ahim Blog
Universitas Gunadarma Staff Blog

November 5th, 2009

KOMPETISI BERBASIS WAKTU

Posted in Uncategorized by sriyanto saminu

KOMPETISI BERBASIS WAKTU :
STRATEGI INOVASI TEKNOLOGI DAN PRODUK DALAM
MEMBANGUN KEKUATAN PERSAINGAN

Pendahuluan
Waktu menjadi parameter yang paling dalam rangka mencapai keunggulan bersaing. Manajemen waktu mempunyai relevansi langsung dengan kecepatan, yang membawa menfaat besar pada perusahaan. Kecepatan akan meningkatkan kapasitas, kualitas, frekuensi, kecanggihan, keterjangkauan dan kemudahan pada perusahaan.
Perhatian pelaku bisnis saat ini nampaknya semakin terfokus pada fenomena bersaing perusahaan yang yang cederung berubah dari waktu ke waktu. Dan kenyataan persaingan membawa persaingan menjadi kata kunci yang tidak pernah usang untuk dianalisis. Perusahaan dituntut untuk mengembangkan strategi yang lebih efektif serta efisien sehingga membutuhkan pemikiran dan konsep yang lebih fundamental dengan melihat apa yang menjadi dasar persaingan. Kunci kesuksesan terletak pada kejelian perusahaan dalam menentukan parameter dasar serta meramunya menjadi keunggulan bersaing. Keunggulan tidak terbatas pada parameter langsung, tetapi lebih jauh lagi perlu diperhatikan parameter tak langsung dan lebih mendasar yang mempunya kontribusi besar pada parameter lainnya.

Permasalahan
Perubahan-perubahan ekonomi, politik, teknologi yang terjadi dewasa ini, terutama perkembangan tteknologi informasi, praktis telah membuat hamper seluruh bagian di muka bumi dapat dijangkau. Peristiwa yang terjadi di suatu tempat dapat tersebar cepat ke seluruh penjuru dunia. Pergolakan politik, kecelakaan industri, mode-mode baru serta terobosan teknologi yang terjadi dalam masyarakat tertentu dapat mempengaruhi masyarakat lainnya melalui berbagai cara. Oleh karena itulah perusahaan perlu memandang dunia sebagai satu lingkungan global yang dinamis.
Pihak manajemen tidak lagi bias mengingkari bahwa perusahaannya berada ditengah lingkungan global yang mau tidak mau wajib dipertimbangkannya dalam mengambil keputusan-keputusan bisnisnya. Dalam merumuskan strategi yang efektif, perusahaan modern dituntut untuk mampu mengidentifikasikan jenis-jenis keputusan mendasar yang dihadapinya. Keputusan strategis seringkali ditekankan pada masalah hubungan antara organisasi / perusahaan dengan lingkungan bisnisnya.
Dalam kontek yang lebih sempit lingkunpnya adalah sekitar posisi produk pasar perusahaan yang bersangkutan. Hakekatnya, uapaya pemenuhan / pemuasan keinginan pasar / konsumen oleh perusahaan oleh perusahaan dituangkan melalui produk ( barang atau jasa ) yang dihasilkan. Secara umum ada lima factor yang mempengaruhi peluang / kesempatan pasar bagi suatu produk, yaitu :
1. Perubahan ekonomi
2. Perubahan sosiologi dan demografi
3. Perubahan teknologis
4. Perubahan politis
5. Perubahan lain yang dapat terjadi melalui praktek-praktek pasar, standart profesi, pemasok, dan distributor.
Teknologi memang bukan satu-satunya jaaban untuk semua masalah bisnis, tetapi sejarah menunjukan bahwa penerapan teknologi turut menentukan nasib ekonomi perusahaan. Secara garis besar dampak pasar dari era perubahan teknologi yang cepat dan mengarah pada otomatisasi.
1. Siklus hidup pemasaran untuk produk-produk semakin pendek sehinga sesain-desain baru harus berganti cepat.
2. Pasar menuntut semakin beragamnya produk tanpa meningkatkan volume. Artinya prabrik harus memproduksi jumlah yang lebih sedikit untuk setiap produk.
3. Pasar menjadi ‘peka waktu’ yang mnuntut penyediaan produk yang tepat waktu. Persaingan atas waktu ( time-based competition ) ini memiliki arti bahwa perusahaan harus memproduksi barang yang lebih kecil pada jadual yang terkendali.
4. Pasar menjadi ‘peka ongkos’ yang mengharapkan menurunkan titik impas. Karena itu kemampuan produksi yang sangat efisien dengan mutu dan keandalan yang tinggi sangat dibutuhkan.
Teknologi baru memperlihatkan karakteristik yang mencolok khas atas kemempuannya. Kini yang menjadi kunci ketahanan berbagai perusahaan adalah kemampuan dalam memanfaatkan potensi teknologi cangih yang luar biasa dan menyalurkannya bagi kesejahteraan ekonomi. Terlepas berhasil atau tidaknya implementasi teknologi akan selalu muncul implikasi-implikasinya, seperti ketenagakerjaan, dana dan alokasi sumber dana lainnya.

Pembahasan
Perspektif: Keunggulan dalam Persaingan
Idealnya, pengembangan strategi perusahaan yang efektif dan efisien tidak cukup hanya melalui pendekatan yang terpilah-pilah tetapi harus menyeluruh sebagai satu kesatuan yang utuh dalam kontek yang relevan. Pendekatan system menuntut pemahaman keseluruhan interaksi antara berbagai elemenpenting yang mempengaruhi persaingan. Persaingan pada hakekatnya merupakan proses dinamis karena daur ulang formulasinyadan implementasi strategi bisnis perusahaan melalui pengembangan instrument-instrumen strategis persaingan.
Pada prinsipnya strategi-strategi bisnis mempunyai sasaran pada masalah sekitar persaingan. Persaingan bisnis yang sehat semestinya dipandang sebagai upaya positif yang dilakukan perusahaan yang bersangkutan memiliki keunggulan relative atas pesaingnya. Dalam persaingan bisnis modern, sasaran strategi bisnis tidak cukup hanya sebatas pada kelangsungan hidup perusahaan ditengah persaingan yang semakin ketat, tetapi lebih penting lagi adalah keunggulan yang berkelanjutan. Keunggulan demikianlah yang pada gilirannya mendapatkan ganjaran ( reward ) yang layak ( seperti keuntungan, peningkatan pangsa pasar, loyalitas konsumen dsb )sesuai dengan upaya positifnya.

Inovasi Sebagai Instrumen Strategi

Kecepatan suatu organisasi menadopsi teknologi baru dipengaruhi oleh lingkungan persaingan dari industri yang bersangkutan. Lingkungan tersebut pada gilirannya ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan social, politik, ekonomi dan akan meliputi berbagai faktor antara lain nilai-nilai konsumen, daur hidup produk dan karakteristik industri atau pasar. Daur hidup produk merupakan ukuran relative yang bisa terjadi dalam skala jam, bulan ataupun tahun. Tugas penting manajemen dalam kaitan ini adalah mendesain suatu system yang menunjang keberhasilan pengenalan produk-produk baru.
Tidak bisa disangkal bahwa perkembangan waktu menunjukan adanya kecenderungan umum yaitu daur hidup produk yang semakin pendek. Karena itu tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa kata kuci dalam persaingan usaha sat ini adalah bahwa manajemen harus bergerak kea rah pengambilan keputusan yang lebih cepat, implmentasi yang lebih cepat dan tepat secara sekaligus.
Gambar 1. Lingungkan Bisnis demikian pada gilirannya menuntut tingginya fleksibilitas proses produksi yang dimiliki oleh perusahaan modern.

