ahim Blog
Universitas Gunadarma Staff Blog

October 28th, 2009

KLASIFIKASI PANJAT TEBING

Posted in Uncategorized by sriyanto saminu

KLASIFIKASI PANJAT TEBING*


Climbing isn’t safe; it’s dangerous.
You can make it safer but you cannot make it safe.
With this awareness your attention is focused effectively
on the situation and the consequences.
You’ll be less likely to feel safe and protected,
and therefore act in ways that keep you as safe as possible

Feeling Safe is Dangerous , Arno Ilgner

•  Free Climbing

Teknik memanjat tebing dengan menggunakan alat-alat hanya untuk pengaman saja, tidak langsung mempengaruhi gerakan pemanjat / menambah ketinggian. Sebaiknya dilakukan oleh dua orang. Pemanjat naik secara bergiliran, leader (membuat jalur) dan belayer (pengaman).

•  Free Soloing

Merupakan bagian dari free climbing , tetapi pendaki menghadapi segala resiko seorang diri yang dalam pergerakannya tidak memerlukan bantuan peralatan pengaman. Untuk melakukan hal ini seorang pendaki harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan atau bentuk pergerakan yang akan dilakukan pada rute yang akan dilaluinya. Bahkan kadang harus dihafalkan dahulu segala gerakan baik tumpuan atau pegangan, sehingga hal ini biasanya dilakukan pada rute yang pernah dilalui.

•  Artifisial Climbing

Adalah pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, karena sering sekali dihadapi medan yang kurang / tidak memberikan tumpuan atau peluang gerak yang memadai misalkan ada medan yang blank. Biasanya pendakian ini dilakukan berkelompok dengan tugas yang jelas antara leader dan belayer .

Berdasarkan sistem belay / fall protection, panjat tebing terbagi dalam beberapa ketegori :

•  Gym Climbing

Pada tipe ini, belayer ada di bawah ( ground ) dengan tali dibelokan oleh sistem anchor (pullay atau carabiner) diatas climber. Jika climber jatuh maka berat climber tadi akan dibelokan oleh sistem anchor yang lalu ditahan oleh belayer.

Top Roping

Pada tipe ini, belayer ada di atas ( top ) yang melakukan belay terhadap tali yang menuju climber ke bawah. Untuk mengurangi beban yang ditahan belayer ketika climber jatuh, biasanya dibuat sistem pengaman pembantu (pembelokan atau pengalihan beban).

•  Lead Climbing

Pada tipe ini, tali tidak menjulur ke jangkar pengaman di puncak tebing melainkan dari belayer langsung ke climber . Pada saat climber mulai memanjat, belayer mengulurkan tali, kemudian pada interval ketinggian tertentu (misalnya setiap 3 meter) climber terus memasang alat pengaman, jika dia jatuh maka belayer akan mengunci tali pengaman dan climber akan menggantung pada tali yang mengulur keatas ke alat pengaman terakhir yang dia pasang. Terbagi 2 :

•  Sport Climbing

Adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor olahraganya. Pemanjatan dipandang seperti halnya olahraga yang lain, yaitu untuk menjaga kesehatan. Pada Sport climbing rute yang dipanjat umumya telah bolted (pada interval ketinggian tertentu ada hanger pada dinding tebing).

•  Traditional / Trad / Adventure Climbing

Adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor petualangan. Pada Trad Climbing , dinding tebing bersih dari bolts dan hangers, tidak enggak ada pengaman buatan yang dipasang pada dinding. Biasanya dilakukan oleh dua orang. Climber harus membawa alat pengaman sendiri dan memasangnya pada saat memanjat. Ketika tali sudah hampir habis Leader membuat stasiun belay untuk membelay Climber kedua. Climber yang sebelumnya membelay pemanjat pertama mulai memanjat tebing dan membersihkan (mengambil kembali) alat pengaman yang dipasang di dinding tebing oleh pemanjat pertama.

Berdasarkan tingkat kesulitan, panjat tebing dapat dibagi dalam 2 kategori:

•  Crag Climbing , merupakan panjat bebas, dan dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dengan dua cara :

1. Single pitch climbing : dalam pemanjatan ini tidak diperlukan dengan berhenti di tengah untuk mengamankan orang kedua.

