahkan atau mengurangi risiko tersebut. Menghindari berarti tidak melakukan usaha tersebut. Menghadapi berarti bersedia menanggung kerugian yang mungkin akan terjadi/dialami. Memindahkan berarti meminta pihak lain (asuransi misalnya) untuk menanggung risiko yang akan terjedi, dan mengurangi risiko berarti pelaku usaha melakukan berbagai hal untuk mengurangi/memperkecil risiko kerugian yang akan terjadi.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, setiap usaha memiliki risiko, mulai dari saat persiapan hingga usaha tersebut dudah berjalan. Pada saat persiapan, banyak risiko sudah menanti, seperti :
• Risiko karena salah memilih jenis usaha yang akan dijalankan
• Risiko karena salah memilih lokasi usaha
• Risiko karena salah membuat anggaran
• Risiko karena salah memilih rekanan
• Risiko karena salah memilih waktu pembukaan usaha
• Dan masih banyak lagi

Bila risiko-risko saat persiapan tersebut terjadi, maka berbagai kerugian sudah menanti, seperti sepinya pengunjung, membengkaknya biaya, konflik dengan rekan kerja, dan sebagainya.

Disamping itu, banyak risiko juga sudah menanti saat usaha mulai berjalan, di bagian produksi beberapa risiko yang bisa terjadi adalah :
• Risiko langkanya bahan baku
• Risiko kenaikan harga bahan baku
• Risko salah dan keterlambatan kedatangan pesanan bahan baku
• Risiko kerusakan mesin
• Risiko listrik atau telepon mati
• Risiko kesalahan proses produksi, dll

Berbagai macam risiko dibagian produksi tersebut dapat mengakibatkan biaya produksi menjadi naik, sehingga mengurangi daya saing produk. Dampak merugikan lainnya adalah keterlambatan atau terganggunya proses produksi, sehingga mengecewakan konsumen, dan seterusnya.

Tidak hanya dibagian produksi, setelah usaha berjalan, bagian pemasaran juga dihadapkan dengan berbagai macam risiko, seperti :
• Risiko dari adanya persaingan
• Risiko nanik turunnya daya beli masyarakat
• Risiko berubahnya selera konsumen (tren yang berubah)
• Risiko kenaikan nilai tukar
• Risiko karena menjual secara kredit, dll

Berbagai macam risiko pemasaran tersebut dapat menimbulkan kerugian usaha yang diakibatkan dari tidaklancarnyaa, macetnya cicilan penjualan kredit yang diberikan, pembajakan produk, menurunnya permintaan konsumen karena menurunnya daya beli, usang atau kedaluwarsanya model produk yang dipasarkan, dan setrusnya.

Dalam prakteknya, setelah usaha berjalan, tidak hanya bagian produksi dan bagian pemasaran saja yang memiliki risiko, hampir setiap bagian dihadapkan pada berbagai macam risiko, bagian SDM juga memiliki risiko, seperti tidak hadirnya karyawan, berpindahnya karyawan kunci ke perusahaan pesaing, demo yang dilakukan karyawan, sakitnya karyawan, dan sejenisnya. Secara umum risiko tersebut akan mengakibatkan terganggunya proses produksi, proses pemasaran, dan proses dalam sebuah usaha lainnya.

Demikian pula bagian keuangan, juga harus memperhatikan risiko adanya tindakan kecurangan, kekurangan modal, kesalahan pencatatan, dll. Berbagai risiko di bagian keuangan ini akan berdampak pada berkurangnya keuntungan, tidak sehatnya usaha, hingga terganggunya bagian lain.

Secara umum, risiko yang telah dijelaskan tersebut sebagian besar berasal dari dalam usaha itu sendiri (kecuali beberapa risiko seperti kurs, turunnya daya beli konsumen, dll). Namun demikian, masih ada beberapa risiko dari luar perusahaan yang patut diwaspadai, seperti :
• Risiko karena perubahan peraturan pemerintah, seperti penataan jalur hijau, berkaitan dengan pajak usaha, maupun ijin-ijin usaha lainnya
• Riiko adanya bencana alam, yang seringkali tidak terduga
• Risiko perkembangan teknologi yang begitu cepat, sehingga tekologi yang ada menjadi cepat usang atau tertinggal
• Reaksi masyarakat yang bisa muncul tiba-tiba, hanya karena sebuah isu
• Pemberitaan media masa, dll

Dengan semua penjelasan tersebut di atas akhirnya dapat dipahami, bahwa setiap usaha memang tidak dapat terlepas dari adanya risiko usaha, dan sekalai lagi yang dapat dilakukan hanya mengelola sebaik mungkin risiko tersebut, sehingga dampak kerugiannya dapat ditekan.