Gambar 1. Pengaruh dan kecenderungan Utama

Karena itu pengembangan produk dalam system produktif modern menjadi semakin penting dalam mempertahankan kelangsungan hidup ( survival ) dan membangun keunggulan organisasi tersebut di tengah pesaingan yang semakin ketat. Mereka yang berhasil mengembangkan produk-produk baru secara lebih cepat yang akan memiliki keunggulan kompetitif dari para pesaingnya. Inovator yang mampu memperkenalkan produk lebih cepat memiliki keuntungan antara lain karena dapat memanfaatkan teknologi terbaru. Selain itu mereka juga mendapatkan pengalaman berguna dalam banyak hal seperti dalam desain, pengujian, pembuatan dan pengenalan produk-produk baru. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa para innovator biasanya mampu belajar lebih cepat. Dilain pihak, organisasi juga perlu mempertimbangkan dan mengatsi adanya kemungkinan resiko menjadi inovator.

Elemen Penting dalam Strategi Inovasi Produk :

Dalam perumusan strategi inovasi produk, selain pertimbagan atas faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan strategi posisi “ kepemimpinan “ ( leadership ) dalam pasar. Ketiga faktor-faktor tersebut harus dikaji dengan cermat oleh organisasi. Sedangkan elemen penting dalam inovasi produk diantaranya kompetensi manajemen, produk baru harus memberikan nilai, keberhasilan produk baru dipengaruhi oleh focus strategi, komitmen manajemen, lingkungan pasar dan timing ( tepat waktu ).
Tujuan dari strategi produk adalah memastikan keunggulan kompetitif bagi produk bersangkutan. Strategi produk berhubungan dengan pemilihan, penjabaran dan desain produik yang akan disampaikan kepada konsumen . Tentu saja keberhasilan pengembangan suatu produk sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor penting seperti kemampuan manajerial, ketrampilan teknologi, sumber dana financial dan sumber daya manusia yang tersedia.
Keberhasilan dalam pengembangan produk merupakan isu manajemen yang penting bagi perusahaan modern, terutama dalam technology driven industries. Pemahaman yang baik atas faktor-faktor yang mendorong keberhasilan produk dapat membantu suatu perusahaan memfokuskan berbagai sumberdaya penelitian dan pengembangan yang penting dan mendayagunakannya secara baik dalam proses penyampaian produk dan meningkatkan permintaan bagi produk barunya.

Tabel 1. Kerangka untuk mengidentifikasikan kelayakan kepemimpinan teknologi.

Kesinambungan kepemimpinan teknologi.

Keuntungan Inovator

Kerugian Inovator Variabel yang mendukung kepemimpinan teknologi
- Teknologi dikembangkan did lam perusahaan.
- Biaya H & D yang tinggi menghalangi pesaing menjalankan strategi sebagai pemimpin.
- Tingginya ketrampilan teknologi dibanding dengan pesaing.
- Tingkat difusi teknologi yang rendah di dalam perusahaan.

Variabel yang mendukung kepemimpinan teknologi
- Reputasi sebagai pionir / pemimpin
- Kesempatan lebih awal dalam memperoleh posisi pasar yang menarik.
- Biaya perubahan ‘ switching’ bagi konsumen
- Pilihan akses pada saluran pasar yang utama
- Kelebihan dalam pengalaman belajar
- Kesempatan menentukan standart teknologi
- Hambatan kelembagaan seperti hak paten.

Variabel yang menghambat kepemimpinan teknologi
- Biaya yang tinggi sebagai innovator
- Ketidakpastian permintaan.
- Perubahan dalam keinginan pembeli yang dapat membuat teknologi tak berguna.
- Ketidakmampuan atan biaya tinggi untuk merevisi atau menyesuaikan teknologi.
- Kemungkinan rendahnya biaya tiruan/ imitasi

Keunggulan / kompetensi manajemen sangatlah menentukan keberhasilan produk.

Kemungkinan keberhasilan produk baru akan lebih baik jika direncanakan dan diimplementasikan dengan baik. Perencanaan tersebut meliputi penelitian, pengembangan, rekayasa, manufaktur dan pengenalan pasar. Lini fungsional haruslah berinteraksi dan mengkoordinasikan berbagai aktivasi selama proses pengembangan. Keterkaitan antara bagian penelitian dan pengembangan dengan kelompok fungsional lainnya, khususnya pemsaran dan manufaktur sangatlah diperlukan. Keterkaitan dengan bagian pemasaran sangat penting terutama untuk memastikan bahwa peusahaan memahami kebutuhan konsumen dan mampu menjabarkannya menjadi jawaban bagi konsumen. Hubungan dengan bagian manufaktur perlu karena semakin pentingnya operasi-operasi yang efektif dan efisien, akan menjadi suatu sasaran yang tidak mungkin / sulit dicapai kecuali jika desain manufaktur merupakan bagian integrasi dari tujuan pengembangan produk.
Dalam kaitan ini, strategi proses yang berkaitan dengan pendekatan yang dilakukan oleh suatu organisasi dalam mentransformasikan sumberdaya-sumberdaya menjadi produk barang atau jasa sangatlah penting. Tujuan dari strategi proses adalah merumuskan cara memproduksi barang atau jasa pelayanan yang memenuhi kewinginan konsumen dan spesifikasi produk sesuai dengan kendala biaya dan kendala manajerial lainnya. Keputusan proses sangatlah penting karena akan mempunyai dampak jangka panjang pada efisiensi dan produksi, fleksibilitas, biaya dan mutu produk yang dihasilkan.
Tiga aspek utama fleksibilitas produksi perlu mendapat perhatian manajemen yaitu :
1. Fleksibilitas produk ( inovasi produk, respon terhadap variasi penjualan variasi penjualan dan mutu yang tinggi dan konsisten ).
2. Fleksibilitas infrastruktur ( implementasi perubahan teknologis ).
3. Fleksibilitas proses ( keragaman lini produksi, lead time yang pendek, respon terhadap perubahan, spesifikasi yang diinginkan konsumen, keandalan delivery, pengurangan kerugian ).

Manajemen harus senantiasa melakukan pengurangan-pengurangan aktivitas-aktivitas atau hal-hal yang selalu mempunyai dampak terhadap biaya tetapi tidak memberikan kontribusi terhadap nilai tambah produk. Upaya peningkatan efisiensi harus diimplementasikan pada proses secara keseluruhan mulai dari isu-isu yang berkaitan dengan desain, perencanaan produksi, pengurangan lead time di semua tahapan proses hinga delivery produk ke pasar.
Keberhasilan implementasi dari konsep Just-in Time ( JIT ) dalam perusahaan modern merupakan hal yang mutlak bagi perusahaan dalam situasi Time-based competition. Manajemen harus mampu memanfaatkan kelebihan atas ukuran relative perusahaannya ( kecil, menengah ataupun perusahaan besar ), dengan mempehatikan aspek-aspek economies of scale, economies of scope, dan economies of integration system produktif yang dimilikinya.

Produk Baru harus mampu memberikan nilai / manfaat penting kepada konsumen.

