jump to navigation

Saatnya unjuk gigi atau unjuk bibir ? June 9, 2007

Posted by aan in : Lifestyle , trackback

Ngerasa ikan salmonKalau Tukul, gara-gara unjuk bibir-nya, berhasil menjadi entertainer paling top saat ini. Di beberapa media mengungkap penghasilan si wong ndeso itu, tidak kurang dari 30 juta rupiah per episode acara yang dibawakannya. Padahal oleh media pula, tercatat penampilan silent please ini nyaris tujuh hari dalam seminggu. Dapat dihitung pertambahan saldo rekening-nya dalam seminggu, sebulan atau setahun, dengan asumsi ketenarannya berlangsung panjang.

Yang unik, ada yang bilang lajunya ketenaran Tukul, salah satunya disebabkan oleh tokoh tenar lainnya sedang unjuk nyungsep, alias kehilangan masa ketenarannya. Ada yang menyebut, akibat evolusi menurunnya ketenaran Inul, sang ratu ngebor. Ada juga yang menyindir revolusi hilangnya kepopuleran sang dai kondang, Aa’ Gym. Fans kedua tokoh beda aliran ini yang mungkin sama-sama kehilangan sosok ‘panutan’ dan beralih ke sosok yang ‘netral’ saja, tidak penuh kontroversi, juga tidak terlalu suci.

Jadilah unjuk bibir sang penyobek mulut, begitu digilai pemirsa tv.

Di dunia yang lebih nyata, keahlian Tukul unjuk bibir mungkin hanya bisa ditiru dengan unjuk gigi. Maksudnya bukan seperti omas atau pelawak-nya TPI, yang betul-betul giginya maju. Bukan pula unjuk gigi, menunjukkan kemampuan atau prestasi yang mengagumkan. Lebih pada konotasi unjuk gigi yang berarti menonjolkan dirinya dihadapan orang lain.

Inilah yang sepertinya begitu terasa oleh seorang teman, dilingkungan pekerjaannya. Entah mengapa, seperti curhatnya disuatu sore, tempatnya sekarang seperti musim iklan diri. Setiap orang berusaha mengumumkan ke khalayak ramai, bahwasanya betapa penting dirinya. Kalau tidak pada khalayak ramai, ya pada bos, baik little boss atau big boss. Yang penting, bagaimana orang tau bahwa dirinya yang paling top, paling pintar, paling jenius. Kalau memang keunggulan dirinya itu betul-betul nyata, sepertinya tidak perlu pengumuman, semua orang sudah mengakui. Ketakutannya mungkin, tidak banyak orang yang tau, jadi, perlu pakai pengumuman.

Pernah denger joke ringan, “Sebetulnya kamu itu orang yang keren, pintar dan baik hati. ?”, Yang dipuji tentu bangga diakui seperti itu. “Tapi sayangnya, tidak ada yang tahu..” Hehe.. jadinya kepintaran, kecakapannya, cuma berlaku limited, gak go public.

Sepertinya pula semua orang begitu bangga dengan label. Terhadap apa yang telah dilakukannya kemudian menjadikan orang memberikan label ‘terhebat’ pada dirinya. Serta merta apa yang dilakukannya menjadi tidak penting. Yang penting label itu telah didapatkan.

Mengoceh tak karuan yang seolah-olah dia sangat ahli terhadap permasalahan, juga jadi sekedar lelucon, kalau akhirnya dia memang cuma berharap orang jadi mengangguk-angguk kagum. Padahal, orang yang mendengar dan mengetahui permasalahan, jadinya betul-betul mentertawakan dirinya, tentu dalam hati.

Belum lagi kalau demi menaikkan harga diri sendiri, orang tega untuk menurunkan harga diri orang lain. Memperlakukan semua orang dibawah kendalinya. Menganggap dirinyalah yang lebih pantas dijadikan superhero dibanding Spiderman. Padahal sebetulnya manjat tangga pun dia sudah tak kuasa, apalagi manjat dinding gedung yang tinggi. Yang lebih gawat semakin lama nuraninya semakin buta siapa lawan siapa kawan.

Masih mending aksi Essien membabat kaki Ronaldo, saat penyerang MU itu sudah menjelang di kotak penalti Chelsea. Lawan tumbang, meski konsekuensinya MU dapat tendangan bebas yang besar kemungkinan terciptanya gol.
Yang membabat bek Chelsea. Yang dibabat pemain MU.