Selanjutnya, bagaimana cara mengelola risiko-risko tersebut ? Secara ringkas, inilah lima langkah dasar untuk mengelola risko tersebut :

1. Identifikasi (buat daftar ) setiap risiko yang bisa terjadi
2. Lakukan analisis dan rangking atau urutkan sesuai dengan besarnya dampak kerugian yang akan ditimbulkannya
3. Tentukan upaya-upaya untuk mengatasinya, sesuai dengan urutan yang ada
4. Lakukan upaya tersebut, sesuai pilihan skenario yang telah dibuat
5. Lakukan evaluasi

Untuk mendapat penjelasan lengkap dari langkah-langkah tersebut, penulis akan membahasnya pada tulisan ini berikkutnya.

Memahami Permintaan Konsumen

Salah satu kunci keberhasilan sebuah usaha adalah dengan memahami permintaan dari konsumen. Secara teori, ada hukum permintaan yang mengatakan “Apabila harga sebuah produk tinggi/mahal, maka permintaan konsumen akan berkurang, dan sebaliknya bila harga produk tersebut turun maka permintaan konsumen terhadap produk tersebut akan meningkat”, dengan catatan faktor selain harga, untuk sementara dianggap tidak berubah (ceteris paribus).

Hukum permintaan tersebut memberikan pesan yang sederhana bagi pelaku usaha, jika ingin permintaan dari konsumen naik, maka turunkanlah harga. Namun demikian, dalam kehidupan sehari-hari, seringkali hukum tersebut tidak berjalan karena selain harga banyak faktor lain yang mengalami perubahan (syarat ceteris paribus tidak berlaku). Sehingga, meskipun telah menurunkan harga, permintaan tidak kunjung mengalami peningkatan, karena ternyata :

a. Meskipun harga sudah lebih murah, namun harga barang sejenis milik pesaing jauh lebih murah (penurunan harganya lebih banyak)

b. Pendapatan konsumen atau daya beli konsumen turun lebih besar dari % penuruan harga tersebut, sehingga meski sudah murah namun tetap saja masyarakat tidak menambah pembeliannya atau belum mampu membelinya

c. Pelayanan yang buruk, sehingga meski harga sudah turun namun konsumen merasa enggan membeli karena mendapatkan perlakuan/pelayanan yang tidak baik

d. Kualitas yang menurun, sehingga konsumen tetap tidak menambah permintaannya karena menyadari bahwa meski harga turun namun konsumen akan mendapat produk dengan kualitas yang juga kurang baik.

Masih banyak faktor lain yang bisa terjadi (seperti lokasi, kelengkapan dan ketersediaan produk dalam jumlah yang cukup, cara pembayaran, dll), sehingga kebijakan penurunan harga tidak selalu dikuti dengan naiknya permintaan.

Dengan memahami ini, maka yang perlu dilakukan adalah mencoba mengantisipasi faktor-faktor selain harga tersebut. Bila ingin permintaan meningkat dengan penurunan harga yang telah dilakukan, maka pelaku usaha harus tetap memperhatikan harga dari pesaing, tetap memberikan pelayanan yang baik dan seterusnya.

Permintaan Riil dan Permintaan Potensial

Hal lain yang perlu diketahui oleh pelaku usaha adalah tentang Permintaan Riil dan Permintaan Potensial. Permintaan riil adalah permintaan konsumen yang kemudian diikuti dengan terjadinya transaksi (benar-benar menjadi transaksi), smentara permintaan potensial, adalah permintaan yang memiliki potensi menjadi sebuah transaksi, namun masih memerlukan upaya tambahan dari pelaku usaha agar menjadi permintaan riil.

Seringkali kita jumpai, karena pelaku usaha suddah melakukan promosi dengan baik, kemudian seorang konsumen sudah datang ke lokasi usaha, sangat tertarik dan ingin membeli sebuah produk, namun kemudian membatalkan niatnya. Mengapa demikian ? Ternyata warna diinginkan tidak ada, ukurang yang dikehendaki tidak tersedia, harus membayar tunai sementara uang yang dibahwa tidak cukup, tidak tersedia layanan antar padahal produk yang dibeli sangat besar ukurannya dan berat, dan alasan sejenis lainnya.

Dengan contoh tersebut dapat dilihat bahwa pelaku usaha sudah kehilangan kesempatan (potensi) mendapat sebuah transaksi, hanya karena tidak menyediakan pilihan warna dan ukuran yang komplit, tidak menerima pembayaran dengan kartu kredit atau tidak ada skema pembayaran secara kredit, dan tidak bersedia membantu mengantar produk yang akan dibeli, dan setrusnya. Oleh karena itu, agar permintaan potensial tersebut berubah menjadi transaksi maka penyebab-penyebab konsumen tadi membatalkan niatnya, perlu diatasi.