2. Multi pitch climbing : pemanjatan ini dilakukan pada tebing yang lebih tinggi dan diperlukan pergantian leader. Tiap pemanjat memulai dan mengakhiri pada teras memadai untuk mengamankan diri dan untuk mengamankan orang kedua ( second man )

•  Big Wall Climbing , merupakan jenis pemanjatan di tempat yang lebih tinggi dari Crag Climbing dan membutuhkan waktu berhari-hari, peralatan yang cukup dan memerlukan pengaturan tentang jadwal pemanjatan, makanan, perlengkapan tidur dll. Dalam pemanjatan bigwall ada dua sistem yang dipakai yaitu :

1. Alpine System / Alpine Push / Siege Tactic. Dalam alpine push , pemanjat selalu ada di tebing dan tidur di tebing. Jadi segala peralatan dan perlengkapan serta kebutuhan untuk pemanjatan dibawa ke atas. Pemanjat tidak perlu turun sebelum pemanjatan berakhir. Pendakian ini baru dianggap berhasil apabila semua pendaki telah mencapai puncak.

2. Himalayan System / Himalayan Tactic. Sistem pendakian yang biasanya dengan rute yang panjang sehingga untuk mencapai sasaran (puncak) diperlukan waktu yang lama. Pemanjatan big wall yang dilakukan sampai sore hari, setelah itu pemanjat boleh turun ke base camp untuk istirahat dan pemanjatan dilanjutkan keesokan harinya. Sebagian alat masih menempel di tebing untuk memudahkan pemanjatan selanjutnya. Pendakian tipe ini biasanya terdiri atas beberapa kelompok dan tempat-tempat peristirahat. Sehingga dengan berhasilnya satu orang dari seluruh tim, berarti pendakian ini sudah berhasil untuk seluruh tim

Perbedaan dari Alpine System dan Himalayan System adalah :

Alpine System

Himalayan System

1.

Alat yang digunakan lebih sedikit

1.

Alat yang dibutuhkan lebih banyak dan waktu pemanjatan lebih lama

2.

Waktu istirahat sedikit

2.

Waktu istirahat banyak

3.

Perlu load carry

3.

Tidak memerlukan load carry

4.

Pendakian berhasil ketika seluruh tim berhasil

4.

Pendakian sudah dikatakan berhasil ketika salah satu anggota tim berhasil

GRADING SYSTEM

Seperti dalam olahraga lainnya, seseorang atlit dapat diukur kemampuannya pada suatu tingkat pertandingan. Pemain catur dengan elorating dibawah 2000 tidak akan dapat mengikuti turnamen tingkat Gand Master. Dalam panjat tebing terdapat klasifikasi tebing berdasarkan tingkat kesulitannya, dengan demikian kita dapat mengukur sampai di mana kemampuan kita. Beberapa jenis pengukuran kesulitan tebing :

•  French Grading System

Mengacu pada kesulitan saat pemanjatan dihitung berdasarkan pergerakan dan panjang / tinggi bidang panjat, ini berbeda dari kebanyakan cara penentuan tingkat kesulitan lainnya yg mengacu pada area tersulit ( single move ).
Tingkat kesulitan disini menggunakan nomerisasi yg dimulai dengan nomor 1 [very easy] dengann sistem terbuka yg memungkinkan penambahan huruf dibelakang angka, contoh : 1, 2, 4a, 4b, 7c, dst.. dan tambahan + dapat digunakan untuk tingkat kesulitan lebih. Banyak Negara-negara di eropa yg menggunakan sistem yg sama tapi tidak berarti dengan tingkat kesulitan yang sama pula.

•  Ewbank system

Digunakan di Australia, New Zealand, dan Afrika Selatan, dibuat pada masa pertengahan tahun 1960 oleh John Ewbank (John Ewbank juga mengembangkan open ended “M” system untuk aid climbing ). Numerical Ewbank dimulai dari angka 1 (di area tersebut kita dapat berjalan walaupun dalan teori) sampai angka 34.

•  Yosemite Decimal System

Digunakan di Amerika yg dengan cepat menyebar ke Canada dan daerah Amerka lainnya. Sistem ini mengacu pada 5 tingkat dibuat oleh Sierra Club :

- Kelas 1 Cross Country Hiking . Perjalanan biasa tanpa membutuhkan bantuan tangan untuk mendaki / menambah ketinggian.

- Kelas 2 Scrambling. Sedikit dengan bantuan tangan, tanpa tali.

- Kelas 3 Easy Climbing. Secara scrambling dengan bantuan , dasar teknik mendaki ( climbing ) sangat membantu, untuk pendaki yang kurang pengalaman dapat menggunakan tali.