NIlai atau manfaat dapat diukur melalui melalui berbagai dimensi. Dimensi nilai tersebut dapat meliputi funsi / guna, kinerja ( performance ), harga / biaya ( cost ), cirri / keistimewaan ( feature ), keandalan ( reliability ), kesesuaian ( conformance ), daya tahan ( durability ). Pelayanan ( serviceability ), estetika ( esthetics ), dan citra mutu ( perceived quality ). Sudah barang tentu kemempuan perusahaan dalam memahami keinginan konsumen sangatlah kritis dalam hal ini.
Implementasi yang tepat Totak Qualitymanagement ( TQM ) yang masyaratkan bahwa prinsip manajemen mutu ( dalam arti luas ) harus diterapkan pada setiap bagian dan setiap tingkat organisasi dan mencakup pemasok serta pelangga, akan sangat menentukan keberhasilan produk.

Keberhasilan produk baru sangat dipengaruhi oleh focus strategi

Perusahaan harus mengembangkan rencana kegiatan berdasarkan kemampuan teknologi, pemasaran dan kompetensi organisasi / manajemen yang dimiliki. Produk-produk yang berkaitan memungkinkan perusahaan untuk dapat mengunakan dan mengembangkan lebih lanjut kemampuan teknologi yang dimiliki serta memanfaatkan sumber-sumber informasi dan jaringannya ( internal maupun eksternal ). Hal ini tidak berarti bahwa perusahaan tidak perlu memasauki pasar atau bidang teknis yang sama sekali baru. Hanya saja resiko atas usaha yang sama sekali baru perlu diminimalkan dengan mengurangi dimensi keasingan dari hal-hal yang serba baru tersebut. Dalam kontek pemanfaatan teknologi baru dalam inovasi produk, Noori ( 2002 ) mengajukan suatu kerangka pendekatan integrative antara konsep ‘technology push’ dan ‘market pull’. Gambar 2. secara singkat pendekatan ini diharapkan dapat memastikan bahwa manajemen tetap waspada ( tetapi disilaukan oleh ) dan mampu menanggapi kemajuan-kemajuan teknologi seperti teknologi produksi dan teknologi informasi.
Gambar 2. Kerangka Pendekatan Integratif ‘technology push’ dan ‘market pull’

Komitmen manajemen sangatlah menentukan

Tanpa adanya dukungan manajemen maka SDM dan sumber dana yang diperlukan untuk mengembangkan produk hamper tidak mungkin dapat diperoleh. Senioritas dan kewenangan manajer yang bertanggungjawab atas pengembangan produk dapat menentukan keberhasilan atau kegagalan produk yang bersangkutan. Manajemen juga harus mampu menangani ketidakpastian disekitar bisnisnya dan mengoptimalkan komunikasi organisasi. Informasi yang disebarkan dalam organisasi membantu menciptakan lingkungan yang konduksif bagi pengambangan inovasi.
Manajemn perysahaan perlu menyadari bahwa strategi inovasi, peningkatan mutu dan efisiensi bukanlah one time shot dan suatu hal yang dapat dilaksanakan dalam sehari, melainkan harus dilakukan terus-menerus sebagai bagian integral aktivitas perusahaan yang selalu memompakandarah segar dalam tubuh organisasi. Inovasi harus menjadi way of life bagi perusahaan yang ingin meningkatkan dan mempertahankan keunggulan kompetitifnya di tengah pesaingan bisnis saat ini.

Lingkungan Pasar akan mempengaruhi keberhasilan produk baru

Produk yang memasuki pasar dan mengalami pesaingan yang tidak begitu ketat atau pasar yang relative besar dan tumbuh berkembang cepat, besar kemungkinannya untuk berhasil. Walaupun begitu perlu diingat bahwa keunggulan / kepemimpinan teknologi sangatlah riskan. Karenanya para innovator harus memahami konsumen serta menguasai jalur komunikasinya. Pada sisi konsumen, intensitas pesaingan ditandai oleh kepentingan relative peran harga dalam keputusan konsumen. Semakin homogen produk yang ditawarkan oleh berbagai perusahaan dalam suatu pasar, semakin kompetitif pasar tersebut dan semakin penting pula peran harga sebagai variabel keputusan konsumen dalam memilih produk yang disukainya. Diferensiasi / inovasi pada prinsipnya melonggarkan persaingan dalam bentuk harga dan mengubahnya dalam bentuk persaingan lain.
Para inovator ini biasanya dituntut untuk mendidik konsumen potensial tentang pengunaan produk baru. Selama konsumen memakai produk baru tersebut, perusahaa harus dapat memahami bagaimana keinginan konsumen berubah serta menyesuaikan desain produknya terhadap perubahan tersebut. Para pemimpin ini juga perlu berupaya mengembangkan standar-standar industri jika mereka menghendaki peran utama dalam pasar. Pasar-pasar yang matang dan belum tersentuh biasanya merupakan pasar potensial bagi para inovator, tetapi tentu saja entry harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin untuk menghindari kegagalan produk.

Timing suatu inovasi

Pemilihan waktu untuk memasuki pasar merupakan salah satu alasan utama penyebab keberhasilan atau kegagalan produk baru. Peluang dan resiko suatu produk baru bergantung pada beberapa hal antara lain : perubahan keadaan ekonomi secara umum, perubahan pada preferensi konsumen dan perubahan daur hidup industri. Investasi dari riset dan pengembangan dapat mengubah tingkat peluang dan resiko produk baru. Misalnya, entry yang lambat memungkinkan investasi lebih tinggi dalam mendesain produk baru, memberikan dukungan engeneering yang memadai dan mengembangkan program pemasaran yang efektif.
Pada dasarnya timing memasuki pasar merupakan keputusan taktis kuantitatif sekaligus keputusan strategis kualitatif. Keputusan strategis kualitatif pada prinsipnya merupakan masalah strategi entry seperti : apakah suatu perusahaan harus berperan sebagai pemimpin ( market leader ) ataukah pengikut ( market follower ). Trade off antara kelebihan / keunggulan dan kekurangan / kerugian sebgai pemimpin atau pengikut merupakan isu utama bagi keputusan strategi dari entry ini.
Keputusan taktis-kuantitatif terutama merupakan masalah waktu entry. Kapankah seharusnya suatu produk baru memasuki pasar. Seseorang pioneer potensial harus menentukan waktu entry sedemikian sehingga dapat memperoleh keseimbangan antara peluang / benefit dengan inovasi dan resiko / biaya yang berkaitan deengan pengembangan dan pemasaran dan publikasi merupakan aspek yang sangat kritis.

Kesimpulan

Kita hidup di dunia yang dinamis dimana kita dituntut untuk terus berkreasi dan berinovasi, jika tidak ingin mandek dan tersingkirkan. Memahami proses perubahan yang terjadi merupakan tahap awal kritis agar dapat memanfaatkan secara optimal: memaksimumkan manfaat dan meminimumkan resiko. Strategi inovasi / pengembangan produk baik merupakan kombinasi yang bersifat internal. Strategi inovasi merupakan art and science. Keberhasilannya tidak semata berdasarkan hal-hal yang seluruhnya dapat dikaji sebagai proses ilmiah. Aspek seni berstrategi bisnis yang lebih memerlukan imajinasi, kreatifitas, dan entrepreneurship, akan sangat menentukan kemampuan / kejelian perusahaan melihat peluang-peluang, memanfaatkannya secara optimal dan juga mempegaruhi keberhasilan perusahaan dalam mengatasi tantangan di sekitarnya.
Menjelang masa perdagangan bebas, peran pemerintah akan semakin pentinga dalam menciptakan dan menjamin iklim yang konduktif bagi perkembangan inovasi-inovasi diberbagai sektor, pesaingan pasar yang sehat, keberhasilan industrialisasi dan kesejahteraan bangsa melalui berbagai instrument kebijakan termasuk skema insentif bagi bidang penelitian dan pengembangan. Upaya pemerintah kearah ini tampak positif, terbukti dengan dikembangkannya antara lainpola-pola riset unggulan kemitraan ( RUK), venture capital dan technicalupgrading fund ( TUF ).
Strategi persaingan analogis dengan strategi membidik sasaran yang bergerak sepanjang waktu. Karena itu manajemen harus meningkatkan kemampuan pemanfaatan saluran umpan baliknya untuk penyelesaian arah strategi dalam memastikan ketepatan pembidikan sasaran.

