jump to navigation

Don’t sweat small thing in Love April 24, 2007

Posted by aan in : Lifestyle , trackback

Don't sweat small thing in LoveWaktu di antrian kasir Gramed Blok M, iseng ngeliat buku putih yang dijudulnya ada kata love, dengan o diganti gambar buah strawbery. Yang menarik, pertama sih ngeliat design simple cover-nya. Warna dasar putih dengan judul gede, warna item dan merah..
Trus, yang menarik kedua adalah berusaha ngertiin maksudnya apa tuh judul (hehe, ini mah bukan daya tarik).

Untung di bawahnya ada artinya, ‘jangan meributkan masalah kecil dengan pasangan anda’. Hmm.. sedikit minat, baca sedikit sinopsis-nya dicover belakang. O, ternyata isinya kiat-kiat gimana caranya menjaga agar hubungan dengan pasangan tetap ok, gimana caranya mencegah pertengkaran kecil biar gak jadi berantem beneran (hueg!) dan kiat-kiat sejenis..

Antrian semakin maju, sebentar lagi giliranku menghadap kasir. Ditanganku padahal udah ada beberapa item, beberapa buku plus cd seri harunyahya, yang dari dulu pengen aku beli.
Buku gak sengaja keliat tadi, gak termasuk rencana buat dibeli. Aku masih baca sekilas, bolak-balik, eh giliranku udah semakin dekat. Sejurus kemudian aku udah depan kasir. Gak sempat lagi buat ngembaliin buku iseng tadi ke tempat asalnya. Dan yah, jadinya ku beli aja, meski gak tau apakah isinya lebih menarik dibanding trik-trik photoshop.. ;)

Hingga sekarang, ternyata buku gak sengaja itu yang paling banyak menyita perhatianku dibanding buku lainnya, apalagi nonton cd yang ngebet pengen aku liat kemaren. Sebetulnya aku gak terlalu suka buku. Tapi awal yang bikin gak suka bisa dilewati di buku itu. Selanjutnya aku seakan bercermin dengan apa-apa yang diungkapin di buku tadi. Si Penulis adalah Richard Carlson, Ph.D dan Kristine Carlson, sepasang suami isteri dari Northren California. Kayaknya memang buku best seller, ditanganku tuh buku dari cetakan kelima. Di pendahuluan pasutri penulis tadi bilang, sungguh menarik mengamati cara kebanyakan orang menghadapi masalah yang benar-benar besar. Anda mungkin sependapat bahwa kebanyakan orang menghadapi masalah-masalah besar dalam hidup mereka dengan berani, kreatif dan penuh harga diri. Namun, masalah-masalah itu cuma kadang-kadang terjadi, dan selang waktunya pun berjauhan. Anehnya, kebanyakan orang lebih siap menghadapi masalah besar daripada masalah kecil sehari-hari.

Kenyatannya memang, waktu kita habis untuk menghadapi masalah-masalah kecil yang terjadi setiap hari, setiap saat, bisa spt waktu macet, telfon yang gak dijawab (ato sms yang gak dibales? :), intonasi omongan, barang hilang, waktu untuk menunggu dan 1001 masalah kecil lainnya.

Diam sejenak. Aku pikir-pikir dulu. Hehe, bahkan aku tertawa sendiri, kalo’ baca sekian daftar isi dari kiat-kiat di buku itu.
Kadang memang ada suatu kejadian yang aku gak tau mendefinisikan, dan dibuku itu diceritakan dengan gampang. Misalnya aku gak tau kenapa tiba-tiba lagi asik ngobrol dengan seseorang, suasana jadi berubah gara-gara nada bicaranya terdengar tinggi atau dia salah menyebutkan sesuatu. Konyol memang, aku yang dengan serta merta ‘terprovokasi’ dan memprotesnya. Hey boy, come on ! Cuma segitu doang tuh bisa bikin aku mengajukan gugatan, dan selanjutnya tentu saja suasana jadi gak asik lagi.. Nah, itu namanya apa ? Aku yang sensitif ? Cepat mengambil kesimpulan ? Atau memang menganggap kasus sejenis adalah masalah besar yang patut diselesaikan..

Sederhana, kecil, the small stuff.. Tapi kadang cukup sulit untuk mengatasinya.

Dari sekian kiat yang ditulis, kiat pertama yang sangat aku setujuin –untuk jadi yang pertama dan utama ;)-, yaitu ‘menjadi sahabat yang baik’. Kata mereka (si penulis ituh), jika kita bisa memposisikan kita dan pasangan menjadi dua sahabat, maka hubungan itu akan menjadi lebih mudah. Dua sahabat selalu saling mendukung. Mereka sabar, baik hati dan bersedia memahami kekurangan sahabatnya. Sahabat adalah komunikator yang hebat dan biasanya juga adalah pendengar yang baik. Bila perlu mereka bisa bersikap serius, tapi juga enak diajak bercanda dan tertawa. Mereka mensyukuri saat-saat bersama yang menyenangkan dan menjadi pendamping setia di saat-saat sulit. Jadi saat kita rentan berada dalam keadaan yang menuju gak asik, bertanyalah pada diri sendiri, ‘Seandainya dia sahabatku, bagaimana sikapkus seharusnya..’

Aha ? Ada yang setuju ? ;)
Dan, seperti biasa, kalimat klasiknya adalah teori jauh lebih gampang dibanding prakteknya..
Satu persatu kiat itu mencoba mengoreksi sikapku, akankah berhasil ?

[Re-post from old version blog ;)]

Comments»

1. eri - April 26, 2007

pinjem dong bukunya

2. Esmi - May 14, 2007

penerbitnya mana, tahun terbit?


*
Untuk membuktikan bahwa anda bukan spam engine, mohon ketikkan kata2 disamping ini pada kolom dibawah ini.
Anti-Spam Image

Cannot create QuickStats table. Database user does not have CREATE priviledge.