Dia

Seperti biasa aku mengambil tempat duduk yang berada dipojok. Aku sangat suka berada di sana. Kalau sore hari seperti ini suasana cafe terasa lengang. Tidak banyak pengunjung datang.
Tempat favoritku ini menghadap ke pantai. Aku suka memandang pantai lewat jendela cafe, melihat anak berlarian, pasangan memadu kasih, memandang langit senja berwarna merah.

Hari ini pantai tampak sepi, mungkin karena baru selesai hujan. Angin terasa dingin dan sedikit kencang.
Aku hirup kopiku, rasa hangat menjalari tubuh. Mataku fokus pd layar lap top di depanku.
Yang kucari tidak ada. Sudah lebih dari 6 bulan dia pergi, tak satupun berita aku dapat darinya.
Aku menjadi terbiasa tanpanya, aku hampir lupa bagaimana perasaanku ketika dia berada disampingku.

Aku tersenyum getir. Ternyata benar jarak dapat memisahkan.
Aku melayangkan pandanganku keluar. Hujan mulai turun lagi, angin bertiup makin kencang. Aku menggigil dingin.

Aku menatap hujan di luar, mataku menangkap sosok laki-laki sedang berdiri di dermaga.
Gila! Batinku, di bawah hujan dia berdiri tegak memandang laut. Wajahnya cukup tampan, rambut lurus sebahu basah karena hujan. Kulihat berkali2 dia menghela nafas, menengadahkan kepalanya, kemudian menunduk.

Perlahan dia duduk di dermaga itu, kulihat dia tidak memakai alas kaki. Matanya menatap lurus ke laut.
Laki2 itu tampak sedang galau. Karena kulihat dia berteriak tp aku tak mendengar apa yg diteriakan olehnya karena suara hujan lebih keras.

Tiba2 dia menatap ke arahku, pandangan kami beradu. Sesaat aku tak dapat melepaskan pandanganku.

Aku tidak kuasa menatap tatapannya yang sedih. Matanya menyimpan rasa sedih yang dalam. Aku menunduk menghindari tatapannya. Kucoba untuk kembali fokus pada layar di depanku, tp aku tak bisa.
Tatapan sedihnya menggangguku. Aku kembali menatap ke luar jendela. Dia masih duduk di dermaga. Matanya memandang laut. Kemeja putihnya yg basah melekat ditubuhnya.

Dia memeluk lututnya kemudian menunduk.

Aneh, aku tetap saja menatapnya, rasa ingin aku pergi berlari ke dermaga itu memeluknya, meringankan bebannya.
Tiba-tiba ia berdiri, hujan telah reda, langit mulai gelap karena malam telah turun.
Laki2 berjalan menjauhi dermaga. ketika melintas di luar jendela cafe, dia berhenti kemudian menatapku. Aku cepat menunduk. Kemudian dia berlalu, mataku mengikuti sosoknya hingga hilang dari pandangan mataku.
Aku menghela nafas. Mata sedih itu membuatku tak kuasa bertanya Apa yang membuatnya begitu sedih?

Aku terbangun dari tidur dengan mata stgh mengantuk. Aku sulit memejamkan mata semalam. Aku tak bisa menyingkirkan tatapan sedih itu dari benakku. Aku tertawa. Sangat berlebihan rasanya memikirkan orang yg sm sekali belum kukenal begitu seringnya.

Cuaca hari ini cerah. Langit tampak bersih seperti habis dicuci hujan kemarin sore. Aku menghela nafas. Bimo suka sekali rebah di taman rumahku dan menengadah memandang langit. Dia suka sekali melihat awan yg putih bergumpal2. Dia akan akan sibuk memberitahuku bila bentuk awan yg dia lihat menyerupai sesuatu. Bimo…apa kabarmu? Aku merasa dadaku sakit sekali. Aku tidak pernah jauh darinya. Sejak kecil kami selalu bersama.

Ketika Bimo memutuskan untuk meneruskan kuliah s2 di Inggris sebenarnya aku sangat keberatan. Aku tak sanggup mengatakan apa2 karena dia begitu antusias. Aku tak ingin menjadi penghalang untuk dia dalam mengejar cita2. Sejak smp bimo ingin sekali kuliah di Inggris. Aku ingat ketika melepasnya di bandara, dia berjanji akan pulang dan selalu memberi kabar dan memintaku berjanji untuk menunggu.
‘tunggu aku nad, aku pasti kembali. Aku akan membuatmu bangga’ bimo mengatakan itu sambil memandangku lekat2.
Aku tersenyum pahit. Bimo…kamu pasti lupa padaku. Aku tak kuasa menahan tangis. Rasanya seperti dibuang dari kehidupan bimo. Kembali aku cek email masuk, kembali aku kecewa.

Aku menghela nafas. Ayo, nadine semangat! Kuhapus air mataku. Kuputuskan untuk melupakan bimo sejenak. Aku tak ingin hari ini kacau hanya karena aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Aku bergegas bersiap. Aku ada wawancara kerja hari ini.