Daftar Pustaka

1. Lilien G.L., dan E. Yoon, 2003, “The Timing of Competitive Market Entry: An Exploratory Study of New Industrial Products” Management Science. Vol.36. No 5, Providance.
2. Noori, Hamid, 2002, Managing the Dynamics of New Technology, Prentice Hall, New Jersey.
3. Porter, Michael. 2002, Competitive Advantage, The Free Press, New York.
4. Kotler, Philips, 2004, Dasar-dasar Pemasaran, Edisi kesembilan, Jilid 1, PT Indek Kelompok Gramedia, Jakarta.

October 31st, 2009

JAS HUJAN

Posted in Uncategorized by sriyanto saminu

Bagi Bapak2 / ibu2 dan adik-adik mahasiswa yang membutuhkan jas hujan berkualitas, bahan semi karet. atasan dan bawahan. silakan lihat2 dulu. pemesanan ke ahim@staff.gunadarma.ac.id atau telp. 08159156170. 021 7888112 exp 424
ukuran M, L, XL harga Rp 150 rb
                           XXL harga Rp 160 rb
                           XXXL harra Rp 170 rb
stock yang ada sekarang warna hijau tentara XL  (1) , Abu2 tua XL ( 4), hijau daun XL (1), kuning kunyit XL (1).

October 28th, 2009

KLASIFIKASI PANJAT TEBING

Posted in Uncategorized by sriyanto saminu

KLASIFIKASI PANJAT TEBING*


Climbing isn’t safe; it’s dangerous.
You can make it safer but you cannot make it safe.
With this awareness your attention is focused effectively
on the situation and the consequences.
You’ll be less likely to feel safe and protected,
and therefore act in ways that keep you as safe as possible

Feeling Safe is Dangerous , Arno Ilgner

•  Free Climbing

Teknik memanjat tebing dengan menggunakan alat-alat hanya untuk pengaman saja, tidak langsung mempengaruhi gerakan pemanjat / menambah ketinggian. Sebaiknya dilakukan oleh dua orang. Pemanjat naik secara bergiliran, leader (membuat jalur) dan belayer (pengaman).

•  Free Soloing

Merupakan bagian dari free climbing , tetapi pendaki menghadapi segala resiko seorang diri yang dalam pergerakannya tidak memerlukan bantuan peralatan pengaman. Untuk melakukan hal ini seorang pendaki harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan atau bentuk pergerakan yang akan dilakukan pada rute yang akan dilaluinya. Bahkan kadang harus dihafalkan dahulu segala gerakan baik tumpuan atau pegangan, sehingga hal ini biasanya dilakukan pada rute yang pernah dilalui.

•  Artifisial Climbing

Adalah pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, karena sering sekali dihadapi medan yang kurang / tidak memberikan tumpuan atau peluang gerak yang memadai misalkan ada medan yang blank. Biasanya pendakian ini dilakukan berkelompok dengan tugas yang jelas antara leader dan belayer .

Berdasarkan sistem belay / fall protection, panjat tebing terbagi dalam beberapa ketegori :

•  Gym Climbing

Pada tipe ini, belayer ada di bawah ( ground ) dengan tali dibelokan oleh sistem anchor (pullay atau carabiner) diatas climber. Jika climber jatuh maka berat climber tadi akan dibelokan oleh sistem anchor yang lalu ditahan oleh belayer.

Top Roping

Pada tipe ini, belayer ada di atas ( top ) yang melakukan belay terhadap tali yang menuju climber ke bawah. Untuk mengurangi beban yang ditahan belayer ketika climber jatuh, biasanya dibuat sistem pengaman pembantu (pembelokan atau pengalihan beban).

•  Lead Climbing

Pada tipe ini, tali tidak menjulur ke jangkar pengaman di puncak tebing melainkan dari belayer langsung ke climber . Pada saat climber mulai memanjat, belayer mengulurkan tali, kemudian pada interval ketinggian tertentu (misalnya setiap 3 meter) climber terus memasang alat pengaman, jika dia jatuh maka belayer akan mengunci tali pengaman dan climber akan menggantung pada tali yang mengulur keatas ke alat pengaman terakhir yang dia pasang. Terbagi 2 :

•  Sport Climbing

Adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor olahraganya. Pemanjatan dipandang seperti halnya olahraga yang lain, yaitu untuk menjaga kesehatan. Pada Sport climbing rute yang dipanjat umumya telah bolted (pada interval ketinggian tertentu ada hanger pada dinding tebing).

•  Traditional / Trad / Adventure Climbing

Adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor petualangan. Pada Trad Climbing , dinding tebing bersih dari bolts dan hangers, tidak enggak ada pengaman buatan yang dipasang pada dinding. Biasanya dilakukan oleh dua orang. Climber harus membawa alat pengaman sendiri dan memasangnya pada saat memanjat. Ketika tali sudah hampir habis Leader membuat stasiun belay untuk membelay Climber kedua. Climber yang sebelumnya membelay pemanjat pertama mulai memanjat tebing dan membersihkan (mengambil kembali) alat pengaman yang dipasang di dinding tebing oleh pemanjat pertama.

Berdasarkan tingkat kesulitan, panjat tebing dapat dibagi dalam 2 kategori:

•  Crag Climbing , merupakan panjat bebas, dan dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dengan dua cara :

1. Single pitch climbing : dalam pemanjatan ini tidak diperlukan dengan berhenti di tengah untuk mengamankan orang kedua.

2. Multi pitch climbing : pemanjatan ini dilakukan pada tebing yang lebih tinggi dan diperlukan pergantian leader. Tiap pemanjat memulai dan mengakhiri pada teras memadai untuk mengamankan diri dan untuk mengamankan orang kedua ( second man )

•  Big Wall Climbing , merupakan jenis pemanjatan di tempat yang lebih tinggi dari Crag Climbing dan membutuhkan waktu berhari-hari, peralatan yang cukup dan memerlukan pengaturan tentang jadwal pemanjatan, makanan, perlengkapan tidur dll. Dalam pemanjatan bigwall ada dua sistem yang dipakai yaitu :

1. Alpine System / Alpine Push / Siege Tactic. Dalam alpine push , pemanjat selalu ada di tebing dan tidur di tebing. Jadi segala peralatan dan perlengkapan serta kebutuhan untuk pemanjatan dibawa ke atas. Pemanjat tidak perlu turun sebelum pemanjatan berakhir. Pendakian ini baru dianggap berhasil apabila semua pendaki telah mencapai puncak.

2. Himalayan System / Himalayan Tactic. Sistem pendakian yang biasanya dengan rute yang panjang sehingga untuk mencapai sasaran (puncak) diperlukan waktu yang lama. Pemanjatan big wall yang dilakukan sampai sore hari, setelah itu pemanjat boleh turun ke base camp untuk istirahat dan pemanjatan dilanjutkan keesokan harinya. Sebagian alat masih menempel di tebing untuk memudahkan pemanjatan selanjutnya. Pendakian tipe ini biasanya terdiri atas beberapa kelompok dan tempat-tempat peristirahat. Sehingga dengan berhasilnya satu orang dari seluruh tim, berarti pendakian ini sudah berhasil untuk seluruh tim

Perbedaan dari Alpine System dan Himalayan System adalah :

Alpine System

Himalayan System

1.