Tapi dapatkah anda bayangkan kalau yang membabat Ronaldo justru Rooney ? Sesama pemain MU. Tapi karena masih menyimpan dendam dan hasrat ingin menjadi satu-satunya bintang MU, Rooney tega melakukannya. Meskipun selama ini Ronaldo justru paling sering memberikan assist padanya untuk mencetak gol.
Yang membabat pemain MU. Yang dibabat pemain MU juga.
Seandainya itu betul-betul terjadi panggilan apa yang pantas diberikan pada Rooney ?

Begitulah, simpati dari orang lain begitu berarti dibanding prestasi dan kelakuan. Tak masalah jadi Robin Hood yang sangat harum namanya, tapi dibelakang ternyata seorang pencuri.

Dilain pihak apakah salah seandainya seseorang betul-betul hebat dan berprestasi, berusaha meminta apresiasi ? Minimnya apresiasi bisa jadi memang menjadikan orang yang betul-betul berprestasi jadi harus pintar-pintar bawa diri. Apalagi kalau melihat orang yang biasa-biasa saja, tapi pintar menampilkan muka liciknya (kok istilah cari muka rasanya gak pas ya, muka kok dicari) terus bisa pilih-pilih kata, bisa jadi top atau dipuji-puji, terutama di hadapan bos.

Sehingga yang betul-betul hebat tadi akhirnya terjun juga kedalam persaingan mengejar label diri. Mungkin yang terpikir, yang tidak punya modal aja bisa unjuk gigi, kenapa pemodal seperti saya tidak.

So, label diri harus mengkilat, harus dijaga dan harus diketahui orang lain. Mengejar itu para penggila hormat jadinya berjiwa sportif. Sesuai dengan motto olahragawan. Jadilah yang terdepan, tercepat dan tertinggi.

Kalau ada sesuatu yang baru, segeralah akui bahwa itulah anda. Kalau keduluan orang lain, akuilah bahwa itu adalah ide anda. Kalau keduluan orang lain lagi, akuilah bahwa itu sudah anda ketahui sebelumnya. Kalau itupun keduluan orang lain lagi, akuilah bahwa anda sudah memikirannya. Itupun keduluan lagi? Vonis-lah sesuatu yang baru itu pastilah yang buruk dan menjijikkan, sehingga terlintas saja tidak dibenak anda.

Setidaknya dua label anda dapatkan, anda begitu suci, dan orang lain begitu hina.

Menyedihkan sekaligus menggelikan. Mungkin jadilah penonton yang baik, seperti yang disarankan buat teman saya itu.
Dari setiap celoteh yang terdengar kiri kanan atas bawah, semakin kita tau siapa-siapa orang-orang ini sebenarnya.

Dalam hati mungkin cukup berkata, “Mau unjuk gigi apa unjuk bibir ? Dasar katro!”.
Peace.

Comments»

1. bhermana - June 11, 2007

Saya pernah mendapatkan pelajaran Agama ketika masih kecil, mungkin di SD atau SMP. Setiap Ayat atau Surat itu ada “Asbabun Nuzul”-nya, atau ada sebab-musababnya mengapa ayat atau surat tersebut diturunkan oleh Allah Swt. Secara eksplisit- dalam konteks yang berbeda dan hanya sebuah analogi saja, hal itulah yang tersirat dan tersurat dalam tulisan Om Aan ini….:D. Sebuah curahan hati yang layak jadi bahan renungan. Bukan begitu Om? :)

2. akbar - June 11, 2007

ini baru blog!!

3. aan - June 11, 2007

@bhermana:
:) Sip bos, artinya yang perlu direnungkan adalah ‘Asbabun Nuzul’ dari curahan hati teman saya itu kan pak ?

@akbar:
:D makssuuddnyaaa…

4. Ruddy - June 12, 2007

hehehe…teman yang mana nih ?

5. aan - June 14, 2007

@ruddy:
sahabat dari teman dekatnya kawanku coy.. :p yuuk, mari..

6. ruddyjs - June 16, 2007

yuuukkkk…mari …. berarti itu sahabat turunan ke tiga ?? :D


*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.