Aku mulai kesal. Berkali2 kulihat jam tanganku. Sudah hampir 2 jam aku menunggu, namaku belum juga dipanggil. Aku menghampiri meja resepsionis.
‘mba, saya harus menunggu berapa lama lagi?’ aku bertanya.
Resepsionis itu menjawab dengan senyum, ‘tunggu sebentar lagi ya mba. Pak rafa sedang di jalan menuju ke sini?’

Apa? Menuju ke sini? Ya ampun. Buat apa bikin janji jam sembilan, tp jam sebelas masih di jalan? Aku tak habis pikir. Dianggapnya apa aku ini? Aku sengaja menatap si resepsionis dengan galak. Tapi sepertinya sia2. Resepsionis itu tersenyum,’ada lg yg bs sy bantu mba?’

Dengan kesal aku kembali ke tempat dudukku. Aku sempat berpikir untuk pulang, tp kuurungkan niatku. Aku butuh pekerjaan ini. Aku harus mandiri. Aku tak bisa terus menerus bergantung pada orang tuaku. Karena itulah aku pindah dari jakarta dan menetap di jogja. Mencari pekerjaan adalah hal yg sgt sulit bg ku. Aku tidak secerdas dan sekaya bimo. Aku gadis yg biasa2 saja. Tidak menonjol. Aku tidak cantik, perawakanku kecil, aku lahir dan besar di keluarga yg sederhana. Bimo kebalikan dariku. Bimo sgt cerdas, tampan, tinggi. Ayahnya salah satu pengusaha sukses di indonesia. Bnyk perempuan yg jatuh cinta pd bimo, tp dia memilihku. Aku sendiri kaget ketika dia menyatakan cintanya.

‘nad, aku mau kamu’ waktu itu aku tidak tahu maksud perkataan bimo dan hampir tertawa melihat ekspresinya. Tp tawaku hilang ketika bibir bimo hangat menciumku. Sampai skrg aku tak pernah tahu alasan bimo memilihku. Sering aku tanyakan hal ini, dia hanya menjawab. ‘karena kamu ya kamu’ dan aku hrs puas dgn jawaban itu.Ah…lagi2 bimo.

‘putri maritza nadine’ suara resepsionis memanggilku. Aku tersentak dari lamunanku dan bergegas menuju ruangan yg ditunjukkan.

Aku menghela nafas mengusir rasa gugupku. Kuketuk pintu ruangan itu dan masuk. Ruangan yg cukup besar, dengan interior yg sangat minimalis. Di ruangan itu hanya ada satu sofa, satu meja, satu perangkat meja dan kursi kerja. Diatas meja hanya ada lap top. Di sudut ruangan terdapat lemari besar yg tampaknya tempat menyimpan berkas2 kerja. Dindingnya bercat putih tanpa hiasan, yg tergantung di sana cuma jam dinding. Karpet besar berwarna hitam yg menutupi seluruh lantai membuat ruangan ini tampak elegan. Di belakang meja kerja, duduk seorang pria yg sepertinya orang yg akan mewawancaraiku. Dia sedang membolak-balikcvku ketika aku berkata, ’selamat siang, pak’.
Dia mengangkat wajahnya, tersenyum.
‘maaf membuat anda lama menunggu, silakan duduk!’
Aku tak bisa bergerak. Aku sangat terkejut ketika menyadari orang yg dihadapanku adalah si mata sedih. Dia sungguh berbeda dari yg kulihat kemarin. Wajahnya tak pernah lepas dari senyum, rambutnya tidak lagi sebahu, melainkan dipotong pendek dan terlihat sgt rapi.
’silakan duduk’ ulangnya. Aku tersentak, lalu duduk dikursi berhadapan dengannya. Apakah dia mengenaliku? Kataku dalam hati.

PARFAIT TIC (by Nagamu Nanaji)

Fuko Kameyama is a very cheerful girl who lives in a friendly environment. She is fond with children. One day two cute guys, who are cousins, move to the neighborhood. Daiya and Ichi Shinpo are very handsome guys with opposite characteristics. Daiya is friendly, cheerful, and kind. However, he is a playboy he has many girlfriends. Meanwhile, Ichi Shinpo is cool, serious, and smart. He doesn’t have many friends.

Fuko is in love with Daiya, but Daiya, although he has many girlfriend, doesn’t know what love is. He refuses to accept Fuko when she says she loves him. Ichi is always beside her when Fuko is sad. Because of his kindness, Fuko falls in love with Ichi. However, when they are getting closer, Iorin, Ichi’s first love, comes and makes Fuko’s heart breaks inti pieces.

In her sadness Daiya comes with all his charms. He realizes that deep inside him, he is in love with Fuko. But he knows that Fuko is deep in love with Ichi. Eventually, he declares his feeling to Fuko, she accept it. However, wil Fuko forget Ichi? is Ichi really in love with Iorin instead of Fuko?

(Parfait Tic 1-22 publisher:Elexmedia Computindo)
rain

Hello world!

Welcome to nustaffsite.gunadarma.ac.id. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.