Alat yang digunakan lebih sedikit

1.

Alat yang dibutuhkan lebih banyak dan waktu pemanjatan lebih lama

2.

Waktu istirahat sedikit

2.

Waktu istirahat banyak

3.

Perlu load carry

3.

Tidak memerlukan load carry

4.

Pendakian berhasil ketika seluruh tim berhasil

4.

Pendakian sudah dikatakan berhasil ketika salah satu anggota tim berhasil

GRADING SYSTEM

Seperti dalam olahraga lainnya, seseorang atlit dapat diukur kemampuannya pada suatu tingkat pertandingan. Pemain catur dengan elorating dibawah 2000 tidak akan dapat mengikuti turnamen tingkat Gand Master. Dalam panjat tebing terdapat klasifikasi tebing berdasarkan tingkat kesulitannya, dengan demikian kita dapat mengukur sampai di mana kemampuan kita. Beberapa jenis pengukuran kesulitan tebing :

•  French Grading System

Mengacu pada kesulitan saat pemanjatan dihitung berdasarkan pergerakan dan panjang / tinggi bidang panjat, ini berbeda dari kebanyakan cara penentuan tingkat kesulitan lainnya yg mengacu pada area tersulit ( single move ).
Tingkat kesulitan disini menggunakan nomerisasi yg dimulai dengan nomor 1 [very easy] dengann sistem terbuka yg memungkinkan penambahan huruf dibelakang angka, contoh : 1, 2, 4a, 4b, 7c, dst.. dan tambahan + dapat digunakan untuk tingkat kesulitan lebih. Banyak Negara-negara di eropa yg menggunakan sistem yg sama tapi tidak berarti dengan tingkat kesulitan yang sama pula.

•  Ewbank system

Digunakan di Australia, New Zealand, dan Afrika Selatan, dibuat pada masa pertengahan tahun 1960 oleh John Ewbank (John Ewbank juga mengembangkan open ended “M” system untuk aid climbing ). Numerical Ewbank dimulai dari angka 1 (di area tersebut kita dapat berjalan walaupun dalan teori) sampai angka 34.

•  Yosemite Decimal System

Digunakan di Amerika yg dengan cepat menyebar ke Canada dan daerah Amerka lainnya. Sistem ini mengacu pada 5 tingkat dibuat oleh Sierra Club :

- Kelas 1 Cross Country Hiking . Perjalanan biasa tanpa membutuhkan bantuan tangan untuk mendaki / menambah ketinggian.

- Kelas 2 Scrambling. Sedikit dengan bantuan tangan, tanpa tali.

- Kelas 3 Easy Climbing. Secara scrambling dengan bantuan , dasar teknik mendaki ( climbing ) sangat membantu, untuk pendaki yang kurang pengalaman dapat menggunakan tali.

- Kelas 4 Rope Climbing with belaying . Belay (pengaman) dipasang pada anchor (titik tambat) alamiah atau buatan,berfungsi sebagai pengaman

- Kelas 5, dibagi menjadi 11 tingkatan (5.1 sampai 5.14), Semakin tinggi angka di belakang angka 5, berarti semakin tinggi tingkat kesulitan tebing. Pada kelas ini, runners dipakai sebagai pengaman.

- Kelas A. Untuk menambah ketinggian, seseorang pendaki harus menggunakan alat. Dibagi menjadi lima tingkatan (A1 sampai A5). Contoh : Pada tebing kelas 5.4 tidak dapat dilewati tanpa bantuan alat A2, tingkat kesulitan tebing menjadi 5.4 - A2.

•  British Grading System

Untuk traditional climbing dalam teorinya ada 2 bagian : tingkat secara sifat & tingkat secara praktek. Untuk sport climbing menggunakan standar Franch Grading System yg biasa ditulis denga huruf “F” UIAA. UIAA Grading System merupakan standar internasional, system ini biasa dipakai di Jerman Barat, Australii dan Swiszerland. Penomerannya menggunakan angka romawi, dimulai dari angka I [easy] sampai X [hard] dengan penambahan + untuk tingkat kesulitan diatasnya, tingakt tersulit adalah XII.

•  Brazilian Grade System

Hmpir sama dengan French System , tapi dengan menerpkan penyesuaian grading 1 - 2sup [ very easy ], 3 - 5 [ easy ] dengan maksimum tingkat 12. penambahan “sup” ( superior ) digunakan untuk tingkat 1 - 6, dan French Standard “a”, “b” and “c” adalah penambahan untuk tingkat 7 - 12. 7a pada French System hampir sama dengan 8a pada Brazilian System .

•  Alaska Grading System

Tingkat kesulitan diukkur dari angka 1 - 6, dan mengacu pada factor kesulitan, tinggi dan or in difficulty, length, dan komitmen. Sistem ini pertama kali dikembangajn oleh Boyd N. Everett, Jr. pada tahun 1966.

- Alaska Grade 1 : Cimb requires one day only, no technical ( fifth-class ) climbing

- Alaska Grade 2 : Either a moderate fifth-class one-day climb, straightforward multiday nontechnical climb

- Alaska Grade 3 : Either a serious fith-class one-day climb, a multiday climb with some technical elements.

- Alaska Grade 4 : Multiday, moderately technical climb.

- Alaska Grade 5 : Multiday, highly technical climb.

- Alaska Grade 6 : Multiday, extremely technical climb.

Tanda plus (+) digunakan untuk tingat kesulitan lebih. Perlu di ingat pasa system ini kemungkinan tingkat kesulitan yg dimaksud adalah adanya pemanjatan pada salju atau glacier dan pada suhu dingin.

•  Alpine Grading System

Digunakan di New Zealand pada area pegunungan Alpine di sebelah selatan dan utara. Grading Gystem menggunakan open ended,dihitung berdasarkan Faktor penentu seperi : Techical Difficulty, Objective Danger, Length dan Access.

- Grade 1 – 3 : An easy scramble .

- Grade 4 – 6 : Technical climbing , must be able to place rock and ice gear quickly and efficiently. Often involves a long day.

-  Grade 7 : Vertical ice / rock dimana mungkin tidak ada cukup pengaman / proteksi.

* Ditulis ulang dari :
Laili Aidi. 2006.
DIKTAT PANJAT TEBING (Rock Climbing)“. Bandung : Badan Pendidikan dan Latihan ASTACALA (Tidak Diterbitkan)-


Daftar Pustaka :
ASTACALA. 2002. “Diktat Pendidikan Dasar Astacala”. Bandung : Badan Pendidikan dan Latihan ASTACALA (Tidak Diterbitkan)

GEGAMA. 2004. ”Materi Dasar Kepecintaalaman”. Yogyakarta : mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Geografi (Tidak diterbitkan)

Rizaldi, Ahmad dan Setyo Ramadi. ”Panjat Tebing”. URL http://www.mapalaui.com/.