- Kelas 4 Rope Climbing with belaying . Belay (pengaman) dipasang pada anchor (titik tambat) alamiah atau buatan,berfungsi sebagai pengaman

- Kelas 5, dibagi menjadi 11 tingkatan (5.1 sampai 5.14), Semakin tinggi angka di belakang angka 5, berarti semakin tinggi tingkat kesulitan tebing. Pada kelas ini, runners dipakai sebagai pengaman.

- Kelas A. Untuk menambah ketinggian, seseorang pendaki harus menggunakan alat. Dibagi menjadi lima tingkatan (A1 sampai A5). Contoh : Pada tebing kelas 5.4 tidak dapat dilewati tanpa bantuan alat A2, tingkat kesulitan tebing menjadi 5.4 - A2.

•  British Grading System

Untuk traditional climbing dalam teorinya ada 2 bagian : tingkat secara sifat & tingkat secara praktek. Untuk sport climbing menggunakan standar Franch Grading System yg biasa ditulis denga huruf “F” UIAA. UIAA Grading System merupakan standar internasional, system ini biasa dipakai di Jerman Barat, Australii dan Swiszerland. Penomerannya menggunakan angka romawi, dimulai dari angka I [easy] sampai X [hard] dengan penambahan + untuk tingkat kesulitan diatasnya, tingakt tersulit adalah XII.

•  Brazilian Grade System

Hmpir sama dengan French System , tapi dengan menerpkan penyesuaian grading 1 - 2sup [ very easy ], 3 - 5 [ easy ] dengan maksimum tingkat 12. penambahan “sup” ( superior ) digunakan untuk tingkat 1 - 6, dan French Standard “a”, “b” and “c” adalah penambahan untuk tingkat 7 - 12. 7a pada French System hampir sama dengan 8a pada Brazilian System .

•  Alaska Grading System

Tingkat kesulitan diukkur dari angka 1 - 6, dan mengacu pada factor kesulitan, tinggi dan or in difficulty, length, dan komitmen. Sistem ini pertama kali dikembangajn oleh Boyd N. Everett, Jr. pada tahun 1966.

- Alaska Grade 1 : Cimb requires one day only, no technical ( fifth-class ) climbing

- Alaska Grade 2 : Either a moderate fifth-class one-day climb, straightforward multiday nontechnical climb

- Alaska Grade 3 : Either a serious fith-class one-day climb, a multiday climb with some technical elements.

- Alaska Grade 4 : Multiday, moderately technical climb.

- Alaska Grade 5 : Multiday, highly technical climb.

- Alaska Grade 6 : Multiday, extremely technical climb.

Tanda plus (+) digunakan untuk tingat kesulitan lebih. Perlu di ingat pasa system ini kemungkinan tingkat kesulitan yg dimaksud adalah adanya pemanjatan pada salju atau glacier dan pada suhu dingin.

•  Alpine Grading System

Digunakan di New Zealand pada area pegunungan Alpine di sebelah selatan dan utara. Grading Gystem menggunakan open ended,dihitung berdasarkan Faktor penentu seperi : Techical Difficulty, Objective Danger, Length dan Access.

- Grade 1 – 3 : An easy scramble .

- Grade 4 – 6 : Technical climbing , must be able to place rock and ice gear quickly and efficiently. Often involves a long day.

-  Grade 7 : Vertical ice / rock dimana mungkin tidak ada cukup pengaman / proteksi.

* Ditulis ulang dari :
Laili Aidi. 2006.
DIKTAT PANJAT TEBING (Rock Climbing)“. Bandung : Badan Pendidikan dan Latihan ASTACALA (Tidak Diterbitkan)-


Daftar Pustaka :
ASTACALA. 2002. “Diktat Pendidikan Dasar Astacala”. Bandung : Badan Pendidikan dan Latihan ASTACALA (Tidak Diterbitkan)

GEGAMA. 2004. ”Materi Dasar Kepecintaalaman”. Yogyakarta : mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Geografi (Tidak diterbitkan)

Rizaldi, Ahmad dan Setyo Ramadi. ”Panjat Tebing”. URL http://www.mapalaui.com/.

WANADRI. 1996. “Diktat Pendidikan Dasar Wanadri”. Bandung : Badan Pendidikan dan Latihan WANADRI (Tidak Diterbitkan)

-. “Aneka Panjat Tebing”. URL http://www.tebingcadas.com

URL http://www.rockclimbing.com/


You can leave a comment, or trackback from your own site. RSS 2.0

Leave a comment

*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.