Permintaan Karena Keinginan dan Kebutuhan Konsumen

Pada dasarnya, permintaan konsumen dapat muncul dari keinginan dan atau kebuutuhan konsumen. Terus, apa bedanya permintaan yang datang dari keinginan dan dari kebutuhan konsumen ?

Bagi konsumen, keinginan tidak selalu harus terpenuhi, misalnya ingin baju yang bahal, sepatu yang bagus, ingin makan yang enak, ingin HP yang canggih, dll. Keinginan konsumen yang belum terpenuhi biasanya bisa diganti dengan yang lainnya, contoh, belum terpenuhinya keinginan memiliki HP yang canggih karena keterbatasan uang yang dimiliki, masih bisa diganti dengan membeli terlebih dahulu HP yang sesuai anggaran, atau menunggu uang terkumpul dulu. Sementara, bagi konsumen kebutuhan adalah sesuatu yang harus terpenuhi. Kebutuhan akan makan, minum, transportasi, dll. Kebutuhan ini juga umumnya tidak dapat diganti sehingga mutlah harus dipenuhi. Konsumen yang sedang haus hanya bisa dipenuhi dengan sebuah produk minuman. Konsumen yang ingin bepergian jauh, hanya bisa dipenuhi dengan alat transportasi.

Dengan pemahaman tersebut, sangat disarankan pelaku usaha untuk melakukan dua hal ini :

  1. Memiliki produk yang merupakan kebutuhan konsumen, karena produk yang merupakan kebutuhan konsumen akan memiliki potensi transaksi yang lebih besar dibanding produk yang baru merupakan keinginan konsumen
  2. Kalaupun produk yang diusahakan merupakan produk keinginan konsumen, pelaku usaha harus mampu membuat produk itu menjadi kebutuhan konsumen. Perhatikan produk HP, bagi konsumen dahulu masih menjadi keinginan, sehinga tidak/belum terbeli tdak menjadi masalah, namun saat ini HP sudah mulai menjadi kebutuhan bagi sebagian besar konsumen, yang bila tidak terpenuhi/dimiliki akan menimbulakan masalah. Meskipun dengan skala yang berbeda namun pelaku usaha dapat meniru apa yang dilakukan oleh ndustri telephon genggam (HP) tersebut, yang mampu secara perlahan menjadikan produk keinginan menjadi produk kebutuhan konsumen.

Permintaan Karena Peran Keluarga dan Lingkungan

Permintaan konsumen tidak selalu datang dari keinginan atau kebutuhan sendiri. Tidak jarang seorang konsumen membeli sebuah produk bukan karena konsumen tersebut menginginkan atau membutuhkan, namun karena keluarganya (Istri atau anak) yang menginginkan atau membutuhkannya (perhiasan, seragam sekolah, ice cream, dll).

Oleh karena itu, dalam aktivitas pemasaran juga perlu memperhatikan orang lain dan lingkungan yang berada di sekitar target pasar/konsumen yang dimaksud, karena banyak pihak yang terlibat dalam sebuah keputusan membeli atau melakukan transaksi.

Ada beberapa pihak yang terlibat dalam sebuah keputusan membeli, seperti pihak yang memiliki ide atau kebutuhan, pihak yang mengambil keputusan, pihak yang memiliki uang untuk membeli, pihak yang melakukan pembelian ke lokasi, hingga pihak yang menggunakan produk. Bisa saja seorang konsumen meupakan pihak yang membutuhkan sekaligus yang memutuskan dan memiliki uang untuk membeli serta digunakan sendiri, namun bisa juga antara satu pihak dengan pihak lain berbeda orang. Bila demikian, maka pelaku usaha perlu memperhatikan kepada pihak yang mana perhatian harus difokuskan. Sebagai contoh, produk mainan anak-anak, sepertinya pihak yang membutuhkan, dalam hal ini anak-anak adalah pihak yang paling harus menjadi fokus perhatian, karena biasanya pihak-pihak lain akan mengikuti anak tersebut, termasuk orang tua yang emutuskan dan memiliki uang.

Simpulan

Bagi pelaku usaha, memahami permintaan konsumen sangat diperlukan, karena konsumen memiliki perilaku permintaan yang unik dan berbeda satu dengan yang lainnya. Masih banyak perlikau permintaan konsumen yang dapat digali dan perlu dipelajari, selain yang telah dijelaskan dalam tulisan ini.

Namun demikian, semoga dengan beberapa hal tentang permintaan konsumen yang telah dijelaskan di atas, pelaku usaha mendapat masukan dan pemahaman baru berkaitan dengan aktivitas usaha sehari-hari. Semoga bermanfaat.

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.