WANADRI. 1996. “Diktat Pendidikan Dasar Wanadri”. Bandung : Badan Pendidikan dan Latihan WANADRI (Tidak Diterbitkan)

-. “Aneka Panjat Tebing”. URL http://www.tebingcadas.com

URL http://www.rockclimbing.com/


July 3rd, 2009

System Resi Gudang sebagai System Pembayaran Perdagangan

Posted in Uncategorized by sriyanto saminu

SISTEM RESI GUDANG
Warehouse Receipt System

Dean Novel, SE., MM
Sriyanto, SE., MM

LATAR BELAKANG
Fenomen globalisasi ekonomi dan liberalisasi perdagangan ditandai oleh semakin tajamnya tingkat persaingan antarperusahaan, antarindustri, bahkan antarnegara. Kemajuan teknologi dan globalisasi yang mencirikan kondisi ekonomi dunia saat ini dan masa-depan mendorong proses percepatan perubahan yang signifikan di lingkungan bisnis dan industri.
Perkembangan sektor primer (pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan dan pertambangan), sektor sekunder (industri pengolahan), dan tersier (jasa) dalam tatanan ekonomi Indonesia menunjukkan terjadinya peningkatan yang signifikan. Secara sistemik, teori ekonomi menalarkan bahwa sektor primer menyumbang percepatan perkembangan sektor sekunder, yang pada gilirannya diharapkan dapat memacu pertumbuhan sektor tersier. Namun demikian, realita menunjukan bahwa proses perkembangan antarsektor seringkali berjalan secara paradoks yaitu arah dorongan mengalami perubahan, yakni dari sektor tersier ke arah sektor sekunder.
Dalam hal ini sektor jasa secara berangsur-angsur menggantikan produk fisik sebagai keunggulan dari penawaran. Produk fisik masih tetap diperlukan, namun hanya sebagai salah-satu unsur dari berbagai unsur lainnya dalam paket yang ditawarkan. Kondisi tersebut akan menumbuhkembangkan industri jasa pergudangan. Hal ini ditandai oleh setiap perusahaan baik pada sektor primer maupun sekunder harus menyimpan produk akhir mereka sampai produk-produk tersebut terkonsumsi, karena siklus produksi dan konsumsi belum-sesuai. Fungsi penyimpanan membantu melancarkan kesenjangan antara produksi dan kuantitas yang diinginkan oleh pasar. Selain itu, komoditi yang tersimpan di dalam gudang dapat menjadi obyek jaminan pembiayaan dengan mekanisme collateral management.
Kehadiran Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 tentang Resi Gudang, memberi energi bagi Industri jasa pergudangan. Usaha jasa pergudangan memiliki potensi untuk berkembang dan menjadi keunggulan yang ditandai oleh kemampuan penguasaan manajemen dan teknologi pergudangan dalam menunjang sistem
persediaan dan distribusi. Karakteristik gudang terdiversifikasi pada gudang penyimpanan (storage warehouses) yang berfungsi sebagai media penyimpanan barang-barang untuk jangka waktu menengah sampai dengan jangka waktu panjang. Disamping itu, gudang distribusi (distribution warehouses) berfungsi sebagai media penerima barang-barang dari berbagai pabrik dan pemasok, dan memindahkannya dalam waktu-singkat sesuai dengan permintaan pasar.
Dalam konteks pemberdayaan dan pembinaan kepada pelaku industri kecil dan menengah yang di dalamnya terdapat petani dan buruh-tani, Resi Gudang merupakan salah-satu solusi untuk memperoleh pembiayaan dengan jaminan komoditi yang tersimpan di gudang. Komoditi hasil pertanian, perkebunan, kehutanan, sarana pertanian, pupuk dan pestisida, hasil kerajinan dan sebagainya.
Melalui Resi Gudang, akses untuk memperoleh pembiayaan dengan mekanisme yang sederhana dapat mereka (pelaku industri kecil dan menengah) peroleh. Kata kunci dari sistem Resi Gudang adalah warehouse ability (kelaikan gudang). Diharapkan dengan sistem Resi Gudang ini dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan para petani, serta jadual-tanam menjadi strategi.
Resi Gudang yaitu suatu tanda bukti penyimpanan komoditi yang dapat digunakan sebagai agunan kepada bank karena tanda bukti tersebut dijamin dengan adanya persediaan komoditi tertentu dalam suatu gudang yang dikelola perusahaan pergudangan (warehouse manager) secara profesional. Sistem ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu sistem pemasaran dan keuanga. Sistem ini telah mampu meningkatkan efisiensi sektor agro industri, baik ditingkat produsen maupun pedagang, mereka telah mampu merubah status persediaan bahan-mentah dan setengah-jadi menjadi suatu produk yang dapat diperjual-belikan. Hal ini dimungkinkan karena Resi Gudang merupakan instrumen keuangan yang dapat diperjual-belikan, dipertukarkan (swapped), digunakan sebagai agunan untuk memperoleh kredit dari bank, dan dapat diterima sebagai alat pembayaran dalam perdagangan derivatif seperti penyerahan barang di bursa berjangka.
Pengunaan Resi Gudang juga dapat mendorong berkembangnya sektor - sektor lainnya, antara lain :

• Sektor keuangan, karena memberikan suatu agunan yang likuid kepada kreditor.

• Industri jasa pergudangan,

• Industri sortasi dan inspeksi, karena diperlukannya pengawasan standar mutu bagi komoditi yang diagunkan agar dapat diterima oleh semua pihak yang melakukan transaksi.

• Sektor perdagangan, karena dapat digunakan sebagai dokumen bukti penyerahan barang sehingga meningkatkan efisiensi transaksi

• Bursa berjangka komoditi, karena dapat meningkatkan likuiditas Bursa dengan meningkatnya Resi Gudang yang dilindung nilaikan (hedge) sehingga kredit yang diberikan kreditor menjadi lebih terjamin.

Pada negara-negara maju, Resi Gudang merupakan bagian dari instrumen keuangan yang dapat digunakan dalam bernegosiasi. Instrumen ini merupakan alat yang dapat berperan dalam masa transisi dimana pemerintah mulai mengurangi perannya dalam kebijaksanaan stabilisasi harga dan pemasaran komoditi menuju perdagangan komoditi yang didasarkan kepada mekanisme pasar.
Sedangkan pada negara-negara berkembang, sistem ini kurang berkembang karena adanya berbagai hambatan, antara lain :

• Kurangnya insentif atau peluang bagi berkembangnya sistem pergudangan yang efisien yang diselenggarakan pihak swasta. Hal ini merupakan konsekuensi dari intervensi pemerintah dalam stabilisasi harga komoditi.

• Masih kurangnya aspek legalitas yang integratif yang mendukung Resi Gudang sebagai instrumen keuangan yang dapat diperdagangkan.

• Kurangnya pemahaman dari sektor - sektor komersial tentang Resi Gudang sebagai surat berharga yang dapat diperdagangkan.

• Fluktuasi tingkat bunga yang belum stabil, menyebabkan kurang menariknya sistem ini khususnya dukungan dari perbankan.

MODEL RESI GUDANG
Sistem Resi Gudang dapat dikelompokan dalam 3 (tiga) model yaitu :

1. Model Regulated Elevator Company
Perusahaan yang disebut elevator adalah kelompok Perusahaan yang terdiri dari pedagang palawija, perusahaan dagang, dan koperasi petani yang terdaftar pada dan diawasi oleh badan/lembaga pemerintah. Perusahaan tersebut diwajibkan memberikan pelayanan penyimpanan kepada umum, dan pemerintah menyediakan jasa atau menunjuk pihak swasta untuk melakukan inspeksi dan sortasi kualitas dan kuantitas dari barang yang disimpan di gudang. Untuk dapat ditunjuk sebagai perusahaan elevator, mereka harus memiliki keahlian yang professional di bidang pergudangan. Lembaga pengawas secara rutin melakukan inspeksi terhadap kegiatan mereka, dan kepada mereka diwajibkan untuk menyampaikan laporan audit secara teratur. Semua barang yang disimpan di gudang harus diasuransikan, dan setiap penerbitan Resi Gudang harus dijamin melalui penerbitan ‘insurance bond’. Perusahaan tersebut juga wajib ikut serta dalam pembentukan skema dana ganti-rugi (indemnity fund), yang selanjutnya digunakan untuk menjamin kreditor jika terjadi wanprestasi oleh anggotanya.
Model ini memiliki keunggulan financial dan praktis dibandingkan model lainnya. Selain karena perusahaan dagang mempunyai jalur distribusi yang luas sehingga dapat meliput wilayah geografis yang luas, model ini juga dapat meningkatkan turn-over perusahaan dan meningkatkan keuntungan. Pergudangan yang didirikan di petani untuk dapat memperoleh jaminan bagi komoditi mereka bila disimpan di gudang, dan memberikan jasa pemasaran.

2. Model General Warehousing
Kelompok ini merupakan pergudangan umum, dimana operatornya menerima penyimpanan produk dan berbagai komoditi lain. Mereka umumnya memberikan jasa-jasa tambahan seperti transportasi, namun tidak melibatkan diri di bidang perdagangan karena dapat menimbulkan pertentangan

kepentingan. Pergudangan seperti ini juga melibatkan diri dalam pengembangan pergudangan di lapangan (field warehousing), dengan memberikan jasa manajemen kepada gudang-gudang milik petani, pedagang, dan industri manufaktur, dan mengeluarkan Resi Gudang yang dapat dijadikan sebagai alat untuk memperoleh pinjaman dari bank.
Meskipun sistem ini tidak banyak menuntut peran pemerintah, tetapi karena operator gudangnya banyak yang kurang memiliki keahlian maka sering terjadi wanprestasi yang merugikan pihak kreditor.

3. Model Private Trader
Di negara yang belum memiliki ketentuan perundang-undangan tentang pergudangan mungkin saja terdapat jasa pergudangan yang dapat memberikan fasilitas seperti yang diberikan perusahaan elevator. Jasa ini hanya dapat diberikan oleh perusahaan-perusahaan besar seperti perusahaan multi-nasional yang memiliki credit-rating yang tinggi atau yang favorable saja, sehingga umumnya nama merekalah yang akan menjadi jaminan bagi para kreditor. Pemerintah dalam hal ini dapat mendorong para pengusaha besar untuk memberikan pelayanan pergudangan berdasarkan model ini.
Model ini dapat berkembang meskipun ketentuan yang mengatur penerbitan Resi Gudang belum ada. Selain itu, dalam sistem ini tidak diperlukan check and balance untuk melindungi para kreditor.

MODEL SISTEM RESI GUDANG YANG DIKEMBANGKAN DI INDONESIA
Untuk mendapatkan penjaminan pembiayaan, dikembangkan Resi Gudang Bergaransi yang didefinisikan sebagai bukti penyimpanan komoditas yang diagunkan yang telah diregistrasi oleh Lembaga Penjamin Penyelesaiaan untuk memperoleh penjaminan pembiayaan atas transaksi-transaksi impor/ekspor/beli-kembali dimana.agunan tersebut dikelola oleh Pengelola Gudang/Agunan dan pelunasan kewajiban dijamin dari penjualan komoditas fisik. Skema pemanfaatan Resi Gudang Bergaransi dapat dilihat dalam skema di bawah ini.
Untuk dapat memanfaatkan skema ini, para produsen termasuk petani, kelompok tani, prosesor, dan eksportir yang selanjutnya menyimpan komoditas mereka di Perusahaan Pergudangan yang mengeluarkan Resi Gudang. Resi Gudang tersebut diregistrasi oleh Lembaga Penjamin Penyelesaian yang kemudian menerbitkan Resi Gudang Bergaransi yang selanjutnya dapat digunakan sebagai agunan pembiayaan atau diperdagangkan.

PERSYARATAN RESI GUDANG BERGARANSI
Agar Sistem Resi Gudang Bergaransi dapat dijalankan, beberapa persyaratan yang harus dapat dipenuhi antara lain :

a. Aspek Legal

o Diperlukan aspek hukum yang integral (lintas-instansi) yang mendukung Resi Gudang yang dapat didayagunakan sebagai agunan untuk memperoleh pembiayaan dari Perbankan atau kreditur dan juga dapat diperdagangkan

o Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2006 tentang Resi Gudang, mengatur badan pengawas, penjamin (clearing), pengelola agunan/pergudangan, bank, lembaga surveyor, dan asuransi).

o Semua hak dan kewajiban pihak-pihak terkait dalam operasional suatu Resi Gudang (petani, kelompok tani, eksportir, prosesor, pengelola agunan/pergudangan, penjaminan, asuransi, perusahaan sertifikasi dan perbankan) harus didefinisikan secara jelas.

o Apabila terjadi default atau cidera janji, maka harus ada kepastian hukum tertentu (dalam kontrak kerjasama) bahwa penjamin dan pemegang Resi Gudang Bergaransi terakhir memperoleh prioritas penerimaan hasil likuidasi komoditas yang digunakan sebagai agunan.

o Lembaga penjamin melakukan registrasi atas setiap Resi Gudang yang diterimanya dan menerbitkan Resi Gudang Bergaransi yang selanjutnya dapat digunakan sebagai agunan pembiayaan atau diperdagangkan. Lembaga Penjamin juga melakukan pengelolaan resiko terhadap fluktuasi harga komoditas dan jatuh tempo sertifikat mutu komoditas atau Resi Gudang yang bersangkutan.

o Apabila terjadi default atau cidera janji Lembaga Penjamin Penyelesaian sebagai counterparty menanggulangi penyelesaian kewajiban kepada bank/kreditur dari hasil penjualan fisik komoditas.

b. Aspek Operasional

o Pihak Pengelola Agunan/Gudang yang mampu mengelola pergudangan dengan profesional dan memenuhi standar international sehingga komoditas yang disimpan tidak berubah mutunya pada saat jatuh tempo Resi Gudang

o Diperlukan Lembaga Sertifikasi independen yang melakukan sertifikasi, verifikasi dan inspeksi atas kuantitas dan kualitas komoditas yang disimpan di gudang.

o Diperlukan adanya institusi independen yang berkaitan dengan asuransi, verifikasi dan inspeksi atas kuantitas dan kualitas produk yang disimpan di gudang.

o Diperlukan Lembaga Asuransi yang memiliki produk khusus tentang Risiko Resi Gudang untuk melindungi resiko umum seperti kebanjiran, perampokan/pencurian, huru-hara, kebakaran dan juga resiko yang diakibatkan petugas internal Pengelola Gudang yang berkaitan dengan fidelity dan moral hazard.

o Diperlukan dukungan sistem teknologi informasi yang terintergrasi antara Pengelola Gudang, Bank/Kreditur dan Lembaga Penjamin Penyelesaian.

c. Integritas Sistem

o Adanya jaminan bahwa kuantitas produk yang disimpan di gudang sama dengan yang tertera pada Resi Gudang dan kualitasnya sama atau lebih baik daripada yang dipersyaratkan. Selain itu ada jaminan penyelesaiaan transaksi pada saat Resi Gudang Bergaransi tersebut jatuh tempo sehingga ada kepastian para pihak untuk memperoleh hak setelah memenuhi kewajibannya. Hal ini merupakan prasyarat agar sistem ini dapat diterima para pelaku bisnis dan kalangan perbankan sebagai suatu dokumen yang dapat diperdagangkan. Tanpa adanya jaminan ini maka pihak-pihak terkait akan ragu menggunakan Resi Gudang sebagai agunan.

o Adanya dana jaminan dan dana agunan yang disesuaikan secara harian yang dihimpun dari para pelaku pasar. Dana-dana tersebut digunakan apabila terjadi gagal bayar/gagal serah. Apabila dana jaminan dan dana agunan tersebut digunakan akan mengurangi biaya bunga pinjaman pada bank.

MANFAAT SISTEM RESI GUDANG

a. Memperpanjang masa penjualan hasil produksi petani.
Petani yang menyerahkan hasil panennya ke perusahaan pergudangan yang berhak mengeluarkan Resi Gudang, akan menerima tanda bukti berupa Resi Gudang, yang dapat dijadikan sebagai agunan untuk memperoleh pinjaman jangka pendek di bank. Dengan demikian, para petani tidak perlu tergesa - gesa menjual hasilnya pada masa panen yang umumnya ditandai dengan turunnya harga komoditas. Hal ini dilakukan petani, yang berkeyakinan bahwa harga setelah panen akan naik, sehingga dengan menunda penjualan justru akan memberikan hasil yang optimal bagi petani.
Pemegang Resi Gudang dapat memperoleh sumber kredit dari bank untuk digunakan sebagai modal kerja seperti pembelian bibit, pupuk dan keperluan lainnya. Tingkat bunga pinjaman selalu dikaitkan dengan tingkat resiko dari agunan yang diberikan. Untuk itu, jaminan dari Resi Gudang atas jumlah, kualitas, dan ketepatan waktu penyerahan barang akan dapat mengurangi tingkat resiko yang dihadapi komoditi, dengan demikian tingkat bunga pinjaman dengan agunan Resi Gudang dapat lebih rendah.

b. Sebagai agunan bank.
Sebagai agunan bank, karena memberikan jaminan adanya persediaan komoditi dengan kualitas tertentu kepada pemegangnya tanpa harus melakukan pengujian secara fisik. Resi Gudang dapat dimanfaatkan petani untuk pembiayaan produknya, sedangkan bagi produsen untuk membiayai persediaanya. Bila terjadi penyimpangan dalam sistem ini, para pemegang Resi Gudang dijamin akan memperoleh prioritas dalam penggantian sesuai dengan nilai agunnya. Terkumpulnya persediaan komoditi dalam jumlah besar akan mempermudah memperoleh kredit dan menurunkan biaya untuk memobilisasi sektor agrobisnis.

c. Mewujudkan pasar fisik dan pasar berjangka yang lebih kompetitif.
Resi Gudang memberikan informasi yang diperlukan penjual dan pembeli dalam melakukan transaksi, yang merupakan dasar untuk melakukan perdagangan komoditi secara luas. Keberadaan Resi Gudang dapat meningkatkan volume perdagangan sehingga dapat menurunkan biaya transaksi. Hal ini dimungkinkan karena dalam bertransaksi tidak perlu lagi dilakukan inspeksi terhadap barang yang disimpan, baik yang ada di gudang atau di tempat transaksi. Di negara - negara yang telah menerapkan sistem ini transaksi umumnya hampir tidak pernah lagi dilakukan di gudang. Bila transaksi dilakukan untuk penyerahan barang dikemudian hari (perdagangan berjangka), Resi Gudang dapat dijadikan sebagai instrumen untuk memenuhi penyerahan komoditas bagi kontrak berjangka di Bursa Komoditi yang jatuh-tempo atau lelang spot komoditi.

d. Mengurangi peran pemerintah dalam stabilisasi harga di bidang komoditi.
Bila harga komoditi strategi berada dibawah harga dasar, maka pemerintah dapat membeli Resi Gudang, sehingga tidak perlu lagi menerima penyerahan barang secara fisik. Karena adanya jaminan kualitas dan kuantitas komoditi di gudang - gudang penyimpanan maka Pemerintah dalam rangka pengelolaan cadangan strategis cukup memegang Resi Gudang saja. Bila swasta melakukan pembelian, penyimpanan, dan penjualan komoditi melalui mekanisme Resi Gudang dalam jumlah yang besar dan sekaligus melakukan lindung nilai di pasar berjangka, maka peran pemerintah dalam stabilisasi harga dapat dihapuskan.

e. Memberikan kepastian nilai minimum dari komoditi yang dijadikan agunan.
Karena sifat komoditi primer yang cepat rusak dan standar kualitasnya berbeda- beda maka tanpa adanya Resi Gudang dan lindung nilai, bank - bank umumnya akan memberikan kredit sebesar 50-60% dari nilai agunan.
Bank dapat memberikan kredit yang lebih besar kepada peminjam yang melakukan lindung nilai (hedging) untuk komoditi yang dipinjamkannya (sampai dengan 80-90 % dari nilai agunan).

PENGEMBANGAN SISTEM RESI GUDANG DI INDONESIA

1. Sistem ini sebelumnya sudah digunakan melalui Warehouse Receipt Financing pada PT. Sucofindo sebagai collateral manager, eksportir Indonesia memperoleh kredit dari bank asing dengan agunan komoditas. Upaya yang dilakukan adalah agar bank dalam negeri dapat berperan dalam skema Resi Gudang.

2. Sejalan dengan kondisi diatas, pada bulan Maret 2003 telah diluncurkan percontohan Sistem Resi Gudang di Makasar melalui perjanjian tiga pihak yaitu Bank Niaga, eksportir kakao dan PT. Bhanda Ghara Reksa (pengelola agunan). Komoditas yang masuk dalam percontohan Resi Gudang adalah kakao di Makasar dan kopi dan lada di Bandar Lampung.

3. Selain itu, selama perioda tahun 2005, PT. Pasar Komoditi Indonesia (PASKINDO) telah menerapkan sistem Resi Gudang kepada Kelompok Tani Patra Mekar di Indramayu, Jawa Barat dan Pedagang Beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) dengan komoditi Gabah Kering Simpan dan Beras. Pada saat pelaksanaan sistem tersebut, PASKINDO didampingi oleh PT. (Persero) Kliring Berjangka Indonesia sebagai clearing and guarantee.
4. Tahun 2006, PT. PASKINDO dipercaya untuk membantu penyaluran dana Resi Gudang dari Kementerian Koperasi dan UKM R.I., melalui PT. (Persero) Kliring Berjangka Indonesia kepada para Kelompok Tani, Koperasi dan industri kecil.

SIMPULAN

a. Pemberdayaan ekonomi rakyat melalui sistem Resi Gudang.

b. Resi Gudang merupakan alternatif yang dapat membuat komoditi yang dihasilkan petani yang tersimpan di dalam gudang menjadi agunan/jaminan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi untuk memperoleh pembiayaan.

c. Resi Gudang merupakan instrumen keuangan dan alat pemasaran bagi petani maupun kalangan bisnis, dengan penekanan pada time utility untuk menjual komoditi yang tersimpan di dalam gudang sebagai obyek Resi Gudang. Dengan demikian petani dapat meningkatkan pendapatannya dan pemerintah dapat mengurangi keterlibatannya dalam stabilisasi harga di tingkat petani.

d. Sistem Resi Gudang yang telah digunakan di banyak negara dapat dikelompokkan dalam 3 model. Di Indonesia akan mengembangkan model resi gudang bergaransi.

e. Berdasarkan pengalaman di beberapa negara yang telah memanfaatkan Resi Gudang, agar sistem ini dapat dijalankan dengan efisien harus dipenuhi beberapa aspek yaitu :

• Adanya ketentuan hukum yang jelas (Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri dan Peraturan Kepala Daerah) yang dipatuhi sehingga hak pemegang Resi Gudang dapat terjamin.

• Adanya performance guarantee.

• Adanya sistem inspeksi dan sertifikasi yang diakui.

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.